Laksa Air Hitam Yang Menggoda

Penulis: Darmansyah

Kamis, 14 November 2013 | 11:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Heritage “global” Penang, di Pulau Pinang, memang sebuah destinasi dengan godaan merangsang untuk “travellege.” Ingat Penang, ingat Georgetown. Ingat Penang, ingat kuliner “plural” yang menjalarkan ke daftar menu “top ten” dunia.

Ingat saja betapa nikmatnya kari ber “taste” India dari gerobak “mamak,” India muslim, di kawasan “Little India,” di sebuah sudut Georgtown. Ingat juga udang rebus “Canton” dan cumi khas “Kuantung,” di pelataran kuil Kek Lok Si di kakai Bukit Penang.

Penang , ya Penang, adalah kota tujuan wisata paling eksotik di Malaysia. Jangan pernah lupa dengan pantai batu Feringgi, heritage kota tua, makanan yang enak mencecap lidah menjilat langit-langit dan bersendawa rasa yang tak pernah luntur.

Kuliner, heritage dan keramahan adalah salah daya tarik wisata di kota Penang. Ingat makanannya yang enak dengan harga–harga berbayaran ringgit juga tergolong murah. Ingat jajanan gerobak “uueenaak tenan…, seharga tiga ringgit. Enak di lidah, enak juga di kantong.

Kali ini, catatan yang tersisa dari mihubah kami ke Penang September lalu adalah laksa Air Itam. Rasanya belum afdhol menuliskan kuliner Penang tanpa mencantumkan, betapa aroma rasa fantastik laksa Air Itam bisa mengingatkan kita akan kekayaan kuliner Penang.

“Belum ke Penang kalau ‘You’ belum makan laksa Pasar Air Itam, begitu yang dingatkan Chow, sohib kami yang China asal Canton dan beristrikan seorang wanita boru Lubis yang memiliki bisnis IT.

Laksa Pasar Air Itam terletaknya di pertigaan jalan di sudut dengan nama heritage yang sama. Pasar Air Itam. Jajanan ini akan ketemu saat kami menuju kuil Kek Lok Si di kaki bukit Penang.

Jangan kaget, saat waktunya makan siang, kedai laksa yang satu ini akan dipenuhi masyarakat lokal dan turis. Apa yang membuat orang rela mengantre di tengah rintik hujan? Tentu demi sensasi rasa asam segar dalam semangkuk laksa.

Laksa pasar air itam adalah laksa legendaris. Penjualnya, ketika saya komunikasikan ke Chow, dengan terbahan sang teman mengatakan, sama dengan saya. Generasi ketiga.

Laksa Pasar Air Itam mulai operasi tepat pukul pukul 11.00 siang Waktu Penang dan tutup menjelang jam 07.00 malam.. Harganya sangat bersahabat. Dengan dompet berdurasi empat ringgit kita mendapatkan mangkok standar. Emp[at ringgit berarti Rp Rp 16.000.

Kalau ingin yang “special,” seperti yang kami cicipi hari itu bersama Chow, kita harus merogoh kocek tujuh ringgit atau sekitar Rp 36.000. Selain laksa dan suir ayamnya lebih banyak, juga ada tambahan bumbu khusus dari sambal cabai yang aromanya hinggap di kerongkongan.

Untuk menuju lokasi laksa Pasar Air Itam, seperti halnya transportasi di Penang, juga termasuk mudah. Bisa dengan taksi atau bus umum yang tujuannya sama dengan menuju kuil Kek Lok Si di kaki Bukit Penang atau Penang Hill.

Menurut Chow, yang hari itu menjadi “guide’ kami, kuah laksa milik Tan, begitu nama penjualnya, diramu dari kaldu udang dan ikan kembung serta dicampur berbagai bumbu di antaranya adalah tamarind atau asam.
Minya adalah mi putih yang terbuat dari tepung beras. Laksa semakin segar saat disajikan dengan potongan bawang merah mentah, daun mint, dan tak ketinggalan potongan cabai.

Saat mencicipinya, Chow mengerling kami, dan berujar dalam aksen Melayu ber”taste chines,” pegi mana. Enak tak….”

Saya menangguk dan mengomentari ringkas, segaaar….

Asamnya yang dipadu dengan pedasnya yang tak terlalu menggigit membuat kami minta tambah setengah porsi. Minya yang lumayan lembut mengingatkan kami pada “mie abuih” Mak Ali di kampong kami, nun jauh di selatan sanaa… Tapaktuan.

Bawang goreng dengan aroma menyengat justru menambah ketajaman rasa kuah yang kami siram dengan asam jeruk nipis..

Komentar