Web Polisi dan Bank Australia Lumpuh

Penulis: Darmansyah

Kamis, 21 November 2013 | 11:37 WIB

Dibaca: 0 kali

“Perang Siber Terbuka” antar “hacker” Indonesia versus Australia makin heboh setelah ancaman putusnya hubungan diplomatik kedua negara menjadi wacana usai Jakarta menarik duta besarnya dari Canberra. Tidak hanya dalam bentuk penghinaan, hubungan diplomatic kedua negara menjadi sangat rentan menjadi opini di kedua negara.

Setelah dilecehkan sebagai “hacker” bocah ingusan, para hacker Indeonesia kini benar-benar menjarah “website” prestise di Australia. Situs web Kepolisian Federal Australia atau “Australian Federal Police,” dan Bank Sentral” Negara Kangguru itu benar-benar menjadi korban serangan siber Indonesia.
Sejumlah laporan di negara itu, Kamis, 21 November 2013, menyebut para peretas Indonesia sebagai pelaku serangan tersebut.

AFP menyebut serangan itu “tidak bertanggung jawab”, dan mengatakan siapa pun yang melakukannya bisa menghadapi tuntutan. “Serangan-serangan ini tidak bertanggung jawab, dan tidak akan memengaruhi kebijakan pemerintah,” kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan.

“Kegiatan seperti meretas, menciptakan, atau menyebarkan virus berbahaya bukanlah kesenangan yang tidak berbahaya. Hal-hal semacam itu dapat mengakibatkan konsekuensi serius jangka panjang bagi individu, seperti terkait masa hukuman seseorang.”

Sejumlah pejabat polisi mengatakan, situs itu, yang tidak menyediakan informasi sensitif, masih beroperasi ketika para staf meninggalkan pekerjaan mereka pada Rabu malam. Namun, situs itu sudah tidak bisa dibuka pada Kamis pagi ini.

Kejadian tersebut terjadi hampir dua minggu setelah para aktivis kelompok Anonymous Indonesia mengaku bertanggung jawab atas peretasan lebih dari 170 situs Australia dalam rangka memprotes laporan bahwa Canberra memata-matai Indonesia.

Hubungan antara Indonesia dan Australia telah memburuk sesudah sebuah laporan muncul minggu ini, yang berdasarkan pada dokumen yang dibocorkan buronan intelijen AS Edward Snowden, bahwa Australia telah mencoba untuk menyadap ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan sejumlah orang dekat SBY, termasuk istrinya, pada 2009.

Guardian Australia melaporkan bahwa seorang anggota Anonymous Indonesia, yang menggunakan hashtag #IndonesianCyberArmy, mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru itu. “Saya siap untuk perang ini!” kata peretas itu di Twitter, meskipun, berdasarkan laporan kantor berita AFP, tweet itu tidak ditemukan.

Polisi Federal Australia tidak akan mengomentari siapa yang mungkin bertanggung jawab. Namun AFP mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Pusat Operasi Keamanan Siber dan tim Computer Emergency Response Australia untuk mengidentifikasi para peretas itu.

Situs web Bank Sentral Australia juga menjadi sasaran. Juru bicara bank itu mengatakan, pihaknya telah menjadi korban serangan siber sejak tengah malam hari Selasa. Namun, sistem pendukung situs itu berfungsi sehingga situs web itu masih beroperasi. “Bank punya sistem perlindungan untuk situs webnya, sehingga situs bank tetap aman,” kata juru bicara itu.

Anonymous diyakini sebagai kumpulan peretas yang organisasinya sangat longgar yang melakukan serangan online secara internasional.

Komentar