Kanji Rumbi Sang Bubur “Puasa”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 31 Oktober 2013 | 12:33 WIB

Dibaca: 11 kali

Kanji rumbi, bubur dengan bumbu rempah, sayur dan beras disangrai yang wanginya menyeruak ke seisi “gampong” dari meunasah, di hari-hari ramadhan, kini, tidak lagi menjadi penantian panjang.

Kanji rumbi bukan lagi kuliner puasa. Kini kanji rumbi kini sudah menjadi kuliner harian di berbagai tempat, tidak hanya di Aceh, tapi sudah menebar hingga ke Batam, Medan, Jakarta bahkan Bandung.

Kanji rumbi, seperti menurut teman saya, Teuku Darwan, ketika kami menikmati kuliner “milik ramadhan” ini di Rumah Makan Atjeh Rayeuk, Jalan Ciranjang, Jakarta Selatan, di awal Oktober lalu, sudah berdiaspora dengan selera modern dalam balutan tradisi rempah, sayur, terutama pisang kepok, yang bercampur dengan beras tanak, selalu menghentak rasa di tenggorokan.

Kanji rumbi, juga di Banda Aceh, bukan lagi milik “kenduri” di masjid-masjid atau meunasah gampong. Ia sudah menjadi makanan “modern” dengan rasa “high top” di banyak sudut kota.

Tak percaya, datanglah ke warung kanji rumbi “Bombay” di jalan Chairil Anwar, tepat di depan Hotel Atjeh Barat. Persisnya lagi satu barisan dengan Apotik Kimia Farma Cabang Penayong. Warung yang sudah menjadi rujukan rasa kanji rumbi ini sudah ada sejak enam tahun lalu.

Warung Kanji Rumbi “Bombay” menyeruak di antara barisan pertokoan milik komunitas Cina di kawasan pecinaan yang padat itu. Untuk menggapainya sangat mudah. Dari arah Simpang Lima terus ke Panglima Polem belok kiri langsung bertemu dengan papan nama besar “Kanji Rumbi Bombay.”

Rusman, sang pemilik, hanya tertawa ketika ditanyakan kenapa harus “Bombay.” Dengan sedikit berkelakar ia mengatakan “nehi… nehi.” Maksudnya, harus keindia-indiaan.” Maklum akar dari kuliner sangat “indianis.”
Ya, kanji rumbi memang kuliner dengan jejak “indianis: Dari bumbunya kita tahu asal muasalnya.

Sebutlah bawang putih, bawang bawang merah, garam dan merica bubuk. Masih ada cengkeh, kapulaga, kayumanis, merica butiran, ketumbar,giling kasar, bunga pekak dan adas manis.

Dari bumbunya saja sudah mencerminkan dari mana ia datang. Tentu, dari bumbu lanjutannya, yang tak ketinggalan siraman kaldu, suir ayam yang berenang dalam adukan buburnya.

Masih ada tambahan potongan kecil pisang kapok yang kemudian, kala dihidangkan, masih ditaburi dengan seledri dan bawang goreng.

Cara memasaknya, menurut Rusman, amat sederhana. “Seperti memasak bubur seadanya,” ujarnya. Panaskan air dan gula pasir sampai air mendidih dan cemplungkan kayumanis, cengkeh dan kapulaga untuk kemudian saring airnya.

Lanjutkan dengan memasukkan potongan pisang kapok. Bila beras rebusan sudah masak dan semua bumbu sudah menyatu cicip dengan ujung liodah untuk menentukan rasa dan aromanya.

Membuatnya pun tak satu kali masuk, tapi beras disangrai dulu dengan aneka bumbu. Lalu kaldu rebusan ayam dimasak bersama beras, sudah terbayang bagaimana gurih dan hangatnya. Dan terbukti, meski kami makan dalam keadaan dingin, kelezatannya tetap bertahan. Tiap sendokan, terasa kekayaan bumbu, tanpa perlu ditambah kecap asin maupun sambal.

Lalu suwiran ayamnya pun tidak “plain” seperti bubur biasa. Ayam yang ditiriskan dari rebusan bersama bawang putih dan garam, lalu ditumis lagi bersama margarin. Sehingga baik ayam maupun buliran beras, sama kaya akan rasanya.

Masukkan beras yang sudah disangrai dan dicuci bersih ke dalam kaldu, masak bersama bumbu-bumbu yang sudah dimasukkan ke dalam kain tipis.

Panaskan margarin, tumis bawang putih yang telah dicincang halus, lembaran pandan yang telah dicuci bersih, dan daging ayam rebus yang telah disuwir.

Masukkan tumisan ini ke dalam beras. Masak sampai beras menjadi bubur.

Membuatnya pun tak satu kali masuk, tapi beras disangrai dulu dengan aneka bumbu. Lalu kaldu rebusan ayam dimasak bersama beras, sudah terbayang bagaimana gurih dan hangatnya. Dan terbukti, meski kami makan dalam keadaan dingin, kelezatannya tetap bertahan. Tiap sendokan, terasa kekayaan bumbu, tanpa perlu ditambah kecap asin maupun sambal.

Lalu suwiran ayamnya pun tidak “plain” seperti bubur biasa. Ayam yang ditiriskan dari rebusan bersama bawang putih dan garam, lalu ditumis lagi bersama margarin. Sehingga baik ayam maupun buliran beras, sama kaya akan rasanya.

Masukkan beras yang sudah disangrai dan dicuci bersih ke dalam kaldu, masak bersama bumbu-bumbu yang sudah dimasukkan ke dalam kain tipis.

Panaskan margarin, tumis bawang putih yang telah dicincang halus, 1 lembar pandan yang telah dicuci bersih, dan daging ayam rebus yang telah disuwir.

Kangen dengan gurihnya bubur kanji rumba? Datang saja menjelang dhuha ke Warung “Bombay. Anda bisa menikmatinya dengan menyantapnya di sana atau belu “bungkus” untuk di bawa pulang.

Komentar