Akmal, di Mana Letak Lhok Keutapang?

Penulis: Darmansyah

Selasa, 25 September 2012 | 13:32 WIB

Dibaca: 2 kali

Lhok Keutapang? Tanyakan kepada Akmal Ibrahim, mantan Bupati Aceh Barat Daya, di mana letaknya dan bagaimana keindahan serta siapa pemiliknya. Akmal pasti akan terangsang birahinya untuk mengisahkan destinasi itu. Ia pasti pula akan berbinar-binar kalau disebut nama Tjoet Bang, sang pemiliknya. Juga, sang mantan bupati, tak akan melewatkan ulangan cerita makan durian hingga “mabuk” dan kegiatan memanggang ikan rambeu, kakap merah bercampur jinara dengan pelepah kelapa di akhir pekan, pada lekuk pantai berpasir putih itu.

Lhok Keutapang tentu saja bukan hanya Akmal Ibrahim, Tjoet Bang, bentangan pantai, jejeran pohon kelapa dan gunung kecil yang bagaikan gadis bunting. Tetapi, Lhok Keutapang juga memahat sebuah nama lain di ubun-ubunnya. Seorang asing dari belahan pucuk donya sana, Daud Jerman.

Lelaki bule yang menikahi perempuan lokal dan membangun resor di tebing gunung arah Lhok Kruet itu begitu populernya di kalangan peziarah. Andaikan pemilihan bupati secara langsung diperhelatkan di tahun-tahun itu, dan Daud Jerman mencalonkan diri, mungkin bisa mendapat suara terbanyak. Dan menjadi Bupati di Aceh Barat sebelum pecah menjadi tiga kabupaten seperti sekarang.

Dua lelaki terakhir itu, Tjoet Bang dan Daud Jerman telah “kembali”, Tapi Lhok Keutapang tidak pernah mati, walaupun resor si bule dan home stay Tjoet Bang telah mampus disapu humbalang tsunami hingga tak meninggalkan sedikit bekas telapaknya. Tapi, hingga hari ini, Lhok Keutapang masih tetap utuh dengan desain destinasi barunya hasil renovasi “tangan” Tuhan.

Kalau dulu pantainya simetris dari ujung gunung Lhok Kruet ke ujung Lhok Ketapang sendiri, kini garis pantainya sudah melengkung bak perempuan tidur menekuk. Ujung kedua gunungnya yang menunggingkan “pantatnya” ke tubir laut ketika kami datang dan membandingkan dengan delapan tahun lalu, terlihat makin jauh menjamah samudera sehingga teluk yang terbentuk oleh gigi gergasi yang mengunyah tanahnya terasa semakin luas.

“Hamparan pasirnya, tempat ombak menjilat ujung pantainya juga semakin lebar sehingga mampu menghambat laju abrasi,” kata Sulaiman Husein, penduduk Lhok Ketapang yang menyapa kami di pelataran bukit kecil, tempat sebuah warung nasi milik seorang pendatang dari Bireuen menanggung rezeki, setelah kontraktor jalan bantuan US-AID Banda Aceh – Calang meratakannya.

Lhok Keutapang ya Tjoet Bang. Dan Tjoet Bang itu adalah Teuku Rosman, Bupati Aceh Barat di pertengahan tahun 80-an. Bupati teman karib Akmal Ibrahim, kala itu reporter sebuah koran lokal, yang banyak menulis tentang kegiatan Tjoet Bang, termasuk Lhok Keutapang, hingga keduanya menjalin hubungan emosional yang dalam.

Tjoet Bang, ketika masih hidup, memang punya ambisi besar untuk menjadikan Lhok Keutapang sebagai tepat wisata lokal. Ia membeli tanah pantai itu dari penduduk dengan harga menggiurkan dan membangun fasilitas seadanya berupa saung-saung beratap rumbia di sepanjang pantainya. Ia juga membuktikan lokasi itu aman dari khalwat dengan memberlakukan aturan yang ketat di antara pengunjung. Sehingga pengunjung yang datang ke lokasi wisata itu lebih banyak keluarga yang betul-betul membutuhkan suasana segar.

Saat itu belum ada qanun-menganun yang meretorikan syariat. Belum ada pula Wilayatul Hisbah (WH) alias polisi syariat. Tapi semua orang tahu batasannya, sehingga tidak melabrak kultur yang ada.

Pembuktian Lhok Keutapang sebagai destinasi wisata telah berlalu lebih dari dua dasawarsa. Kala itu ratusan orang berkunjung ke pantai itu dari Meulaboh maupun Koetaradja di hari Minggu, dan Tjoet Bang hanya tertawa menyaksikan dari sebuah jambo sederhana di seberang home stay-nya sambil menggigit filter rokoknya, menekuk kaki ke kursi dan menghirup kopi dari termos mini.

Tjoet Bang juga bisa tertawa dan berkomentar dengan suara garau berdialek Aceh yang kelat tentang bermunculannya jambo-jambo milik anak kampung itu mengais rezeki dengan berjualan minuman. Ia menikmatinya sebagai berkah berbagi.

Lhok Keutapang di ujung pekan kedua September lalu. Kami sengaja singgah dalam perjalanan mudik dan berlama-lama sembari makan siang di warung nasi milik keluarga asal Bireun di pinggang bukit yang dicacah kontraktor Adi Karya. Kami banyak bertanya ke pemilik warung tentang lokasi tempet mereka jualan dan mendapat sedikit jawaban karena alasannya, “saya bukan asoe lhok.”

Yang mereka tahu tanah tapak warung mereka itu milik keluarga Tjoet Bang dan istri pemilik warung mengarahkan telunjuknya hingga ke ujung selatan sana sebagai lahan milik bupati yang telah tiada itu.

Kami menelusuri kembali garis pantai milik Tjoet Bang itu dan tergagap ketika menatap keindahannya tak pernah luntur. Ada dua pulau karang kecil di tubir samudera dengan jaloe yang digelitik pantatnya oleh ayunan gelombang. Ada dua ujung gunung yang menusuk laut dan pohon kelapa yang berjejer, tapi tak ada pengunjung yang mandi di pantainya seperti dulu.

Yang tersisa ketika kami takziah itu hanya senyap menggayut. Senyap yang menjuntai di tempat yang pernah sangat populer dan menjadi mainan di ujung lidah penduduknya.

Hari itu kami terusik oleh banyaknya retorika pejabat daerah yang menganggarkan dana pariwisata di APBD-nya. Mereka mengecat langit dengan mimpi untuk mendatangkan turis mancanegara, seperti yang dicanangkan pemerintah provinsi dengan menetapkan program Visit Aceh Year untuk tahun 2013. Tahun kunjungan berbiayai puluhan milyar rupiah yang dimulai dengan studi banding para pejabat hingga ke manca negara, tapi mengurus sebuah lokasi menawan seperti Lhok Keutapang saja tidak becus.

Ada kepedihan yang datang di ujung pekan itu ketika mendengung kembali sebaris kalimat dari seorang staf USAID, ketika kami mendampinginya beberapa tahun lalu ke Aceh Jaya. “Anda tahu? Ini jalan jauh lebih indah dari jalan di pantai California.” Ia mengulang berkali-kali kata, “all beautifull” sepanjang perjalanan kami menuju Calang. Padahal saat itu kondisi ruas jalan masih morat marit.

Ia juga mengatakan, tidak ingin memindahkan trace jalan dari bibir pantai walaupun ada pilihan lain untuk itu dan mungkin berbiaya murah. Ia tak peduli terhadap studi berdurasi ramalan bahwa jalan yang dibangunnya itu nanti akan dimakan lagi oleh hantu tsunami. Yang mereka tahu kenikmatan perjalanan akan menjadi milik anak negeri ini. “Kami ingin memberikan perjalanan yang menyenangkan kepada Anda,” katanya. []

Komentar