Ini Dia, “Iron” Wali Tri Rismaharini

Penulis: Darmansyah

Selasa, 10 Desember 2013 | 16:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Seharusnya Tri Rismaharini atau dipanggil Risma yang harus di aplaus media dalam menata kota, pemerintahan dan administrasi pembangunan. Bukan Jokwi. Rima, yang dikenal dengan banyak sapaan, mulai dari “Bu Giman,” gila taman, atau “Iron Wali,” wali kota bertangan besi.

Ya Risma adalah “super hero” pemerintahan. Ia telah berhasil membuat Surabaya sebagai sebuah kota idaman dari sebuah kawasan centang prenang. Sebut saja taman terbaik, pemukiman terbaik, sistem pemerintahanh terbaik bahkan bisa mengenyahkan korupsi lewat penggunaan sistem keuangan yang sederhana.

Ketika berbicara di Istora Senayan, perempuan lima puluh dua tahu jebolah teknik ITS, memukau semua orang lewat gaya kocaknya memaparkan episode serta prolog dan epilog bagaimana ia mengantarkan Surabaya menjadi kota prestise.

Risma saat berbicara dalam acara ‘Seminar nasional koordinasi dan supervisi pencegahan korupsi’ di Istora Senayan, Jl Asia Afrika, Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2013, membuat dua pimpinan KPK, Adnan Pandu Praja serta Busyro Muqoddas, terpukau.

Di awal sambutannya, Risma mengatakan sudah menggarap banyak proyek di Surabaya. Salah satunya proyek kesehatan bagi masyarakat miskin. “Namun semua itu sudah diperiksa di TKP tidak ada temuan hasil korupsi, jadi kota saya Surabaya itu bersih dari korupsi sejauh ini,” kata Risma yang disambut tepuk tangan 181 hadirin perwakilan dari beberapa daerah lain.

“Saya pernah sidak dan ada pegawai kecamatan yang masih tidur. Saya tendangi semua, “Ayo bangun,” ha-ha-ha….,” kata Risma. Namun Risma tidak menutup mata. Bagaimana anak buahnya bisa bekerja cepat kalau penghasilannya kecil.

“Saya harus pikirkan bagaimana kebutuhan dasarnya bisa terpenuhi, bisa menyekolahkan anak, dan beli rumah. Tidak bisa lebih memang, karena pegawai negeri itu dibatasi oleh ketentuan-ketentuan. Kalau mau lebih ya jadi pengusaha saja,” kata Risma.

Selama setahun pertama masa pemerintahannya, Risma harus mengajari para birokrat. Dia ingin semua anak buahnya bekerja cepat.

“Misalnya harus mengajari, kalau terjadi kebakaran, Dinas Sosial harus datang menyiapkan bantuan baju dan makanan. Tapi sekarang sudah jalan, mereka koordinasi sendiri, saya tinggal terima laporan. Seperti saat menangani bonek (bondo nekat/modal nekat), mereka sudah tahu harus menyiapkan truk dan makanan,” kisahnya.

Meski demikian, Risma tetap sering turun ke lapangan. Misalnya dalam penanggulangan banjir, Risma langsung mengecek ke lapangan.

“Kalau ke lapangan, mobil ndak bisa, saya sering naik motor juga. Kalau ndak ya jalan kaki. Pernah waktu lihat saluran air di Wonokromo, jatuh kepleset sampai kaki patah. Ndak ada yang tahu itu dan ndak ada fotonya, soalnya saya sendiri, jam lima pagi,” jelasnya.

Untuk kecekatan dan kerja kerasnya ini Risma digelar dengan “Iron Wali.” Namun karena kepemimpinannya yang tegas dan berani, dia sempat diganjal para anggota dewan.

“Iya, ternyata belum satu bulan menjabat sudah mau diturunin, ha-ha-ha. Saya mau diturunin, disidang sama 50 orang, bisa ketawa-tawa,” kata Risma mengenang awal masa kepemimpinanya menjadi Wali Kota Surabaya.

Namun Risma tak takut menghadapi para anggota dewan. Dia menjalani dengan tenang dan menjelaskan kepada anggota dewan tentang program-programnya.

“Tanya teman-teman, saya ndak bingung. Ngapain saya harus bingung, kalau Tuhan memberikan kepercayaan cuma satu bulan ya ndak apa-apa,” ungkapnya polos.

Dia menuturkan sebenarnya sejak awal dia tidak mau menjadi Wali Kota Surabaya. Namun karena banyak dukungan akhirnya dia mau diusung PDIP duet dengan Bambang DH.

“Saya dulu juga ndak mau kok. Tapi sekarang dengan DPRD ndak ada masalah,” kisah sarjana arsitektur ITS ini.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani sampai dapat julukan ‘Bu Giman’ alias Bu Gila Taman, lantaran semangatnya dalam membenahi taman-taman di Surabaya. Namun Risma juga menyelamatkan moralitas warga Surabaya dengan membasmi pelacuran.

Sejak memimpin pada tahun 2010, Risma telah menutup sejumlah lokasi prostitusi dan sedang berupaya menutup berbagai ‘distrik merah’ di Surabaya.

Lokalisasi yang sudah ditutup antara lain Tambakasri, Klakahrejo, dan Bangunsari. Sementara sejumlah prostitusi yang sedang diupayakan ditutup antara lain Gang Doli dan Jarak yang ditargetkan ditutup tahun 2014, dan Sememi Jaya alias Moroseneng yang ditargetkan ditutup akhir tahun 2013 ini.

“Mereka itu orang yang rentan, karena mereka sebetulnya orang yang tertindas. Saya mendapati ternyata korbannya itu anak-anak SMP yang tidak ingin atau merasakan kehidupan itu,” kata Risma mengutarakan alasan dirinya begitu respek terhadap penutupan prostitusi.

Risma menuturkan, ada praktik rentenir yang menjerat para PSK. Hal itu yang membuat para PSK tak bisa keluar dari lembah hitam.

Dalam memberangus prostitusi, Risma tak mencontek penutupan prostitusi di Jakarta seperti di Kramat Tunggak. Membereskan prostitusi di Surabaya, menurut Risma, cukup sulit.

“Di Jakarta itu tanah pemerintah, sehingga mereka mudah untuk menutupnya. Tinggal kita bersihkan lalu gunakan untuk keperluan lain. Kalau di Surabaya tidak, itu tanah milik masyarakat, mereka membaur dengan kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

“Jadi mereka itu kami dekati. Secara dunia kami dekati, secara akhirat juga kami dekati. Satu tahun lamanya saya dekati. Masing-masing wali kota memiliki perbedaan pendekatan. Tapi saya mau mengubahnya.

Kalau kita tidak berubah, perubahan itu yang akan menggilas kita. Itu yang saya katakan kepada mereka, tidak mungkin kan anak-anak mereka akan mengikuti cara hidup mereka

Semula Risma tak mau ikut Pilwakot kalau elektabilitasnya rendah. Tapi apa daya, baru survei awal saja dia sudah cukup populer. “Saya tegaskan tidak mau kalau survei di bawah 20 persen. Tapi kok di survei awal sudah 22 persen,” katanya.

Risma kemudian maju Pilwakot Surabaya berdampingan dengan Bambang DH, Wali Kota Surabaya incumbent kala itu. Keduanya diusung oleh PDIP.

Risma pun sempat menelepon banyak kerabat meminta dukungan. “Tapi semua saya teleponin. Saya telepon guru ngaji, dia memberi dukungan. Habis itu ya sudah, saya anggap Tuhan memberikan kepercayaan ke saya. Tapi kan belum tentu jadi,” kata eks Kepala Dinas Pertamanan Surabaya ini polos.

Perihal duetnya dengan Bambang DH, Risma pun tak terlalu banyak tahu. “Ya itu, teman-teman muda yang mengurusnya. Saya ndak ketemu mereka partai politik,” ungkap Risma yang dikenal tegas membasmi prostitusi di Surabaya ini.

Komentar