Gayo Coffee Itu Adalah Kopi “Dunia”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 3 Februari 2017 | 10:21 WIB

Dibaca: 7 kali

Gayo Mountain Coffee?

Ya. Siapa yang tak mengenalnya di dunia “perkopian” global.

Gayo coffee, begitu ia disapa di kalangan komunitas dunia,  dicatatkan oleh banyak literatur sebagai varietas kopi arabika’

Ia  menjadi salah satu  unggulan  kopi yang berasal dari Dataran tinggi Gayo

Kopi Gayo juga  telah mendapat Fair Trade Certified dari Organisasi Internasional Fair Trade pada sejak tujuh tahun silam

Selain itu kopi Arabika Gayo  pernah pul  memperoleh peringkat tertinggi saat cupping score

Sertifikasi dan prestasi tersebut kian memantapkan posisi Kopi Gayo sebagai Kopi Organik terbaik di dunia

Kopi Gayi memiliki sejarah panjang untuk bisa tampil di pentas dunia.

Sejarah panjang yang  lebih  dari seratus tahun.

terutama sejak dikembang pertama kaliny di  tahun 1908 varietas ini  tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan sebagian kecil wilayah Gayo Lues.

Ketiga daerah yang berada di ketinggian seribu dua ratus meter di atas permukaan laut

Sebagian besarmasyarakat Gayo berprofesi sebagai petani kopi dengan dominasi varietas Arabika.

Produksi kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia.

Kehadiran kekuasaan Belanda di Tanah Gayo  serta merta diikuti pula dengan hadirnya pendatang-pendatang lain menjadikan usaha kopi ini sebagai onder afdeeling Nordkus Atjeh

Sebelum kopi hadir di Dataran tinggi Gayo, tanaman teh dan lada telah lebih dulu diperkenalkan.

Menurut ahli pertanian Belanda JH Heyl dalam bukunya berjudul Pepercultuur in Atjeh menerangkan asalnya tanaman lada dibawa dari Mandagaskar

Sayangnya kedua tanaman itu kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah kolonial.

Pada akhirnya Belanda kemudian memperkenalkan dan membuka perkebunan kopi pertama seluas seratus hektar di kawasan Belang Gele, yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

Selain dibukanya lahan perkebunan, di tahun dua tahun kemduian  muncul kampung baru masyarakat Gayo di sekitar perkebunan kopi Belanda itu,

Kopi arabika dari dataran Tinggi Gayo, telah dikenal dunia karena memiliki citarasa khas dengan ciri utama antara lain aroma dan perisa yang kompleks dan kekentalan yang kuat.

International Conference on Coffee Science, Bali, Oktober tujuh tahun lalu menominasikan kopi Dataran Tinggi Gayo ini sebagai the Best No 1, dibanding kopi arabika yang berasal dari tempat lain.

Kopi Gayo cukup terkenal di dunia karena memiliki aroma dan kenikmatan yang khas dan jika di cupping atau di test rasa dan aroma di daerah gayo hampir memiliki cita rasa kopi yang ada di seluruh dunia

Ini disebabkan oleh faktor ketinggian dan beberapa aspek lain yang menjadikan kopi gayo terbaik, ini dibuktikan dengan beberapa kali kopi gayo meraih penghargaan sebagai kopi terbaik dunia.

Meski terjadi krisis di Eropa, tak mengurangi permintaan kopi asal dataran tinggi Tanah Gayo di pasar dunia.

Kopi dari daerah gayo juga merupakan kopi termahal di dunia ini terbukti pada saat pameran kopi dunia yang diselenggarakan organisasi Specialty Coffee Association of America (SCAA) di Portland, Oregon Convention Center, Amerika Serikat.

Kini pengolahan kopi gayo telah berkembang sesuai dengan standar global.

Dan kopi gayo juga mengalami hal yang sama untuk meningkatkan kualitas dan cita rasanya.

Terdapat beberapa cara memproses kopi yang berkembang hingga saat ini.

Seperti fully washes, semi wash dan honey.

Fully washes sama dengan gabah shocking atau fragmentasi dengan air bersih dalam jangka waktu tertentu

Sementara semi washes yang saat ini dipakai di Gayo dengan fragmentasi menggunakan media karung dan bak dimaknai juga fragmentasi tank.

Cara ini memakan waktu delapan sampai sepuluh jam. Setelah itu dicuci bersih untuk kemudian dijemur.

Prosesnya kemudian dilanjutkan dengan huller atau direbus untuk memisahkan cangkang atau kulit tanduk dari biji kopi.

Kemudian dijemur kembali hingga kadar air mencapai dua belas hingga tiga belas persen.

Berikutnya adalah honey process, yaitu dengan pemilihan cherry merah yang kemudian pelepasan kulit merah dari biji kopi.

Gabah yang masih berlendir dijemur sampai kadar air sebelas  hingga dua belas persen.

Setelah itu dilakukan proses pelepasan kulit cangkang

Proses ini akrab disebut dry hull.

Proses selanjutnya dikenal dengan natural process atau sun dried. Pengolahan ini dilakukan dengan cara pemilihan petik merah dan langsung dijemur.

Kemudian cherry merah yang sudah mencapai kadar air tersebut di-huller atau direbus.

Pada saat ini kopi dengan natural process berkembang dan digemari oleh konsumen kopi di Asia, termasuk Indonesia.

Proses ini membuat profil kopi lebih kaya dengan cita rasanya, baik dalam cita rasa yang positif maupun negatif.

Meski demikian, untuk menjaga kualitas rasa, maka diperlukan kontrol yang lebih dalam mengolah kopi baik dengan proses fully washes, semi wash maupun honey process dan natural process.

Fully wash process lebih dikenal di negara Amerika dan Eropa, sementara produsen kopi di negara-negara Afrika lebih mengenal dried process atau natural process.

 

Komentar