Pulot Panggang Lambaro

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 19 Januari 2013 | 15:46 WIB

Dibaca: 6 kali

PULOT  panggang, sebagai penganan khas daerah seuramo ini,  di dekade terakhir sedang dihimpit oleh ketenaran mi dan ekspresso  “starblack.”  Padahal perjalanan  pulot panggang sebagai kuliner  Aceh  jauh melebihi  masa eksistensi mie maupun “starblack” yang dilabeli dengan solong, keude  atau pun taufik yang berujung dengan nama moderen “cafe.”

Pulot panggang memang sedang jatuh pamor di cafe modern yang kini tumbuh bak kecambah di Banda Aceh dan kota kabupaten lainnya. Penganan ini menjadi pilihan kedua untuk menemani seruput kupi pancung atau pun  menjadi hidangan pelengkap bagi ekspresso di dapu kupi, solong cafe mau pun taufik cafe.

Pulot panggang kini menjadi kue marjinal.  Kue ini terpinggirkan menghuni lapak lapak   di selangkah seulawah,  cot geuleungkeuh atau pun lapak-lapak pinggir jalan di Pidie hingga ke Langsa dan dipasangkan dengan minuman “ie teube.”  Tapi jangan pernah berpikir ia akan tersungkur lantas tamat.

Pulot panggang akan tetap eksis. Seperti di katakan Irfan, pengamat perkembangan penganan Aceh yang pernah menulis daftar kue khas negeri ini, dan ia pastikan tetap  menjadi nomor satu di keudu-keude kupi di lorong-lorong pasar kumuh dan setengah kumuh mulai dari Lambaro, Indrapuri, Seulimeum,  Saree,  Grong-grong maupun Panton Labu. Ia akan tetap menjadi teman abadi kupi pancung.

Tak percaya? Datangilah keude kupi tak bernama di kelokan jalan menuju Lambaro, Aceh Besar, persisnya di kawasan instalasi PAM Tirta Daroy. Kalau dari arah Banda Aceh ia terletak di sebelah kanan dan kita harus memutar di Pasar Lambaro. Keude kupinya sangat sederhana. Berdinding kayu, berlantai semen dan disinggahi oleh pelanggan yang sangat setia.

Jangan lirik lemari kuenya. Tak ditemukan pulot panggang di sana. Tanyakan saja langsung  kepada Gani pengelolanya, “peu na pulot panggang?” Biasanya, kue ini di tempat di meja kasir di dalam bekas kota mie instan. Kalau tersedia Gani akan menghidangkannya secara khusus. Tidak dicampur dengan kue lainnya.

Bagi pelanggan tetap tak perlu bertanya untuk memastikan ada tidaknya stok pulot panggang di keude kupi itu. Tebaran baunya, dari daun pisang yang dipanggang dan ketan kukus yang digelimangi santan serta ditambah gula dan garam, sudah hingga di lobang hidung.

Pulot panggang Lambaro, seperti dikatakan Gani telah menerabas ketenarannya hingga ke Jakarta, Medan dan tempat lainnya di luar Aceh lain. Penganan ini menjadi barang “souvenir” yang harus diorder untuk mendapatkannya.”Saya sering mendapat order dari ratusan hingga ribuan dari orang kaya Aceh di Jakarta dan Medan. Kalau order besar biasanya untuk penganan di acara khauri. Kalau kecil-kecilan biasanya untuk ole-ole,” kata Gani.

Untuk bisa mencicipi pulot panggang Lambaro, seperti dikatakan Gani jangan datang terlalu pagi dan ketika dhuha. Biasanya kue ini diantar sekitar pukul 07.30 dan pukul 09.00 sudah habis.

Berlainan tekstur dengan pulot panggang di lapak-lapak “ie teube” atau pun keude kupi lainnya,  pulot panggang Lambro lebih kering. Sedikit garing dalam ukuran lebih kecil. Terkadang pulotnya sengaja dibakar hangus permukaannya. “Di sini pula sensasinya, kata Aboebakar Adam, seorang pengusaha Aceh di Jakarta, yang hari kami menyambangi keude kupi itu sedang singgah mengambil order pulot panggangnya  dalam sebuah kotak ukuran aqua gelas dan mengerdip kami setelah menguliti, lantas mencicipi kue itu. “Tat mangat,” ujarnya tersenyum.

Komentar