Negeri “Ketelatan” Di Bumi Selatan

Penulis: Darmansyah

Senin, 4 Maret 2013 | 14:42 WIB

Dibaca: 0 kali

HARI itu  waktu “dhuha” dipenghujung Januari.  Kami baru saja melewati jembatan terpanjang di bumi  belahan “selatan” negeri bertuah ini. Jembatan yang diresmikan di Desember lalu untuk menggantikan fungsi rakit penyebarang. Jembatan Kuala Bubon yang tanahnya muaranya sudah menjadi tubir laut usai digergaji humbalang laut delapan tahun lalu.

Itulah rakit terakhir yang “musnah” bersama selesainya jembatan rangka baja bantuan duit sisa kumpulan bantuan donor, “Donor Fund.” Duit yang dihibahkan untuk membangun jalan dan jembatan dari Teunom hingga Meulaboh.

Usai melewati jembatan Kuala Bubon itu, kenangan kami melayang ke  Lambeusoi “lama.” Lambesoi di muara sungai  yang selalu menghampiri pejalan Barat-Selatan menggapai negeri “ketelatannya.”  Lambesoi yang berjarak dekat dengan   Lamno, Kota Kecamatan Daya, yang kini tetirah ke kabupaten Aceh Jaya

Keping-keping yang   ber-arak  membentuk “silheut”  untuk kemudian  merekat sembari memunculkan detil-detil  Lambeusoi “lama’ dengan  “gampong”  rakit,  yang  rumah-rumah penduduknya menjulurkan  pantat ke aliran sungai.

Memang tidak mudah untuk men”download” kembalinya Lambeusoi “ lama” itu kedalam bayangan utuh  di hari Sabtu,   setelah 38 tahun kemudian.  Tiga dekade lebih. Sebuah rentang waktu yang telah mengubah generasi celana “cut bray” ke era “jeans” belel dengan pantat setengah jengkal.

Sebuah rentang waktu yang mengantarkan  akulturasi wanita remaja  Aceh, dengan jilbab “trendy” berbaju “tisset” berboncengan “honda”  duduk mengangkang sembari memburai senyum untuk mengukuhkan simbol modern.

Lambeusoi “lama” memang telah mati  “Gampong” rakit dan jembatan “bayllai” itu telah punah dikunyah “tsunami.” Jalan di pantai barat Aceh, sejak 26 Desember 2004, mati suri.  Mungkin juga “Cut Apa” Mae atau “Mandou” Berahim, orang “kaya” dan “pejabat” p.u. di “gampong sungsang” itu tak menyisakan turunan ketika tsunami mengubah daratan menjadi laut.

Di hari itu juga jembatan bebas rakit, program Gubernur Ibrahim Hasan, terburai di rahim Krueng Lambuesoi.  Tercerai berai.  Luluh lantak. Dan di hari pula sebuah “inkarnasi”  menjemput untuk menyalin rupa Lambuesoi “lama.”  Persalinan inkarnasi  kemiskinan prasarana jalan di pantai Barat.  Inkarnasi “isolasi” yang memulangkan kembali   Patek, Lhok Kruet, Babahnipah, Krueng Sabe dan Calang menjadi “ujong donya” dan berada entah dimana, di negeri antah berantah. Ironis. Ya ironis, memang. Ironi dari melatanya kembali sebuah negeri bertuah  ini ke titik nol.

Ironi ini pulalah yang mengkreatifkan  anak Babahnipah menuliskan “graffiti” di dinding rakit penyebarangan miliknya dengan kata-kata,”nanggroe di naca.” Negeri di Naca. Sebuah negeri yang tak pernah berjejek di bumi. Negeri di awang-awang. Dan Babahnipah adalah negeri di Naca. Negeri yang di-isolasi janji pembangunan segera. Janji ketika sekumpulan anak muda membangun rakit untuk mengais rupiah setelah ibu bapak dan adik-adiknya terbenam dirawa-rawa “bak dah” dan tak pernah dikafani dalam perjalanannya kehadirat Rabb-nya.

Sebuah janji Aceh Bangkit dengan bantuan dollar dan euro melimpah ruah. Janji ketika BRR,  akronim “bek rioh-rioh,” mengumandangkan sebuah “fiesta”  keberhasilan dengan iklan menyita berhalaman-halaman koran. Begitu juga dengan janji “munafikun” yang terkapar di atas kelaparan anak Panga yang hidup dari mie instant dan beras berbau apak yang ditanak setengah bubur.

Dan ketika anak Lhok Kruet  tersedak karena minum air payau dan  makan sekali sehari, sementara di Koetaradja orang bersukaria memakan duit alokasi khusus dan membagi duit bagi hasil migas untuk proyek yang kemudian ditelantarkan.

Mereka hanya tersenyum ketika Babahnipah di udik  negeri  “dibayari ” dengan duit USAID seharga 250 juta dollar atawa  Rp 2,5 triliun untuk sebuah janji pembangunan, jalan terbaik, yang pernah ada,  di ujong donya. Jalan yang kini menjadi sebuah jalan “interseksi” dan merupakan jalan berkelas tol tanpa bayar di Indonesia.

Jalan yang dulu pernah ditelantarkan akibat tarik menariki angka rupiah  ganti ruginya. Anga rupiah dari kocek anak negeri  yang tidak dibayarkan, hinggaj janji  penyelesaiannya   sempat menjadi buih dalam sambutan-sambutan seremoni  dan “launching” banyak  proyek

Janji ketika, ketika itu,  “realese pers”  berpilin kolom menjadi bentangan di surat kabar. Dan janji yang me”hambo” di televisi dengan  “audio video”  yang digincu dengan kata-kata tak bermakna, “akan……segera … sesuai target. Sebuah janji  yang terkapar di atas  awan  langit Lambuesoi “baru,” ketika sebuah koran memajang foto seorang kawan, anggota dewan, nangkring di plat baja jembatan yang terbengkalai.

Simak pulalah  “haba”  yang hanyut berbulan-bulan tentang  pembebasan tanah yang tidak beres. Ganti rugi “jambo” jagong di Lhok Nga-Leupung yang mendesahkan sumpahserapah karena timbunan di badan jalannya mebengkokkan tulang iga. Jangan pula lupa menyimak “haba”  aneuk nanggroe  yang naik daun  menjadi subkontraktor  dengan dump truk Fuso pinjaman mengais reseuki dari gelembung “fee” dari tanah timbunan untuk kemudian lari malam meninggalkan bengkelai.

Ditundanya pembangunan jembatan dan jalan di seksi 4. Ataupun pertengkaran tidak dibayarnya pembelahan gunung di Lhong oleh pemborong Wijaya Karya berujung di sebuah pengadilan di Amerika sana. Belum lagi “slow down”nya pekerjaan pembangunan jalan  antara Lhoong- Calang oleh  pemborong PT Adi Karya yang terbengkalai dan menyesatkan para sopir untuk memilih jalur.

Kita, semula,  tak tahu apakah pembangunan jalan Banda Aceh-Calang ini juga akan menjadi  reinkarnasi Projabam. Pembangunan  jalan Banda Aceh – Meulaboh yang menggelontorkan duit bantuan pemerintah Kanada, CIDA, di awal tahun delapan puluhan  yang  digeletakkan bertahun-tahun untuk kemudian menguap dan menyisakan “base camp” besi tua di pantai Rigah. Kita juga tak tahu apakah penyelesaian jalan sepotong-sepotong model Projabam itu akan terulang lagi untuk kemudian hancur dan menjadi proyek baru dengan tender baru.

Ternyata duit USAID tidak jadi menabur mimpi. Jalan Amerika di negeri bertuah itu, kini, telah mendekatkan Meulaboh-Banda Aceh. Ketika seorang penduduk kami sapa di Krueng Sabe dan bertanya tentang jalan yang lebar beraspal beton yang usai dibangun, dengan  tertawa mengatakan,” nyo jalan nyang paling get di ateuh donya.. Sebuah jawaban khas Aceh. Jawaban sarat makna dan sulit ditebak maksudnya. Jawaban dari kegembiraan  setelah hampir lima  tahun ia pernah  ber”jibaku” dengan waktu ke Kutaraja ataupun ke Meulaboh untuk menjual minyak nilam hasil penyulingan sederhana miliknya.

Memang, hampir empat  tahun setelah “humbalang” tsunami meluluh lantakkan negeri di “Naca” ini,  dan BRR, sebuah badan yang diolok-olok  dengan kepanjangan akronim “bek rioh-rioh,” itu  telah pun   bubar,  untuk sampai ke negeri “ujong donya”  bernama Lhok Kruet ataupun Babahnipah waktu itu  harus “makan” debu dan melata digenangan lumpur tanah liat.

Lambeusoi, Babahnipah dan Lhok Kruet, dulu dan kini, memang negeri derita. Negeri tumbal ketika uang pembangunan mengkeret untuk menyentuhnya. Sementara di Koetradja  orang berbagi angka milyar-milyaran.

Negeri tumbal ketika “bule-bule” Oxfam, Care, UMCOR, ARC, dulunya, datang membagikan ransum, membangun rumah dan menghidupi mereka dengan “jadup.”  Tapi, kini setelah bule-bule itu hengkang  anak “ujong donya,” seperti,  Panga Pucok  harus berkelahi untuk  sebuah harga diri ketika tanahnya dirampas atas nama hak guna usaha. Ana Pucok Pangan  hanya bisa berpantun lirih membaitkan syair hikayat Malem Dewa tentang negeri di awan. Negeri bidadari dengan seribu salam takzim cinta. Negeri mimpi ketika dana milik anak negeri dibancak beramai-ramai atas nama rekonsiliasi.

Komentar