Penggal Mentari Senja di Lhok Kruet

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 Januari 2014 | 15:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Kami masih di Geureute ketika matahari rebah di barat langit samudera. Sekejap kemudian kami sudah di Kuala Unga kala semburat mentari jingga menjejakkan kakinya di binar samudera hingga berpendar ke kaki langit.

Ketika tumpangan kami mendaki bukit kecil di sisi timur Kuala Unga, dengan rumah “kotak sabun”nya “hadiah” sebuah NGO Asing usai negeri pantai itu digemeretak oleh gigi humbalang gergasi yang mengelupaskan tanah dan penghuninya, laut memainkan simphoni cahaya lembaung keunguan. Memanjang, putus-putus dan berotasi dengan riak laut.

Dinding batu cadas, cemara laut dan irisan pantai berlekuk dengan ujung gunung kecil menombak samudera terus menyertai kami, yang di Sabtu pertama Januari 2014 itu ingin bergurau dengan sepenggal senja di Lhok Kruet.

Usai melewati Kuala Unga kemilau mentari senja menerpa tumpangan kami dan bersenda dengan cahaya yang hilang timbul ketika di halangi bukit-bukit kecil dengan pepohonan bermetamorfosa dengan semburat kuning, jingga dan biru yang saling berganti dengan kehijauannya.

“Gila,” ujar teman saya Sigit Suryanto, seorang manajer puncak sebuah perusahaan media “raksasa” di Jakarta, yang sejak tiga bulan sebelumnya terpesona dengan tayangan video “advanture” jelajah “sepeda “Kompas-PGN,” yang mengambil “shot” panjang ketika melewat “west road Aceh,” di Agustus tahun 2013.

Ketika itu, usai menyaksikan tayangan advanture” itu di “Kompas TV,” Sigit menelepon kami dan memutuskan akan datang ke Lhok Kruet di liburan awal tahunnya, sekalian berkemah dan, istilahnya, bergurau dengan senja di tepian samudera itu.

Cuma butuh setengah jam, bagi kami, untuk mencapai titik kordinat perkemahan, yang sepekan sebelumnya, lewat seorang teman, anak Lhok Kruet, Mak Yusuf, telah menancap tapak untuk tem[pat kami bermalam setelah “blusukan” mencari lokasi yang pas dengan keinginan kami.

Selain tapak tenda, Mak Yusuf juga menawarkan “cottage” versi Lhok Kruet di sebuah bukit arah Lhok Keutapang, dengan fasilitas “boleh juga,” yang sering menjadi penginapan “bule” yang kesengsem dengan keindahan Lhok Kruet.

Lhok Kruet bukan lagi negeri di “naca.” Ia tidak lagi teronggok di ujong donya. Lhok Kruet, kini, setelah US-Aid membangun “Jalan Made In United State America,” sudah bisa ditempuh dalam hitungan satu setengah jam dengan jarak 116 kilometer dari Banda Aceh.

Dan ketika matahari keunguan menerpa pulau-pulau tak berpenghuni di seputar samudera itu menjilat laut dan membasuh jingkrak dari gelitik gelombang kecilnya berwarna lembayung jingga kami memasuki jalan kecil ke arah pantai Lhok Kruet.

Begitu tumpangan kami terpacak di pantat tenda, Sigit dengan dua rekan Jakarta-nya, yang sebelumnya disihir tayangan “advanture” Kompas TV itu, melompat turun dan berlari kea rah pantai sembari mengarahkan lensa kamera berdurasi 360 derajat menyapu teluk dari ujung gunung hingga lengkungan pantai berpasir putih.

Sebelum menghampiri tenda, dari arah jalan besar, yang sebelumnya kepada tiga rekan Jakarta kami beri nama “road tsunami beach samudera, kami di goncang dengan jingkrak jalan berlobang sepanjang lima ratus meter.

Jalan ini, dulunya, merupakan ruas jalan Banda Aceh-Meulaboh milik Projabam yang di gigit oleh humbalang tsunami sehingga menjadi “road no point of return.” Jalan tak ada ujung.Empat tahun otoritas BRR melapisnya dengan aspal “hot mix” sebagai “hadiah” bagi para pelancong menuju pantai Lhok Kruet.

Selain membentang tenda, di Sabtu itu, kami juga menyewa sebuah rumah penduduk, yang menurut pemiliknya telah resmi dijadikan “cottage” dan sering dipinjamkan untuk “bule” dengan sewa berdurasi dollar dengan nilai tukar rupiah.

Sebelum kami tiba, Mak Yusuf, telah menggladi-resikkan jalannya operasional kenyamanan dan kenikmatan kami termasuk menyediakan gurapu dan rambeu untuk pesta pantai versi Lhok Kruet, memanggang ikan, menikmati purnama serta menghabiskan sekeranjang durian “motong” dari Panga Pucok yang dilahap dengan “pulot panggang.”

Penggal senja di Lhok Kruet memang luar biasa indahnya. Sigit, dua temannya, Yongki dan Alex, sampai termehek-mehek kehilangan kata-kata untuk menggambarkan bagaimana “sunset” di kaki langit bercengkerama dengan riak gelombang samudera sembari mengirim pesan,”dulunya disini kami basuh jenazah anak aso lhok, kami kafani dengan buih gelombang dan kami sediakan jirat seluas donya untuk para syuhada itu.”

Lhok Kruet memang tempat terbaik untuk menyaksikan ungu, jingga dan lembayung berbaur sebelum mentari tenggelam di ufuk barat. Lhok Kruet juga tempat terbaik untuk membasuh diri di lengkungan hamparan pasir sejauh hampir dua kilometer.

Di sana ada pantai asri, punggung gunung, bukit kecil menusuk laut, pulau-pulau atol tak berpenghuni, kecipak gelombang yang berlari menampar pantai. Bahkan kala malam datang, dan kami “khauri,” ikan panggang beserta durian Panga Pucok yang wanginya menyatu dengan keharuman aroma pulot panggang, membuat kami terlelap menjelang subuh.

Lhok Kruet memang tempat persinggungan suara “m’batin” dari “heritage” milik Tuhan, yang menurut sisa “aneuk nanggroe” makin indah setelah pantainya di ayak gempa dan di tendang humbalang.

Dulunya, menurut Mak Yusuf, tubir laut Lhok Kruet nun di dua ratus meter sana. Ia menunjuk ke arah pulau atol yang kini makin jauh dari pantai. Dan di malam itu, kala musim barat yang sangat bersahabat di hari Sabtu itu, hujan tidak turun. Padahal, seminggu sebelumnya derai hujan merengek berhari-hari tanpa henti.

Sebelum kami menuju “cottage” untuk merebahkan diri, Sigit masih enggan beranjak dari tenda dan masih mengibaskan tangannya sebagai penolakan sembari menunjuk dua perahu kecil bercadik milik nelayan yang lampunya berkelap kelip member tanda bahwa laut masih hidup.

Komentar