Kereta “Atjeh Staat,” Cah…Ceh ..Coohh…

Penulis: Arminsyah

Selasa, 5 Agustus 2014 | 15:22 WIB

Dibaca: 3 kali

Cot Geuleungkeu awal enam puluhan. Bukit kecil berkontur tanah bergelombang, naik turun itu, sering menjadi “musuh” bagi loko tua “Atjeh Staat Spoor” seri D-72 “made in Germany,” yang hari itu kami tumpangi.

Kami baru saja melewati jembatan Pandrah, setelah singgah di stasion kecil, yang bangunannya mirip pos Satpam, untuk menaik turunkan penumpang lokal. Saya menandai jembatan sempit dengan sungai kecil di bawahnya itu lewat sebatang “bak mee” di sudut kirinya, kalau arah dari Medan.

Sebelumnya di stasion kecil Pandrah kereta kami berrhenti cukup lama. Saya tahu persis loko tua itu dinaikkan suhu panasnya lewat perapian dari kayu. Saya juga ingat dialog antara penumpang dengan kondektur.

Jawaban kondektur tetap itu ke itu saja. “Loko ini sudah lama tidak diserpis.” Paling tidak jawaban itu dimaksudkan untuk menenangkan penumpang yang mulai kesal ketika kereta lama sekali berhenti di satasiun Pandrah.

Bayangkan, kereta yang berangkat dari stasion Lhok Seumawe pukul 09:00 pagi sampai di Pandarah sudah jam 3 siang. Ditambah dengan masa berhenti di Pandrah hamper satu jam lamanya.

Kekesalan lain datang dari berjubelnya penumpang yang menumpuk bersama pengemis, penjaja makanan dan ditambah suara tangis bayi yang kepanasan.. Pengap.

Banyak di antara penumpang “lari” ke atap gerbong dan sebagian lainnya ngumpet dalam WC. Kala kondektur atau, ketika itu disebut “keurani,” di serbu oleh teriakan untuk membunyikan pluit agar kerata segera berangkat, saya amat menikmatinya..

“Peo lhom hai, jak laju…”, teriak “koor” penumpang yang artinya apa lagi, jalan terus.

Tak di antara penumpang yang tahu lok tua dengan masa bakti hampir satu abad itu sengaja dinaikkan suhu panasnya dulu, agar uap yang dipergunakan menghela lima gerbang, tiga gerbong penumpang dan dua gerbong barang bisa lebih kuat untuk melahap pendakian Cot Geulungkeuh

Dan ketika kereta benar=benar sudah berangkat dengan melewati jembatan pendek Krueng Pandrah, loko tua itu mulai ngos-ngosan. Rel disitu mulai mendaki bukit hutan sabana Cot Geulungkeuh dengan kemiringan tanjakan sekitar dua atau tiga derajat.

Saya bisa mengingat dengan pas, usai melintas jembatan Pandrah, tapak roda gerbong, tempat kami di tumpuk bak ikan asin, selalu berderit, mencericit, sebagai isyarat ada tanjakan di depan dan kereta akan menapak naik bukit kecil.

Hari itu, ya, di awal enam puluhan, moda transportasi utama di Aceh bagian utara dan timur adalah loko-loko tua hasil “fabrieken” Jerman atau England. Dan di perjalanan kami hari itu loko yang kami naiki dari Lhokseumawe adalah type D-72 warisan Atjeh Staat Spoor yang menarik lima gerbong.

Ukuran gerbang itu, kalau dengan ukuran kondisi kereta api sekarang, luasnya tak lebih dari dua kali tiga meter. Kecil sekali. Dan untuk sebuah loko dengan beban enam gerbong ia akan kepayahan.

Ketika roda gerbong itu mencericit, usai menyeberangi Krueng Pandrah, saya selalu berbisik, entah dengan siapa, kalau lokasi ini adalah Cot Geuleungkeu. Ya. Cot Geueleungkeu menjadi hafalan diingatan saya karena sebagai anak tentara yang sering berpindah tugas, di memori saya terpahat nama itu dengan takzim.

Tunggu dulu. Jangan dikira Cot Geuleungkeuh menjadi siksaan bagi saya kala naik kereta. Di masa kanak-kanak Cot Geuleungkeu adalah hiburan. Ia selalu mengisi kebahagiaan saya

Ada suara roda mencericit. Ada teriakan turun… turun… Ada juga teraiakan kejengkelan penumpang, yang memaki dengan suara parau ketika kereta harus di dorong di satu dua tanjakan.

Kalau suasananya sudah begini saya selalu menyanyikan lagu Bu Kasur dengan syair dan lirik gembira, “Naik keretapi, tut…tut…tuuuutt. Siapa hendak turut….”.

Lagu itu biasanya saya nyanyikan dengan cara berbisik. Dan di Cot Geuleungkeu, biasanya, saya dengan gembira menyanyikan dengan “sir.”

Ya itulah kereta api Aceh di zaman “kuda masih makan besi.” Di dorong, isinya berjubel dan stasionnya banyak bahkan waktu tempuhnya bisa berhari-hari.

Pengalaman unik ini tentau bukan hanya milik saya. Ketika bertemu dengan seorang sahabat tua saya di Medan, Teuku Kasim ia juga memiliki pengalaman yang sama. Pengalaman ketika ia mudik puasa ke Lhok Seumawe dan Geulumpang Minyeuk, Pidie.

Dari Medan, kata Kasim, ia naik kereta api “Deli Spoorweg Maatschapaij” hingga Besitang untuk kemudian berganti dengan kereta api Aceh yang lebih sempit relnya hingga Lhok Seumawe.

Kasim menggambar loko tua “Atjeh Staat Spoor” selalu melenguh dengan suara, cah..ceh…cohh, cah…ceh…cohh… Ia menirukan bunyi itu dengan santai.

Ia juga menceritakan tentang jelaga asap pembakaran kayu bakau untuk memanaskan air agar mendapat uap sebagai energi lokomotip yang singgah ke wajahnya. Bahkan percikan bara api yang berterbangan menerpa baju atau rambutnya hingga menjadi keriting.

Kasim hafal bagaimana kuatnya suara “cah ceh coh” loko ketika kereta melambat jalannya, hingga baru menanjak, dan tiba-tiba berhenti. Saat itulah Juru rem disetiap gerbong sigap memutar engkol atau weng rem agar kereta tidak meluncur mundur kebelakang.

“Tulak…tulak…tulak! Nyang agam-agam tron bantu tulak…” Itu teriak keurani meminta penumpang yang laki-laki agar memdorong kereta.

Walaupun sedang berpuasa, kata Teuku Kasim, ia juga sigap turun ikut mendorong kereta bersama seratusan penumpang laki-laki, bahkan juga ada perempuan dan remaja.

“Sa..dua…lhee…..tulak!!!, teriak keurani memberi komando. Tahap pertama, kereta sangat sedikit bergerak dan berhenti lagi. Mungkin rem belum habis dilepas di setiap gerbong. Makanya kondektur memberi aba-aba agar melepaskan rem setelah dia berteriak satu, dua…tiga.

Satu jam di tanjakan Cot Geuleungku akhirnya kereta api bisa berjalan normal dengan kecepatan lima belas hingga dua puluh kilometre per jam. Dan akhirnya Teuku Kasim tiba di Geulumpang Minyeuk setelah dua hari menempuh perjalanan..

Lain lagi pengalaman Ismail, seorang teman saya di medan, yang mudik ke Banda Aceh dari Lhok Seumawe. Ia berangkat kala subuh, naik kereta api ekspres. Hujan September tahun enam puluhan itu menyiram stasiun Padang Tiji sebelum menaiki Seulawah.

Ia menaiki kereta dengan lokomotif hadiah pampasan perang Jepang BB 84. Beberapa tanjakan awal, kereta berhasil mendaki walau dengan suara loko cah ceh coh yang menyedihkan. Begitu meliuk di pinggang Seulawah menjelang puncak bukit kereta tak berdaya walau suara loko masih mendengus kuat. Roda loko berputar kencang, namun kereta tak bergerak karena relnya licin barusan disiram hujan lebat.

Penumpang sudah mahfum, kalau hujan kereta sulit mendaki. Makanya penumpang laki-laki berhamburan turun mendorong kereta tanpa aba-aba.

Ismail yang masih remaja kala itu tergerak hatinya ikut mendorong kereta. Namun, keurani melarangnya dan menyuruh siram pasir berbatu di atas rel agar rel tidak lin.

Lepas magrib dengan terengah-rengah dibantu dorong oleh penumpang, kereta sampai juga di stasiun Seulawah. Setelah itu rel menurun hingga Lam Tamot. Menjelang stasiun Seulimum rel mendaki sedikit.

Di stasiun Seulimum penjaja nasi dengan memakai keranjang besar sudah siap melayani penumpang yang kelaparan. Kereta tiba di Banda Aceh jam 11 malam. Terlambat 1 jam akibat rel licin di pinggang Seulawah.

Begitulah keadaan kereta api Aceh di era 1960an. Apapaun ceritanya, masyarakat Aceh sangat membanggakannya sebagai moda transportasi utama mulai dari Ulee Lheue hingga Pangkalan Susu.**

Komentar