Yahoo Singkirkan Fitur “Auto-Forward”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 12 Oktober 2016 | 14:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Yahoo telah “membunuh” keberadaan fitur pentingnya  di sebuah layanan e-mail, yaitu auto-forward atau mail-forwarding.

“Pembunuhan” fitur tersebut dilakukan setelah pada September lalu, terjadi pembobolan data besar-besaran server Yahoo yang mempengaruhi sekitar lima ratus ribu  akun pengguna.

Khawatir penggunanya berpaling gara-gara datanya bocor, Yahoo mulai mempersulit pengguna yang ingin pindah ke layanan lain.

Awal Oktober lalu, Yahoo mulai mematikan fitur auto-forwarding.

Kabar penghilangan fitur penting itu  ditulis kantor berita terkenal  Associated Press, Rabu siang WIB, dan  pengguna yang membutuhkan auto-forwarding pun mengeluh.

“Padahal auto-forwarding merupakan konsep dasar yang sudah selama lima belas tahun ini selalu diberikan oleh layanan e-mail mana pun,” keluh seorang pengusaha, Brian McIntosh.

Yahoo sendiri menolak bicara mengenai penghapusan fitur auto-forwarding.

Saat Associated Press berusaha mengonfirmasi hal tersebut, perusahaan justru menunjukkan halaman bantuan di layanan e-mail mereka.

“Auto-forwarding  sebenarnya masih dalam pengembangan. Selama masa pengembangan, kami mematikan fitur auto-forwarding ke alamat baru,” tulis keterangan pada halaman bantuan itu.

“Tapi jika Anda sudah pernah menyalakannya, maka fitur ini tetap bisa dipakai sesuai pengaturan awal Anda,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, fitur auto-forwarding biasa dipakai untuk secara otomatis mengoper surat ke akun e-mail lain.

Contohnya, ketika ada yang mengirim surat ke akun Yahoo milik Anda, maka auto-forwarding akan otomatis meneruskannya ke akun e-mail Gmail.

Tujuan dasarnya agar pengguna tidak luput membaca surat penting di e-mail tertentu.

Seperti yang terungkap, data yang dicuri termasuk nama pengguna, alamat e-mail, nomor telepon, tanggal lahir, password yang terproteksi dengan bcrypt, dan pertanyaan security question berikut jawabannya.

“Penyelidikan kami menyimpulkan bahwa informasi yang dicuri tidak termasuk password tanpa enkripsi, data kartu pembayaran atau informasi rekening bank,” kata Yahoo dalam sebuah pernyataan, seperti ditulis  laman situs  Re/code waktu itu.

Disebutkan bahwa peretasan atas Yahoo sebenarnya terjadi beberapa tahun lalu, tapi baru terendus belakangan, yakni Agustus lalu ketika seorang kriminal siber bernama “Peace” menjual data dua ratus  juta pengguna Yahoo di dark web alias pasar gelap internet.

Ketika itu Yahoo mengaku sadar terhadap klaim Peace yang mengatakan telah memperoleh data penggunanya, namun perusahaan tersebut belum mengakui pihaknya menjadi korban peretasan.

Yahoo baru membenarkan kejadian peretasan setelah menjalankan penyelidikan atas masalah dimaksud.

“Kami bisa mengonfirmasikan bahwa salinan sejumlah informasi pengguna telah dicuri dari jaringan perusahaan  oleh aktor yang dibeking oleh negara,” lanjut Yahoo dalam pernyataannya.

Akibat peretasan itu  Yahoo digugat oleh penggunanya atas tuduhan lalai.

Gugatan itu diajukan berselang satu hari setelah Yahoo menyatakan data pelanggannya telah dibobol.

Berkas gugatan itu diajukan di pengadilan federal di San Jose, California, oleh Ronald Schwartz, warga New York, yang mengatasnamakan semua pengguna Yahoo di Amerika Serikat, yang informasi pribadinya bocor.

Ia berupaya membawa perkara tersebut dalam gugatan massal dengan kerugian yang belum dapat diperkirakan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yahoo! memastikan pihaknya telah menjadi korban serangan hacker yang mengakibatkan bocornya data-data pribadi sekitar 500 juta pengguna layanan-layanan internet perusahaan tersebut.

Data yang dicuri termasuk nama pengguna, alamat e-mail, nomor telepon, tanggal lahir, password yang terproteksi dengan bcrypt, dan pertanyaan security question berikut jawabannya.

“Penyelidikan kami menyimpulkan bahwa informasi yang dicuri tidak termasuk password tanpa enkripsi, data kartu pembayaran atau informasi rekening bank,” kata Yahoo! dalam sebuah pernyataan.

“Kami bisa mengonfirmasikan bahwa salinan sejumlah informasi pengguna telah dicuri dari jaringan perusahaan pada 2014 oleh aktor yang dibeking oleh negara,” lanjut Yahoo.

Pengumuman tidak mengenakkan ini datang di tengah-tengah proses penjualan bisnis internet Yahoo senilai  empat koma delapan miliar dollar AS ke calon peminangnya, operator seluler Verizon. Dampak dan skalanya yang besar bisa mempengaruhi pemilik baru.

Komentar