Ketika Sabang Dilupakan “Hotelscombined”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 23 Juli 2014 | 12:59 WIB

Dibaca: 2 kali

Sabang, atau baca Pulau Weh, adalah sebuah ironi dari bangkrutnya “jualan” Aceh di pasar wisata domestik. Ironi dari terpinggirnya Weh di pasar wisata nusantara dan melemparkannya dari daftar pulau tereksotis, seperti yang di rilis oleh sebuah web travel, “hotelscombined.”

Web prestise itu, yang rajin memberikan informasi pembanding untuk tarif hotel di pasar “travelege” tak secuil pun menyebut Sabang, atau Weh, sebagai destinasi pulau yang pantas dikunjungi. Dari sepuluh tujuan wisata destinasi pulau di Indonesia, nama Weh, atau Sabang, tak tercantum di “hotelscombined.”

Bagi saya pribadi, pasti ada dosa sejarah dari terlemparnya nama Weh dari daftar itu. Dan kesalahan itu tentu tidak terletak pada “hotelscombined.” Kesalahan itu lenih tertuju pada “kita-kita.”

“Kita-kita” yang tidak pernah sadar mengapa Sabang, atau Weh, disingkirkan Raja Ampat, Wakatobi, Togean, bahkan Pulau Bintan dan Derawam sekali pun.

Saya percaya betul ini adalah ironi Aceh. Ironi dari sebuah kerja setengah “enak” menjual wisata lewat anggaran tanpa pernah mengecek apakah punya dampak terhadap pasar ril dari kebutuhan “traveler.”

Sabang bagi saya memang ironi. Ketika pantai-pantainya di kapling oleh para investor untuk “provit,” birokrasinya sibuk dengan bancakan proyek dermaga, retorika pelabuhan bebas dan perdagangan bebas, bahkan masih bermimpi tentang proyek refinery dan “container” sejuta teus, yang sesungguhnya sebuah “utopia” yang melayang di awan mimpi.

Hari ini, ketika saya membuka web “hotelcombined” dan mencari nama Weh atau Sabang dalam daftarnya sebagai destinasi pulau di antara sepuluh pulau eksotik di tanah air, membuncah kekecewaan kami ketika mendapati Weh benar-benar tak punya “nama” di daftar yang mereka rilis.

Padahal sebelumnya saya berharap Weh akan muncul entah dinomor berapapun. Saya tercekat ketika membayangkan betapa eksotiknya Iboih, Gapang dan Rubiah dalam peta jalan wisata eksotisme destinasi pantai dan laut.

Iboih, Gapang dan Rubiah, bagi saya, adalah rantai yang tak bisa diputus untuk sebuah avounturir snorkeling dan diving dari produk terumbu karang atol Weh yang menghasilkan kehidupan alam bawah laut.
Ya. Sabang atau Weh memang ironi riil dari sebuah perjalanan panjang negeri ini dalam mengelola wisata sebagai sebuah produk “industri” jasa dari kreativitas anak manusia.

Sabang telah ditinggalkan ketika asik dengan kebanggan singgahnya kapal pesiar dan retorika tentang keindahannya yang tiada tara. Sebuah retorika usang yang tergeletak di awan mimpi ketika Raja Ampat, Wakatobi, Derawan dan Bintan berbenah dengan fasilitas infrastrukturnya yang tertata dengan apik.

Bacalah situs “hotelscombined” yang dengan apiknya membimbing pecinta olahraga diving, untuk datang ke Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, dan untuk bisa mencapainya harus membeli tiket ke Sorong dari Jakarta dengan waktu penerbangan enam jam, transit di Makassar atau Manado.

Setelah tiba di Sorong, Anda harus menaiki kapal dengan tempuh waktu tiga jam.

Bahkan “traveler” diajak untuk memilih saat ingin menikmati wisata alam Kepulauan Raja Ampat. Pilihannya untuk tinggal di sebuah resort atau tinggal di sebuah kapal pinisi yang sudah dimodifikasi.
Untuk dapat menikmati wisata Raja Ampat selama sepekan dengan menggunakan kapal pinisi

Lain lagi kalau ke . Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Tidak ada cara lebih baik untuk mendapatkan keindahan bahari Derawan, kecuali mencelupkan diri ke bawah laut, baik itu dengan menyelam ataupun sekadar snorkeling. Melengkapi istirahat, Anda bisa menikmati hamparan pasir di Gosong yang letaknya hanya 5 menit dari Pulau Derawan.

Kehidupan bawah laut di sini luar biasa, Anda akan temukan kura-kura raksasa, lumba-lumba, ikan pari, duyung, barakuda, serta ubur-ubur stingless. Ikan Hiu Derawan di sini merupakan salah satu keragaman hayati yang berharga. Dan tak hanya itu, beberapa spesies unik dan dilindungi ada di sini, kepiting kepala, ikan paus, lumba-lumba, dan duyung.

Begitu juga dengan Kepulauan Togean, Sulawesi Utara, Karimunjawa, Wakatobi, Pulau Tidung, Kepulauan Gili, Kepa, Bintan dan Tulamben. Semuanya menjual paket penyelaman, scuba diving, snorkeling dan berenang dengan produk terumbu karang serta biota laut.

Ambil contoh Bintan, dan bandingkan apa hebatnya dari Weh yang memiliki kilometer nol, telaga tujuh, benteng Jepang. Bintan hanya memiliki wisata sejarah dan budaya lokal termasuk Istana Kota Piring yang terletak di pulau Biram Dewa.

Jadi, kenapa maka Weh terabaikan. Entah. Tanya kepada diri kita sendiri.sekarang juga!

Komentar