Jelajah Sepeda Kompas di “Aceh Ketelatan”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 3 September 2013 | 14:15 WIB

Dibaca: 0 kali

“Ini jelajah sepeda eksotik. Kami sudah melewati heritage tsunami, jalan “California beach-amerika,” menyaksikan “Rigah “subic” to aceh, panas menyengat dan kelelahan yang dahsyat. Adios mas, kini kami melewati kebun sawit nagan,” begitu pesan pendek yang masuk di ponsel kami Selasa siang.

Kami tahu pengirimnya “Santos” seorang warga Bekasi, yang ketika pelepasan Jelajah Sepeda Kompas-PGN menjadi sahabat perbincangan ringkas dan sempat kami bekali dengan cerita unik lintas Aceh, barat-selatan.
Kami juga menitipkan sebuah “joke” kepadanya bahwa negeri yang bakal dilewatinya harus dihimpun dalam dua kata,”Aceh Ketelatan.” Santos sempat terbahak mendengar ocehan kami.

Tapi setelah ia sampai di Meulaboh, sang teman menelepon, dan setengah berteriak mengulang ucapan kami, “rombongan telah sampai di Aceh Ketelatan.” Untuk kemudian sang sobat bercerita selama lima belas menit tentang potensi negeri yang dilewatinya, dua kabupaten, Aceh Jaya dan Aceh Barat.

“Negeri kaya tapi melarat. Jalan bagus tapi lintasan sepi. Tolong Anda bekali saya tentang negeri ‘kemelaratan” ini,” tutupnya di tengah malam ketika ia menginap di sebuah hotel ukuran medium di Meulaboh.

Sedangkan, ba’da zuhur, Selasa, 3 September 2013, lelaki yang saya lupa mengeja namanya dan memanggilnya dengan akrab sebagai “Santos” ketika melewati perkebunan milik PT Socfindo di Seunagan dan Seumayam, menelepon sembari memberitahu “kok negeri sekaya ini disia-siakan.”

Saya hanya menjawab ringkas,”nanti setelah tiba di Blang Pidie saya akan ceritakan tentang perkebunan sawit tertua di nusantara itu. Sawit yang di “:landclearing” tahun 1924 dan tetap melestarikan Rawa Gambut Tripa selama puluhan tahun, tapi di ujung dasawarsa ini dimusnah oleh “pemakan tanah” atas rekomendasi dan “kebinatangan” tingkah pejabat.

Selebihnya saya tak menganggu Santos lagi ketika ia membalas dengan ucapan “good bye” rakan. Salam pertemanan yang saya ajarkan untuknya antara “ngon” dan “rakan.”

Kini, Jelajah Sepeda Sabang-Padang bersama Kompas- PGN sedang gowes menempuh jarak r 130 kilometer dari Meulaboh ke Blangpidie, Aceh. Jarak tempuh cukup panjang dari hari sebelumnya, yaitu Calang ke Meulaboh sejauh 90 kilometer.

Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan berkumpul di Kantor Bupati Aceh Barat dan disambut Bupati Aceh Barat Teuku Alaidin Syah. Alaidin mengatakan bahwa wilayah Aceh Barat akan selalu terbuka dengan para pesepeda yang ingin melintas.

“Seperti moto orang Padang; kalau enak beri tahu teman, kalau tidak enak beri tahu kami. Kita dengan tangan terbuka siap menerima teman-teman,” katanya.

Meulaboh, Aceh Barat, merupakan salah satu kota yang ramai penduduk. Rombongan Jelajah Sepeda melewati jalan perkotaan yang berbaur dengan kendaraan bermotor roda dua dan empat.

Iring-iringan Jelajah Sepeda dikawal oleh kepolisian setempat sehingga berjalan lancar. Peserta saat ini sedang beristirahat di daerah Nagan Raya setelah melewati tanjakan yang cukup tajam. Jarak tempuh yang sudah dilalui yaitu sekitar 40 kilometer. Tersisa 90 kilometer untuk sampai di Blangpidie.

Perjalanan ini merupakan etape keempat. Sebelumnya, peserta telah menempuh jarak Sabang-Banda Aceh sejauh 56 kilometer. Selanjutnya perjalanan dari Banda Aceh menuju Calang sejauh 154 kilometer, kemudian Calang-Meulaboh 90 kilometer.

Jelajah sepeda yang dipimpin Road Captain Marta Mufreni ini akan berakhir di Padang pada 13 September 2013 dengan total jarak tempuh mencapai 1.539 kilometer.

Komentar