Warisan Bondan, Kopi Oey di Pojok Sabang

Penulis: Darmansyah

Kamis, 30 November 2017 | 08:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman media terkenal  online “cnn”  hari ini, Kamis, 30 November, menulis tentang warisan  Bondan Winarno  tentang “kopi oey” di sebuah tokoh di “pojok” jalan Sabang.

Ya, Bondan bukan hanya dikenal sebagai sosok pakar kuliner yang terkenal  ia  ternyata  juga orang yang bisa menikmati makanan enak.

Selain itu ia  Bondan  adalah  pengusaha kuliner.

Bondan memiliki restoran makanan Melayu, termasuk Indonesia dalam daftar menunya. Restorannya dikenal dengan nama Kopi Oey.

Kopi Oey terletak di Jalan H. Agus Salim atau lebih terkenal dengan nama Jalan Sabang, ia persis berada di pojok perempatan.

Rimbunnya pohon untungnya tak menutupi papan nama bertuliskan “Kopi Oey” plus aksara China putih berlatar merah.

“Hanya satu yang tak terlupakan, kala senja di gereja tua.”

Lagu Gereja Tua milik Panber’s melantun syahdu dengan aransemen campur sari. Ruangan restoran terlihat tak begitu besar. Lampu-lampu digantung dan ditutup dengan ‘sangkar’.

Kesan ‘lawas’ semakin terasa dengan keberadaan hiasan dinding nan unik. Coba perhatikan lantainya. Lantai tegel bermotif makin memperkuat kentalnya suasan ‘jadul’ di tempat ini.

Totalitas aroma ‘tempo doeloe’ juga merasuk hingga ke buku menu. Cover ala koran jaman dulu dengan ejaan yang belum disempurnakan.

Tata bahasa zaman dulu juga dipakai dalam buku menunya. Gaya bahasa ini juga kerap digunakan Bondan Winarno saat menjawab pertanyaan di Twitter.

Deret menu kopi berjajar, tapi pilihan jatuh pada menu kopi andalan, yakni Koffie Soesoe Indotjina.

Nama yang cukup ‘catchy’ sekaligus bikin penasaran.

Kopi datang. Kopi susu tersaji dalam gelas, di atasnya terdapat coffee drip dengan kopi yang masih menetes.

Warna hitam putih menandakan kopi belum diaduk. Sejenak menunggu, kemudian kopi diaduk. Rasanya? Seperti kejutan.

Begitu diseruput, rasa pahit langsung ‘nendang’ tapi kemudian disusul rasa manis susu.

Herannya, bukan amis susu yang tertinggal di mulut, tapi sedikit rasa pahit yang terasa di awal.

Bagi yang terbiasa berkawan dengan single origin alias kopi hitam tanpa ‘oplosan’, mungkin bisa menikmati kopi susu ini.

Di sini juga terdapat beberapa pilihan makanan ringan, tapi tetap saja, mencoba menu andalan jadi kewajiban.

Singkong Sambel Roa pun tersaji. Sebenarnya ini hanya singkong goreng biasa buatan ibu di rumah, tapi terdapat sambal roa. Sambal tidak terlalu pedas jadi tak perlu khawatir lidah bakal terbakar karenanya.

Pelayanan juga patut diacungi jempol. Pasalnya, restoran ini memerhatikan kualitas makanan yang mereka sajikan.

Suatu saat, saat makan di tempat ini, saya sempat protes kepada pramusaji. Makanan saya saat itu terasa sangat asin hingga saya jadi enggan untuk menyantapnya.

Pramusaji pun langsung meminta maaf atas hal itu. Tak ada niat minta diganti dengan makanan baru lainnya, niat saya hanya untuk menginformasikannya saja.

Rupanya, mereka tak cuma sekadar minta maaf atas kejadian tersebut. Dalam kertas tagihan makan, saya mendapati bahwa makanan yang keasinan tersebut tak perlu dibayar alias gratis.

Saya pun buru-buru mengonfirmasinya kepada pencatat tagihan mengapa tak ada nama menu yang saya makan dalam tagihannya.

“Karena kesalahan kami, jadi Anda tidak perlu membayar makanan tersebut,” kata sang pramusaji.

Tampaknya hal ini juga menjadi salah satu prosedur dari Bondan untuk mendengarkan suara konsumen.

Dalam akun Twitternya, Bondan juga pernah mendapat masukan soal menu makanan di Oey. Bondan pun menjawab dengan bijak, bahwa dia akan mencatat dan memberinya perhatian lebih.

Tak cuma nuansa jadul yang ‘ngangenin,’ makanan lezat, dan pelayanan baik, Oey juga memberikan harga wajar untuk makanannya.

“Saja berfikir keras oentoek bisa mendjadiken koffie bermoetoe di tempat njang njaman, tetapi harganja tida bole mahal.”

Kalimat ini tertera di awal buku menu.

Tampaknya ini sejalan dengan tagihan yang diterima. Koffie Soesoe Indotjina dihargai dua puluh ribu rupiah  dan Singkong Sambel Roa dua puluh satu ribu rupiah.

Kurang dari lima puluh ribu rupiah, nikmat kopi dan hangat suasana ‘tempo doeloe’ bisa dinikmati bersamaan.

Komentar