Jejak “Heritage” Dunia di Georgtown

Penulis: Darmansyah

Minggu, 6 Oktober 2013 | 13:50 WIB

Dibaca: 0 kali

Lapangan terbang Bayan Lepas, bakda zuhur, Selasa, pekan ketiga September. Panas uap laut Selat Malaka menyapu ubun-ubun kami hingga mencekik kerongkongan ketika saya turun dari “malaysian air,” dalam muhibah yang entah keberapa kalinya ke negeri seberang ini.

Suasana bandara, ketika kami datang lagi, masih sangat cair dan mengesankan keramahan khas Pulau Pinang yang plural. Keramahan yang dipelihara oleh komunitas penduduknya yang memadukan seluruh unsur Asia dalam pusaran kultur melayu yang santun.

Bayan Lepas, adalah bandar udara Pulau Pinang. Terletak 16 km dari Georgetown, sang ibu kota. Dan bersebelahan dengan pusat industri, termasuk lembah silicon-nya Asia Tenggara, dengan nama yang sama, Bayan Lepas.

Bayan Lepas, selama dekade terakhir tumbuh menjadi “hub” untuk penerbangan kawasan Asia Selatan yang menjangkau hingga ke Guangdong, Sri Lanka, Bangkok, Medan sampai Jakarta, Denpasar dan nun Australia. Serta New Zealand sana

Hari itu, kami datang lagi “takziah” ke Pulau Pinang. Atau, bagi orang Aceh, sering terpeleset ketika menyebeutnya dengan sapaan pulau “peneng.” Dan secara “benar,” menurut perasaan mereka menyebutnya dengan Pulau “Penang.” Entahlah. Yang penting, entang peneng, pinang atau penang, semuanya mengidentifikasi pada sebuah pulau di pinggiran garis pantai semenanjung Malaysia, Pulau Pinang.

Di Bayan Lepas, hari itu, kami menjadi tamu Mister Chow. Cina campuran “hokian-kek” ini sudah menjadi sohib kami selama tiga puluh lima tahun terakhir. Cina peranakan ini sengaja mendatangkan kami hanya untuk dua kata,” melepas rindu.”

Hari itu Chow tak sempat menjemput kami karena ada jadwal “bisnis”nya yang tidak bisa ditinggalkan. Ia mengutus sopir dan pembantunya untuk menjemput kami. Sopirnya seorang “mandailing” bermarga siregar, sama dengan asal muasal istrinya yang boru “lubis,” disertai “kawalan” pembantunya yang merupakan perpaduan “melayu-bugis.”

Saya tak mengenal keduanya begitu keluar dari “gate” bandara. Tapi, dari robekan kotak rokok kami tahu dari tulisan yang tertera mereka adalah penjemput sesuai dengan kesepakatan saya dengan Chow ketika akan “take off” dari Kuala Namu, Deli serdang, satu jam sebelumnya.

Baik sopir maupun pembantunya Chow, yang kemudian saya tahu, kemudiannya, bernama Amrin Siregar dan Jamaluddin, pertanyaan pertama yang dihunjamkan mereka, usai ber”hello say’s” adalah, “Apakah Pak Chik datang kesini untuk berobat?”

Saya tertegun dan “heng” sejenak, untuk kemudian menyadari, ada yang salah dari promosi Penang yang sampai ke mereka, bahwa orang “seberang” yang datang ke territorial negara bagian itu adalah “turis” sakit.

Saya tertawa dan menjawabnya dengan sekenanya,”pesakitan.” Keduanya tak kalah tertegunnya ketika kami telah berada di mobil. Saya sengaja menekankan kata “pesakitan” untuk membuka cakrawala pengetahuan mereka tentang Pulau Pinang yang dulunya adalah tempat pelarian mereka yang tertindas di kampong halamannya. “Ya, saya pesakitan atau pelarian.”

Dan tak ingin membuat kedua “sobat” yang sudah memberi pelayanan kepada kami bertambah bingung, kami membuka kran kisah terbentuknya komunitas “gado-gado” Pulau Pinang sejak awal ia eksis sebagai “kota pulau” di Selat Malaka, hingga tumbuh sampai kini, kepada Amrin dan Jamaluddin, sebagai komunitas majemuk.
Pulau Pinang memang komunitas gado-gado dari India Tamil, Cina Manchu dan Melayu avantourir untuk

kemudian disambangi oleh Arab Hadramaut serta dipersatukan secara “demokratis” oleh Europa ala Franchis Light yang membangun Georgtown sebagai ibukotanya, dengan mempersilakan masing puak-puak memelihara serta mengukuh identitasnya kultural dan keyakinannya tanpa menghamburkan egoisme sektoral menjadi api permusuhan.

Pulau Pinang dengan sumbu utamanya Georgtown, akhirnya tumbuh melintas sejarah dengan menjadi entitas berlanskap “little india,” cina hokia, tamil eksis dan melayu, arab, turk dan pakistan urdu. Georgtown, kini, menjadi “kota heritage” dengan paduan arsitektur dan kultur anak bangsa penghuninya.

Kesepakatan antar puak inilah yang membuat Georgtown mampu melintas zaman tanpa harus digilas oleh rasa permusuhan dan aroganisme ras.

Ya, Pulau Pinang, memang sebuah komunitas pelarian seperti yang pernah saya baca dan kemudian ceritakan kebanyak orang, termasuk Amrin yang bermarga Siregar dan Jamaluddin yang ber-bin.Mohamad Sani. Keduanya ternganga begitu mengetahui Pulai Pinang menjadi milik semua, untuk semua dan bisa eksis bersama semuanya.

Saya sendiri kagumnya, sampai termehek-mehek dengan kultural yang eksis di Pulau Pinang, terutama di Georgtown. Pulau kecil yang merupakan Negara Bagian Malaysia ini terdiri dari dua bagian, Pulau Pinang seluas 293 km², dan “Seberang Perai” yang terletak di pantai barat Semenanjung Malaysia seluas 760km² .

Asal namanya dari pohon Pinang.. Pulau ini diasaskan oleh Francis Light pada tahun 1786. Pulau Pinang adalah negeri yang termaju dan terkaya dalam Malaysia dengan penduduk mencapai 1, 7 juta jiwa.

Kini otoritas Pulau Pinang di kuasai oleh Partai Pakatan Rakyat dengan pembagian kekuasaan antara puak melayu dan cina yang seimbang, dimana jabatan guvernour atau di negara bagian lain disebut raja, di pegang melayu dan kepala pemerintahan atau menteri besar, digenggam cina.

Pulau Pinang, dulunya sebelum memiliki pemerintahan otonomi sendiri, termasuk bagian dari Negeri Keudah, dan luasnya terkecil kedua, setelah Perlis. Namun dari segi kepadatan penduduk, menduduki urutan pertama. Negeri ini juga memiliki persentase penduduk muslim dan Melayu yang terendah diantara negara-negara bagian di Malaysia.

Selain kagum dengan harmoni kehidupan antar ras penghuninya, secara pribadi saya kagum teramat hebat dengan kemampuan otoritas pemerintahannya menjual Pulau Pinang sebagai destinasi wisata.

Potensi wisatanya tidak seindah Indonesia, atau Aceh, tapi Penang tahu cara menjualnya semahal harga emas. George Town, misalnya, mereka jual sebagai kota “heritage” dan mereka wariskan kepada dunia sebagai sebuah sejarah kerukunan antar ras dan umat.

Kota tua ini ketika kami datangi untuk kesekian kalinya tak pernah berubah letak dan berubah bangunan. Mereka memeliharanya seasri dulunya. Padahal, kota tua Jakarta, sebenarnya tak kalah dengan Georgtwon, tapi amblas oleh konsistensinya sendiri.

Dan saya teringat juga dengan banda Aceh yang punya pecinaan Peunayong dengan toko-toko tua di jalan A Yani bertiang beton besar dan berjendela sisir sirih, perpaduan arsitek Cina, Euro dan Melayu, tapi kini sudah dikoyak oleh permak mempermak yang nggak karuan.

Penang memelihara banyak destinasi dengan sempurna dan apik lewat terobosan sederhana. Datanglah ke Balik Pulau, Butterworth yang merupakan pusat pariwisata di pulau Pinang disana ada Prai, Air Itam, Gelugo, Batu Feringghi, Bayan Lepas.

Ada juga Seberang Jaya, Bukit Mertajam, Kepala Batas, Jawi, Bertam, Pantai Acheh, Teluk Kumbar, Gelugor, Bayan Baru, Jelutongdan Nibong Tebal.Semuanya mereka jual dengan promosi terpadi lewat konsistensi kebijakan yang padu.

Komentar