Asam Pedas “Rumahan” di Rodya’s

Penulis: Darmansyah

Minggu, 11 November 2012 | 11:24 WIB

Dibaca: 0 kali

Ini asam pedas rumahan. Itu yang dikatakan Avid sebagai salam pembuka ketika kami mencecahkan lidah pada hirupan pertama  kuah gulai kepala ikan bandi, nama lain dari kakap merah, yang “jalang” atawa encer.

Kuah asam pedas dengan irisan bumbu tomat kampung, belahan cabe muda, gilingan kunyit, bawang merah, bawang putih, sedikit ketumbar; ditambah cabe rawit yang pedasnya mengigit lidah dan membikin uap napas mengeluarkan desah  hap.. hup… di warung  Rodya’s,  persis di pusar Jalan Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat, pekan lalu.

Asam pedas atau sampadeh ayia namanya di Aceh barat-selatan, dan asam keung disebut di utara-timur sana,  secara prinsip hanya berbeda tipis dalam rasa.  Beda tipis  itu terletak pada pemakaian  bumbu asam sunti sehingga yang satu lebih asam belimbing dan lainnya agak kelat.

Asam pedas Meulaboh, seperti sampadeh barat-selatan lainnya tak menyertakan gilingan asam sunti seperti lazimnya asam keung di utara timur sehingga secara penampilan yang satu agak jernih sedangkan  yang berasam sunti biasanya berwarna keruh.

Memasaknyanya juga sedikit beda. Kalau yang dipesisir barat terlebih dahulu ditumis dengan sedikit minyak makan dan bawang rajangan. Yang lainnya langsung dimasak dengan bumbu yang telah diaduk. Dua-duanya berkuah air.

Di Meulaboh mau pun Tapaktuan masih ada satu jenis asam pedas dengan bumbu kelapa gonseng yang digiling. Agak berminyak Ikannya juga khusus sure dan sisik.

Oleh gelitik rasa asam pedas dengan kepala ikan karang  inilah yang menyebabkan kami mencari kembali warung mencari warung rumahan milik Avid, suami trendy yang katanya sudah merantau ke banyak negeri dan akhirnya kawin dengan gadis Meulaboh juga.

 

Sedikit sulit menemukan warung rumahan milik Avid ditengah kerimbunan pertokoan dan jejeran kedai nasi sepanjang jalan utama yang menghubungkan pusat kota tua dengan pangkal Tugu Pelor yang semrautnya minta ampun di tengah pertumbuhan pesat kota utama di pantai barat Aceh itu.

 

Ketika kami bersua dengan Rodya’s di tengah hari itu, setelah dua kali memutar lokasi yang sama,  asam pedas rumahan. Meulaboh  yang kami cari itu masih berasap.

Istri Avid, seorang ibu muda dengan satu anak yang masih balita, melempar senyum dan menyapa dengan dialek yang sangat gembur, Meulaboh yang akulturasi tuturnya bercampur baur antara Jamee, Barus dan Aceh sesuai dengan komunitas masyarakat penghuninya.

“Baru masak. Singgah lagi ya Pak!!”  Ibu muda itu sepertinya tahu kami kesulitan menemukan warungnya usai singgah  tiga bulan lalu dan menapaktilasi kembali hanya  untuk sebuah kenikmatan selera  mencicipi kuliner akulturasi Aceh, Padang, Barus dan Melayu dalam taste sangat Meulaboh.

Ya, kami singgah lagi, ketika dua perempuan bule setengah baya sedang memindahkan ikan panggang rambeu kepiringnya dan menimbunnya dengan tumis kangkung, tempe gulai, sayur brokoli serta menaburkan sambal tokok teri di atasnya.

Salah seorang bule itu tahu kami memperhatikan aksinya, menatap dengan sorot lucu. Memonyongkan mulut, menarik kulit keningnya ke atas  serta berkata dalam bahasa Indonesia yang bengkok, “Ouuww.. enakkk…”

“Mereka biasa sarapan dengan cara begitu, tanpa nasi,” ujar istri Avid menambahkan informasi tentang bule yang sehabis makan selalu ribet bercuap-cuap kepedasan dan mengibaskan tangannya ke mulut. “Setiap kali habis makan selalu begitu. Ribet mencerocos dan kemudian datang lagi,” kata Avid tergelak.

Warung Rodya’s memang teramat sederhana. Hanya ada tiga meja  kayu yang masing-masing dikelilingi  empat kursi di ruang dalamnya. Sedangkan di kaki limanya ada tiga kursi dengan satu meja. Dan yang asyiknya lagi pengambilan nasi dan lauknya prasmanan.

Untuk ukuran kantong pelancong yang singgah untuk makan siang, hitungan harga di Rodya’s termasuk sangat murah. Dua kepala ikan gulai asam pedas yang kami sikat habis ditambah sambal ketok teri, seporsi  gulai eungkot paya dan nasi tambah di hargai Rp.38 ribu.

Sewaktu kami klarifikasi dengan mengulang menu yang kami makan, Avid mengangguk tanda tak ada yang salah dan berkata, ”Kan warung rumahan.” []

 

Komentar