Kota Tiga Nama, Dengan Epos Legenda

Penulis: Darmansyah

Jumat, 29 Maret 2013 | 23:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Tapaktuan, Kota Naga dan Taluak.

Itulah tiga nama dari sebuah kota ter”pinggir”kan di ujung selatan bumi “nanggroe.” Tapaktuan, seperti kata Daniel Aziz, anak sejarah di kota kecil itu, ditujukan untuk sebutan di komunitas formal. “Nama resmi,” katanya mendiktekan sebutannya.

Bagi “peziarah,” yang datang karena tugas dan “tersesat,” yang kemudiannya  mendapatkan wejangan tentang  “epik”  bermuatan “legenda” yang melingkup latar sejarah  negeri itu,  sebutan Tapaktuan akan bisa berubah menjadi Kota Naga.

“Kota” yang sejarahnya “fiksinya”  dijejali dengan naga, tokoh Tuan Tapa dan sisa “heritage” Tapak, Tongkat, Kopiah dan ceceran darah yang menjelma menajdi Batu Itam dan Batu Sirah, yang berarti darah hitam serta darah merah. Dan juga ada sebuah kuburan di Tampat, yang diyakini oleh banayk pihak sebagai makam Tuan Tapa yang panjang “jirat”nya sampai dua puluh meter.

Sejarah “fiksi” yang dioralkan dalam kisah legenda itulah yang mengharmonikan Tapaktuan menjadi “Kota Naga.” Kota dengan kisah, yang entah darimana muncul asal muasal ceritanya, tapi banyak orang tersihir meyakini kebenarannya.

Namun bagi anak “aso lhok,” nama yang dipakai untuk menyapa negerinya tidak Tapaktuan atau Kota Naga, tapi  Taluak. Makanya, seperti kata Daniel, untuk menyapa  setiap “syedara”nya di perantauan,  anak “aso” akan tetap me’basa’kan diri dengan mengidentitaskan bahwa ia “anak taluak.”

Kota dengan tiga nama itu, kini, tidak lagi dipeluk isolasi. Dari Banda Aceh ia bisa di capai lewat perjalanan darat delapan jam usai ruas jalan yang mendapat dana hibah US-Aid dan Multi Fund Donor  sepanjang 245 km selesai dibangun. Jalan, yang dulunya bernama Projabam, dan dibiayai dari dana pinjaman CIDA, kala gempa dan tsunami delapan tahun lalu musnah ditelan laut.

Sebelum mencapai Tapaktuan, jalan pantai barat ini, begitu anak di lembah Geureute menyebutnya,  melintasi empat kabupaten. Mulai dari Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya dan Aceh Barat Daya.

Tapaktuan, kita menyebut nama formalnya, bisa juga dicapai lewat perjalanan tujuh jam dari Medan, Sumut. Tapi, lintasan Medan, yang melewati Brastagi, Kabanjahe dan Sidikalang itu,  kondisi jalannya semacam orang geleng zikir. Berlobang dan mobil harus heleng kiri dan heleng kanan mengelak perosokan di lintasan sempit sepanjang pengunungan.

Tapaktuan, bukan hanya teluk, kitaran bukit dan lembah sempit yang menjejerkan pemukiman di sepanjang telapaknya. Tapaktuan adalah perpaduan mosaik keindahan yang dipahatkan Sang Pencipta lewat perpaduan bukit-bukit yang membentuk tanjung dan  menusuk bak busur panah ke tubir laut laut. Tanjung ini pula yang memeluk Tapaktuan dengan membentangkan pantai karangnya  berhamparan pasir yang menakjubkan.

Tapaktuan, kalau kita mau jujur, kota ini secara postur mirip Sabang di Weh sana, atau Jayapura di Papua, tapi berpanorama “surga.”  Taluk , ya Tapaktuan  sebuah kota berpagar bukit, berlembah sempit serta dibatasi garis laut yang membentuk teluk bak belanga besar dari ujung Gunung Raban di timurnya  hingga ke Gunung Lampu di ceruk baratnya.

Di kedua ujung atau tanjung ini, di pagi hari kita bisa menyaksikan jejak matahari timur yang merangkak naik dan kalau di ujung senja aka nada “sunside” yang menamparkan cahaya emasnya di riak laut dan di ufuknya bermetamorfosa warna kuning, jingga dan kelabu hingga sang surya tenggelam.

Cobalah takziah ke sana. Ingat keberadaan pusat kotanya di antara dua telapak gunung yang menusuk laut. Disitulah  Tapaktuan “mini” berada  yang terjepit di antara  dua “ujong” gunung yang membentuk teluk dan  ditandai dengan sebuah cerocok kayu, yang kini sudah dipermak menjadi dermaga. Cerocok yang dulunya berlantai papan “tin”  bertonggak besi dengan kolom bersilang diselangkangnya.

Tapaktuan “mini” ini memanjang menyusur lekuk laut dan membanjarkan pertokoan, perkampungan dan jalan-jalan yang membelah pemukiman di sejumput tanah sempit yang menjadi tempat berhimpitannya semua fasilitas sebuah kota pusat pemerintahan kabupaten.

Tapaktuan memang mini. “Bahkan minim,” kata Daniel tentang kota “tua” yang di legendakan berumur ribuan tahun. Tak ada penginapan setingkat hotel berbintang satu. Hanya tersedia penginapan melati. Tak ada restoran yang memiliki menu “breakfast” atau “launch.” Tapi jangan tanya tentang kulinernya yang “nyam..nyam.. bak rasa maknyuss…

Ada mie abuih Mak Ali di Desa Genting yang nikmatnya mencecah lidah. Mie abuih yang tidak berformalin dan non penyedap, tapi disiram kuah ayam “cincang” dan di makan dengan cabe rawit. Ada juga es kacang dan lontong pecal si A Won di pusat pasar yang “uennak…” melelehkan selera.

Kalau ingin menikmati cendol, jangan lupa singgah di Taluak Maimbau dan Warung Kusami yang sirupnya berbau pandan dengan campuran “tapai” yang aroma  ketan hitamnya menampar langit-langit.

Hari itu ketika kami menjelajahi kulinernya, seorang kawan, anak Medan tulen, yang menyertai perjalanan kami, menganggukkan kepala tanda setuju adanya kenikmatan dari perpaduan alamnya dengan citarasa makanannya  yang menggoda  lidah dan menyebabkan keluarnya permintaan, “tambuah.” Permintaan tambah.

Tapaktuan memang bukan sebuah kota untuk kunjungan panjang. Tapaktuan adalah sebuah kota singgahan untuk “cuci” mata. Kota yang di lintasi untuk kemudian ditinggal pergi yang kemudiannya meninggalkan memori yang sulit di lupakan keindahan panoramanya

Komentar