Arabika Gayo Kopi Punya Cita Rasa Terbaik

Penulis: Darmansyah

Selasa, 27 Maret 2018 | 09:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Kopi sudah menjadi minuman primadona, termasuk juga makanan olahan yang mengandung rasa kopi.

Selain memiliki banyak manfaat, minum kopi sudah menjadi gaya hidup tersendiri bagi banyak orang.

Sayangnya, tidak semua orang benar-benar memahami tentang kopi itu sendiri.

Padahal, potensi kopi di Indonesia telah mendunia.

Berdasarkan laporan CNN pada tahun lalu, ada beberapa nama kopi nusantara yang sudah dikenal di kancah internasional.

Pada umumnya kopi Indonesia yang mendunia tersebut berasal dari jenis arabika seperti kopi Gayo dari Aceh, kopi Mandailing dari Sumatera Utara, kopi Jawa dari Jawa Timur dan masih banyak lainnya.

Masing-masing varietas kopi tersebut memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda.

Perbedaan rasa ini, menurut laporan tersebut, tergantung pada ketinggian, kondisi kesuburan, ketersediaan unsur hara, serta kandungan kimia dari lahan yang menjadi media tanam kopi.

Hal itu juga diamini oleh Abinesta, barista dan pemilik kedai Ensikopidi yang juga tergabung dalam komunitas Baracik Muda Indonesia.

Abi menerangkan bahwa ada empat jenis varietas kopi yang sudah dikenal secara umum, yaitu arabika, robusta, exelsa dan liberika.

Ia menceritakan bahwa kopi arabika menduduki peringkat satu sebagai kopi terbaik dalam segi ekspor karena memiliki harga jual yang tinggi. ”

Arabika itu meduduki peringkat satu dari segi ekspor karena harga jual yang tinggi. Untuk robusta itu menduduki peringkat kedua.

Sementara exelsa yang rasanya unik seperti nangka, itu menduduki peringkat ketiga. Baru yang terakhir ini liberika,” paparnya.

Perihal rasa, Abi menjelaskan bahwa hal tersebut tergantung selera.

Namun, dari setiap jenis varietas kopi memiliki cita rasa khas yang menjadi karakter tersendiri bagi jenis kopi tersebut.

“Robusta rasanya pahit seperti rasa kakao yang pahit. Kalau yang arabika itu, dominan rasa asam karena tumbuhnya itu berada di ketinggian seribu mdpl. Kalau exelsa rasanya unik seperti nangka, sama seperti liberika,” papar pria berambut gondrong tersebut.

Abi juga mejelaskan, meskipun sama-sama beraroma seperti nangka, kopi liberika dan exelsa memiliki perbedaan yang mencolok.

Menurutnya, aroma nangka pada kopi exelsa lebih tajam daripada kopi liberika.

Sementara itu, aroma nangka pada kopi liberika ketika diseduh tidak setajam saat biji kopi jenis tersebut digoreng.

“Jadi, waktu biji kopi liberika digoreng itu aroma nangkanya keluar. Tapi, waktu diseduh aroma nangkanya berkurang. Nah, beda sama biji kopi exelsa yang waktu digoreng atau diseduh aromanya sama-sama kuat dan tajam,” paparnya.

Perbedaan ketinggian penanaman juga turut mempengaruhi kenikmatan kopi. Semakin tinggi daerah tempat kopi ditanam, maka rasanya pun semakin nikmat.

Menurutnya, ini disebabkan karena semakin tinggi pohon kopi, maka risiko biji kopi terserang hama semakin kecil.

Selain itu, cara menyimpan biji kopi juga turut mempengaruhi cita rasa yang akan dihasilkan oleh biji kopi itu sendiri.

“Kutu kopi itu biasanya ada di gudang dan itu bisa mengurangi cita rasa kopi. Jadi, kelembabapan udara dan cara penyimpanan juga harus diperhatikan,” tambahnya.

Untuk menyimpan biji kopi dengan baik, Abi menyarankan agar kita menyimpan biji kopi dalam suhu ruang dan jangan langsung meletakkan biji kopi di atas lantai.

“Suhu yang terlalu kering juga bisa membuat biji kopi mudah lapuk. Selain itu, menyimpan kopi juga harus dialasi oleh palet agar biji kopi tidak mudah lembab dan jangan menyimpan biji kopi bersama dengan barang-barang lainnya,” tambahnya.

Komentar