WhatsApp Bocorkan Data ke Facebook?

Penulis: Darmansyah

Senin, 25 Januari 2016 | 09:07 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah dua tahun “membunuh” kecemasan penggunanya tentang rumor bocornya data pengguna WhatsApp ke Facebook, kini isu itu mencuat kembalisetelah dipicu oleh temuan heboh seorang pengembang bernama Javier Santos.

Seusai “dibeli” Facebook tahun 2013, WhatsApp memberi jaminan keamanan data penggunanya.

Ketika pembelian itu terjadi ramai dibicarakan tentang kekhawatiran pengguna bahwa WhatsApp akan “memberikan” data utuh ke Facebook.

Kala itu CEO WhatsApp Jan Koum memberi jaminan bahwa data yang ada di WhatsApp tidak akan diterus ke Facebook.

Dalam blognya, Koum mengatakan, WhatsApp tak menyimpan data-data personal pengguna.

Selain itu, walau diakuisisi Facebook, WhatsApp akan tetap berjalan sebagai layanan mandiri.

Seperti diungkapkan “TheNextWeb,” Senin, 25 Januari 2016, Santos menemukan pengaturan tersembunyi atau dikenal dengan istilah “hidden setting” pada aplikasi WhatsApp versi beta.

Pengaturan tersebut tampaknya bertendensi agar pengguna mau membagi informasi akun WhatsApp ke Facebook.
“Bagi informasi akun WhatsApp dengan Facebook untuk meningkatkan pengalaman di Facebook,” begitu bunyi pengaturan.

Kendati begitu, pengaturan bersifat opsional. Jika pengguna tak mau membagi informasi akun WhatsApp, biarkan kotak tak tercentang.

Jika pengguna ingin mendapat pengalaman Facebook yang lebih mumpuni seperti yang dijanjikan, pengguna bisa mencentang kotak yang tersedia.

Sekali lagi, pengaturan tersembunyi itu baru tersedia pada versi beta WhatsApp.

Ke depan, belum jelas apakah pengaturan itu akan menjadi pembaruan komersial, atau masih akan diubah konsep, atau sama sekali dihilangkan.

Tahun Facebook sudah menyelesaikan integrasi layanan pesan instannya dengan WahtsApp

Integrasi ini dituntaskan lewat sebuah tombol dan kasus inilah yang sangat mengkhawatirkan pengguna tentang kemungkinan bocornya data pengguna WhatsApp ke Facebook

Tombol tersebut saat ini memang belum tersedia bagi pengguna Facebook versi publik, karena layanan tersebut masih bersifat beta dan baru bisa diakses oleh penguji saja.

Sebelumnya, CEO Facebook Mark Zuckerberg sempat mengatakan bahwa Facebook dan WhatsApp akan tetap menjadi perusahaan yang terpisah, namun penggabungan layanan keduanya sudah diprediksi oleh para pengamat dari awal.

Tujuannya, Facebook bisa meningkatkan lalu-lintas pengguna layanannya melalui aplikasi WhatsApp, dan meningkatkan pendapatan dari iklan yang ditampilkan.

Rumor lain yang beredar adalah, integrasi panggilan suara dalam layanan Facebook. Sebelumnya, WhatsApp sudah memperkenalkan fitur voice call ini di layanannya untuk Android. Layanan untuk platform iOS akan menyusul kemudian.

Walau kedua perusahaan tetap menjadi dua perusahaan terpisah, namun kemungkinan akan lebih banyak lagi penggabungan layanan antara Facebook dan WhatsApp.

Di awal akusisinya, seperti ditulis “ Los Angeles Times,” banyak pengguna WhatsApp yang memposting tweet yang berisi ancaman bakal menghapus akun WhatsApp-nya.

Beberapa kicauan lain juga mempertanyakan masalah campur tangan Facebook dalam hal privasi.

Saat itu pengguna sempat mengancam akan beralih ke layanan mobile messaging lain, seperti Viber, WeChat, Line, KakaoTalk, dan lain sebagainya, karena dinilai lebih independen.

Mereka juga tidak mau jika diharuskan memiliki akun Facebook untuk bisa menggunakan layanan WhatsApp.

Bahkan, saat ini muncul akun Facebook yang diberi nama “Please Don’t Ruin WhatsApp” sebagai bentuk protes pengguna layanan mobile messaging ini terhadap Facebook.

Akun tersebut meminta Facebook untuk tidak menggabungkan pesan yang dikirim dari WhatsApp dengan layanan pesan Facebook Messenger.

Kekhawatiran pengguna WhatsApp seperti ditulis di atas memang bisa dimaklumi, sebab kini WhatsApp dimiliki oleh sebuah perusahaan jejaring sosial, yang pendapatan terbesarnya dari berjualan iklan.

Situs Read Write juga pernah menulis, Facebook memiliki akses ke semua data pengguna WhatsApp, seperti nomor telepon, buku alamat, informasi pembayaran, dan sebagainya.

Sebelumnya Facebook tidak bisa mengakses informasi tersebut kecuali pengguna menghubungkan buku kontak teleponnya dengan Facebook Messenger, atau memberikan informasi kartu kredit saat berdonasi ke lembaga non-profit.

Sulit untuk percaya kepada Facebook, karena perusahaan ini memiliki sejarah mempermainkan privasi pengguna dan mengumpulkan informasi yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Tahun lalu Facebook juga menon-aktifkan privacy setting untuk memperluas jangkauan fitur pencariannya, mengubah privacy policy agar bisa menggunakan nama dan profil foto pengguna untuk keperluan iklan, dan menghadapi tuduhan telah memata-matai data dalam private messages agar bisa menampilkan iklan yang lebih sesuai.

Kebocoran data juga menjadi isu besar bagi pengguna Facebook.

Namun, baik Facebook maupun WhatsApp kembali menegaskan bahwa walau kini WhatsApp berada di bawah kendali Facebook, keduanya tetap merupakan perusahaan independen. Facebook bahkan tidak ingin memasang iklan di WhatsApp.

Jika hal tersebut benar, maka pengguna WhatsApp sebenarnya tak perlu khawatir akan masalah privasi mereka.

Terlebih jika membaca FAQ WhatsApp di website resminya, di situ dijelaskan bahwa komunikasi antara server WhatsApp dengan smartphone yang digunakan pengguna sepenuhnya terenkripsi.

Selain itu, WhatsApp juga mengklaim pesan yang dikirim penggunanya tidak disimpan di dalam server-nya.

“Begitu pesan tersebut terkirim, maka pesan percakapan tersebut akan dihapus dari server,” begitu pernyataan tim support WhatsApp.

Komentar