Idris Sardi Tak Ingin Disebut Maestro

Penulis: Darmansyah

Senin, 28 April 2014 | 15:29 WIB

Dibaca: 2 kali

Setelah memberikan semuanya, Idris Sardi pun mengakhiri perjalanannya hidupnya. Dan pergi. Ia berpulang di usia tua, di pagi Senin, 28 April 2014, setelah memberikan sepenuh jiwanya karya-karya abadi tentang musi Indonesia. Ia pergi. Tapi karya-karyanya akan tetap tinggal abadi dan tak akan pernah hilang meski kini ia telah berpulang.

Idris besar musik negeri ini yang di awal karirnya menggunakan kebermusikannya sebagai alat perjuangan.

Dia bermusik sejak musik masih jadi alat perjuangan. Karyanya akan abadi karena sudah banyak dicatat dan dibukukan untuk dijadikan referensi. Indonesia bukan saja kehilangan tokoh besar. Tetapi juga saksi dari perjalanan musik.

Kita masih menyisakan Titiek Puspa, seorang yang berkiprah di musik era lima puluhan. Sebelum musik itu sebagai industri komersial seperti sekarang.

Idris Sardi memang telah pergi. Di usia tua, Senin pagi ini, 28 April 2014, Idris Sardi menutup mata.
Raganya tak kuasa menahan sakit yang dideritanya, yang menyebabkan Idris terbaring lemah sejak akhir Desember 2013. Violis yang sudah merekam karya-karyanya dalam compack Disc ini menderita penyakit semacam slam yang bersarang di lambung sampai mengganggu kerja katup paru-paru dan juga mengidap penyakit lever.

Mengenang Idris adalah mengenang seorang seniman tulen. Seniman yang berkarya untuk Tuhan dan untuk bangsa ini: Indonesia.

Namanya melegenda sebagai seorang maestro biola, walau pun ia sendiri tak senang di beri predikat itu. Di samping itu, dia juga seorang aranjer yang mumpuni, sehingga beberapa kali beroleh penghargaan sebagai ilustrator musik film.

Tulisan ini adalah sebuah rekaman kebersamaan Jody Yudhono bersama Idris, sebelum sang maestro biola itu tak berdaya lantaran sakit yang menyerangnya. Semoga kita bisa mengambil tauladan darinya.

Pertama kali kami bertemu dan berhadap-hadapan awal tahun sembilan puluhan. Saya masih jadi wartawan musik, sedang Idris Sardi adalah “dewa” biola Indonesia.

Kala itu Idris sedang sibuk sebagai ilustrator musik pertunjukan Teater Populer pimpinan Teguh Karya berjudul “Inspektur Jendral” karya Nikolai Gogol. Uutuk melengkapi wawancara, saya pun beberapa kali bertemu dengannya, baik di tempat latihan di Sanggar Teater Populer, daerah Kebon Kacang, Tanah Abang, maupun di kediaman Idris di daerah Perdatam, Ulujami, Pasar Minggu.

Kesan pertama yang muncul kala itu, Idris adalah musisi yang super tegas saat memimpin sebuah kelompok musik. Anggota orkestranya yang dia libatkan dalam pementasan “Inspektur Jenderal” kala itu adalah para tentara aktif atau mereka yang tergabung dalam Korps Musik Angkatan Darat.

Ya, Idris sendiri karena kehebatan dan dedikasinya yang tinggi pada Tentara Nasional Indonesia, akhirnya beroleh pangkat tituler.

Idris tercatat pernah menjadi Anggota Kopassus dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Tugasnya adalah mengajar musik. Tetapi tak lama. Meskipun mantan Anggota Kopassus tetapi di dalam photonya, Idris tidak memakai baret merah, melainkan baret hijau.

Itu karena Idris juga mendapat tugas membina Korps Musik TNI. Tercatat beliau menciptakan beberapa mars untuk Kesatuan TNI. Salah satu di antaranya adalah ‘Mars Wira Amur’ sebagai lagu tradisonal Korps Penerbangan TNI-AD.

Idris Sardi bergabung dengan TNI karena panggilan tugas, bukan keinginan sendiri. Karena itu tidak melalui pendaftaran atau seleksi terlebih dahulu, melainkan langsung masuk

Yang masih ingat dari ucapan beliau kala itu, bahwa musik adalah sebuah kedisiplinan. Semua tertata dengan akurasi dan presisisi yang matap. Mulai dari nilai not hingga tempo. Itulah sebabnya, Idris tidak mau ada kesalahan saat memainkan musik. Maka tak heran, bentakan dahsyat kerap muncul dari mulut Idris jika salah satu anggota kelompok musiknya melakukan kesalahan.

Lama tak bertemu secara langsung, saya hanya mengamati Idris dari kejauhan. Hingga sekira 20 tahun kemudian, kami dipertemukan kembali. Saat bertemu di sebuah acara “Petang Sastra” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tahun 2012, saya sudah kembali menjadi musisi. Kami pentas pada panggung yang sama.

Perubahan besar rupanya terjadi pada Idris. Dia yang tampil terlebih dahulu nampak gelisah. Sebab sound system yang disediakan panitia rupanya jauh dari yang disebut berkualitas. Saya yang telah faham dengan tabiat Idris mulai cemas, khawatir Idris akan meledak. Panitia dan penonton ikut tegang manakala pengeras suara mendenging tak karuan saat Idris memainkan biolanya. Tapi apa yang terjadi kemudian?

“Ini semua kesalahan saya,” kata Idris tegas.

Tentu saja seisi ruangan bingung, beberapa di antaranya berhadap-hadapan dengan tanda tanya di kepala.

“Ya, semua kesalahan saya. Seharusnya saya membawa sound system sendiri agar pertunjukan saya sempurna. Ini kesalahan saya. Panitia sudah berupaya semaksimal mungkin.”

Yang tak kalah mengejutkannya adalah saat saya usai tampil. Begitu saya turun panggung, Idris berdiri, mendekati saya, lalu memeluk saya dengan erat. Dia tidak bicara apapun, tapi saya merasakan dukungan yang penuh atas usaha saya menyanyikan karya puisi agar bisa lebih diterima oleh masyarakat.

Beberapa bulan kemudian kami bertemu kembali di rumah keluarga Hasjim Ning untuk sebuah acara melepas perjalanan budaya beberapa seniman Minang ke Serbia. Malam itu, saya baru tahu, permainan piano Idris sama bagusnya dengan gesekan biolanya.

Sebagai seorang komposer dan aranjer, Idris bisa sedemikian cepatnya ‘mengulik’ lagu yang baru didengarnya melalui permainan pianonya, sehingga menghasilkan aransemen baru pada lagu yang digarapnya secara on the spot.

Malam itu; saya, Fadli Zon, Linda Djalil, Taufiq Ismail dan isteri, Evawani Chairil Anwar, dan tamu lainnya takjub menyaksikan permainan Idris. Kami pun menghadahinya dengan tepukan hangat yang panjang. Saya sendiri menjadi salah seorang yang merasa beruntung, karena bisa menyaksikan kehebatan musikal seorang Idris melalui permainan pianonya.

Pertemuan kembali terjadi di Fadli Zon Library, di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat. Siang itu, Fadli Zon menjadi tuan rumah, sederhana ulang tahun Idris Sardi yang ke-75. Para sahabat berkumpul, ada yang dari kalangan politisi, akademisi, perupa, musisi, penyanyi, dan artis.

Sebagai penghormatan atas acara tersebut, Idris pun menggelar mini konser. Dia dibantu oleh seorang pemain solo organ. Sebelum memulai pertunjukan, Idris berucap, “Kalau saudara-saudara tidak memerhatikan dan duduk di sini, saya tidak mau main.”

Setelah hadirin duduk dan fokus ke panggung kecil di lantai tiga Fadli Zon Library, Jakarta, Idris pun memanggil Fadli untuk mendampinginya sekaligus bernyanyi.

Maka sepasang sahabat itu pun membawakan lagu “Ayah” karya Rinto Harahap. Lagu ini dipilih sebagai pembuka pertunjukan, menurut Idris karena dirinya dan Fadli sama-sama ditinggal pergi ayah mereka saat masih kecil.

Selain itu, masih menurut Idris, lagu pop Indonesia itu ya karya-karya Rinto Harahap, “Untuk pernyataan ini, saya pernah dikritik habis oleh kawan-kawan. Tapi saya tetap kukuh mengatakan bahwa lagu pop Indonesia ya punya Rinto. Lagunya apa adanya dan kata-katanya sederhana.”

Beberapa bulan kemudian, tepatnya di awal puasa pada Ramadhan tahun 2013, saya bertemu kembali dengan Idris. Kala itu, saya dan Idris sama-sama menjadi pengisi acara peresmian patung Chairil Anwar di Rumah Budaya Fadli Zon, di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Sehabis berbuka puasa pada Jumat petang, 25 Julin 2013, saya menuju aula untuk melakukan check sound. Dibantu oleh teknisi yang dibawa Idris Sardi dari Jakarta, saya pun mulai mencoba gitar dan vokal saya agar esok, saat pertunjukan, bisa tampil baik

Seusai saya melakukan gladi bersih, Idris Sardi bicara lantang kepada saya dan Fadli, “Sungguh tidak adil kehidupan,” ujar Idris. Saya pun bertanya, apa maksudnya?

Idris lalu menerangkan, seharusnya negara memberikan tempat yang layak bagi para seniman yang sungguh-sungguh menjalankan profesinya sebagai seniman dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas dengan memberikan ruang seluas-luasnya untuk berekspresi.

Saya diam saja. Saya tak juga menanggapi, apakah pernyataan itu ditujukan untuk membela saya dan diri Idris, atau orang lain. Tapi dalam hati saya setuju dengan pernyataanya. Lalu saya pun jadi ngelantur. Jangan-jangan kehidupan bangsa ini menjadi semrawut salah satunya adalah gara-gara telinga, hati, dan otak kita senantiasa dijejali oleh karya-karya seni yang cuma mengabdi ke pasar, tidak ke kualitas. Entahlah.

Dini hari, seusai makan sahur, kami pun berbincang di meja makan. Kepada saya, Idris bercerita mengenai perjalanan hidupnya yang getir. Di antara ceritanya itu, terselip juga pernyataan-pernyataanya yang kada mengejutkan. Tiba-tiba, dia bilang begini, “Saya ini pendosa”.

Saya pun bertanya keheranan dengan pandang mata saya.

Tanpa saya minta, Idris pun menjelaskan. Katanya, dirinya yang diberi karunia yang sedemikian besar dalam bermain biola, sejak tahun 1958 sudah tidak berlatih lagi. “Harusnya saya bersyukur diberi kemampuan menggesek biola dengan latihan minimal sejam sehari. Tapi itu tidak saya lakukan,” ujar Idris.

Tapi anehnya, tambh Idris, dirinya tidak kehilangan kemampuan menggerakkan jari-jarinya, bahkan untuk tempo-tempo cepat yang di luar nalar.

“Makanya saya percaya betul bahwa yang memainkan biola itu bukan saya, tapi malaikat,” tutur Idris seraya mengatakan, bahwa tiap kali hendak memainkan biola hanya ada dua hal yang dipikirkan. “Saya bermain biola hanya untuk dua hal. Yang pertama untuk Tuhan, dan yang kedua untuk Indonesia.”

Indonesia bagi Idris adalah darahnya. Dia boleh saja belajar musik klasik sampai menjadi kampiun, tapi jiwanya tetap Indonesia, rasa musiknya tetap Indonesia.

Kini, tidak akan ada lagi perjumpaan dengan dia yang saya panggil Mas Idris. Idris Sardi lahir di Batavia, Hindia Belanda pada 7 Juni 1938. Sulung dari delapan bersaudara ini terakhir melakukan konser pada 16 Desember 2013 bertajuk “Konser Tunggal Maestro Biola Idris Sardi”.

Selamat jalan Mas Idris. Selamat menikmati kesempurnaan konser sebagai penggenap hidupmu.

Tulisan Yodi Yudhono, Wartawan Senior

Komentar