WhatsApp Telah Mengalahkan Facebook

Penulis: Darmansyah

Jumat, 18 Januari 2019 | 11:11 WIB

Dibaca: 3 kali

Sejak dirilis pada lima belas tahun lalu Facebook menjadi jejaring sosial paling populer selama bertahun-tahun.

api popularitas itu akhirnya digeser oleh anak perusahaannya, WhatsApp. Firma riset App Annie mencatat pada akhir September  tahun lalu, jumlah pengguna aktif bulanan  WhatsApp sudah melampaui Facebook.

Dalam dua puluh empat bulan terhitung mulai Januari tahun lalu, pertumbuhan pengguna WhatsApp mencapai tiga puluh persen, sementara Facebook hanya dua puluh persen.

App Annie tidak menyebut angka spesifik berapa jumlah pengguna aktif bulanan kedua aplikasi, namun pada Januari tahun lalu lalu,

CEO Facebook, Mark Zuckerberg pernah mengklaim bahwa pengguna aktif bulanan WhatsApp tercatat hampir satu setengah miliar.

Grafik menunjukan pertumbuhan pengguna aktif bulanan WhatsApp yang melampaui Facebook dalam dua puluh empat bulan. Grafik menunjukan pertumbuhan pengguna aktif bulanan WhatsApp yang melampaui Facebook dalam dua puluh empat bulan.(

Seperti ditulis The Next Web,, rata-rata pengguna WhatsApp berasal dari penduduk negara berkembang. Paling besar adalah India, diikuti Brasil, Meksiko, Turki, Indonesia, Malaysia, dan Rusia.

Namun tidak disebutkan jumlah pengguna WhatsApp di masing-masing negara. Meskipun banyak kontroversi penggunaan WhatsApp di India dan Brasil, karena dituduh menjadi biang keladi tersebarnya hoaks, hal itu tak menyurutkan pertumbuhan WhatsApp di negara tersebut.

Menanggapi keributan peredaran hoaks, WhatsApp pun merilis beberapa fitur untuk meminimalisir. Salah satunya membatasi jumlah pesan diteruskan  per hari yang kini maksimlal hanya bisa mengirim ke lima kontak sekaligus

Khusus di India, WhatsApp juga mencopot tombol pintas ” shortcut forward” yang biasanya ada di samping konten media. Kembali ke popularitas WhatsApp yang ternyata tak hanya di negara berkembang saja.

Menurut App Annie, WhatsApp juga menjadi menjadi aplikasi media sosial terpopuler di negara maju, seperti Inggris dan Kanada yang terkenal ketat dalam urusan aturan privasi.

Salah satu alasan mengapa WhatsApp populer di kedua negara tersebut adalah karena kemudahan dan sistem enkripsi end-to-end yang ditawarkan.

Sementara di negara berkembang, kesuksesan WhatsApp diperoleh karena menawarkan layanan gratis, sehingga menggantikkan peran kirim pesan konvensional melalui SMS.

“Walaupun proposisi nilai mereka diperluas, penawaran intinya telah membuahkan kesuksesan di pasar negara berkembang, di mana biaya penggunaan perangkat seluler relatif masih lebih tinggi dibanding pendapatan rata-rata,” tulis App Annie.

WhatsApp dipastikan bakal memperoleh dukungan untuk panggilan video grup. Aplikasi ini juga akan mendapat dukungan untuk stiker yang segera dirilis dalam waktu dekat.

“Panggilan suara dan video sangat populer di WhatsApp, dan kami senang untuk mengumumkan bahwa panggilan grup itu akan segera tiba beberapa bulan ke depan. Stiker juga akan segera hadir di WhatsApp,” bunyi postingan di situs Newsroom Facebook.

Dalam kesempatan tersebut, Facebook juga membeberkan bahwa fitur Status di WhatsApp digunakan oleh lebih dari empat ratus lima puluh juta orang di seluruh dunia.

WhatsApp sendiri sejak lama sudah menawarkan fitur panggilan suara dan video di aplikasinya. Tambahan fitur panggilan video grup ini, berpotensi memperkuat perbekalan WhatsApp untuk terus mempertahankan posisinya sekarang.

Sebenarnya WhatsApp dan Facebook adalah satu perusahaan.

Dan hanya sedikit orang yang tahu kalau Facebook adalah perusahaan induk WhatsApp sehingga keduanya saling terkait.

Seperti ditulis Tech Crunch,  kesimpulan ini bahkan didapat dari sebuah studi di Amerika Serikat , tempat asal kedua layanan ini.

Banyak pengguna yang mulai meninggalkan Facebook, namun mereka masih menggunakan WhatsApp–dan Instagram. Padahal, layanan tersebut masih merupakan bagian dari Facebook dan mereka tidak tahu itu.

Adalah DuckDuckGo, perusahaan browser yang sangat memperhatikan privasi, melakukan studi kecil untuk meneliti sejauh mana pengguna internet mengetahui cakupan sebuah layanan yang digunakannya.

Isu keamanan dan privasi memang tengah menjadi sorotan, sejak terungkapnya kasus kebocoran data 50 juta pengguna Facebook ke tangan pihak ketiga. Hal ini juga sedikit banyak membuat Facebook dijauhi, dan para pengguna internet lebih pemilih saat menggunakan sebuah layanan.

“Seiring berkurangnya penggunaan Facebook, layanan pesan instant seperti WhatsApp semakin populer digunakan, dan disebut-sebut sebagai layanan yang lebih bisa menjaga privasi,” tulis DuckDuckGo.

“Pergantian dari penggunaan Facebook ke WhatsApp ini tidak masuk akal bagi kami, karena keua layanan merupakan perusahaan yang sama. Jadi kami berupaya mencari tahu,” sambung laporan tersebut.

Senada dengan hasil survei tentang WhatsApp dan Facebook, DuckDuckGo juga menemukan bahwa 56,4% dari mereka yang disurvei, yang merupakan pengguna Waze, (291 partisipan) tidak tahu bahwa layanan navigasi tersebut milik Google.

Studi yang sama juga dilakukan pada April lalu, dan mendapatkan kesimpulan yang sama tentang persepsi orang terhadap Google dengan YouTube, serta Facebook dengan Instagram, meski Instagram punya popularitas yang kuat.

Faktanya, rata-rata orang tidak menelusuri sebuah perusahaan atau layanan internet yang digunakannya merupakan anak perusahaan dari si ‘ibu’ yang berusaha dihindarinya berkaitan dengan keamanan data dan privasi.

Bahkan ketika perusahaan seperti Google dan Facebook dihantam isu privasi, jelas mereka bisa bergantung pada ‘anak’ produk mereka lainnya yang lebih populer.

Setengah dari pengguna internet AS tidak akan tahu bahwa mereka hanya melompat dari kapal–produk teknologi besar–ke sekoci yang dikapteni oleh perusahaan yang sama, sehingga sia-sia saja upaya mereka melarikan diri.

Komentar