Twitter Siap Menghadapi Konten Dewasa

Penulis: Darmansyah

Jumat, 7 Desember 2018 | 09:04 WIB

Dibaca: 1 kali

Twitter tak main-main dengan pornografi

Ya, aplikasi ini memiliki beberapa mekanisme memberantas pornografi.

Ini dinyatakan petinggi Twitter  yang mengungkapkan pihaknya memiliki beberapa mekanisme khusus untuk memberantas pornografi.

Pertama, kami punya algoritme khusus untuk melihat sebuah behaviour user. Kedua karena platform ini bukan platform badan sensor juga harus mengerti konteksnya Bahasa Indonesia sangat unik ya

Twitter juga mengharap bantuan pengguna untuk melakukan pengaduan saat menemukan konten tak pantas beredar di situsnya. Laporan itu kemudian akan ditindaklanjuti oleh timnya.

“Kami membuat layanan di t.co/formulirbantuan. Di situ ada pilihannya, jika ingin bantuan apapun, melaporkan apapun bisa diakses di tautan tersebut,” rilis Twitter.

Twitter saat ini sedang berfokus untuk menjaga platformnya tetap sehat. Meski demikian, dewasa ini masih mudah untuk menemukan konten dewasa di Twitter.

Sebelumnya, penyaringan konten dewasa juga dilakukan Tumblr. Kebijakan baru dari platform itu melarang pengguna mengunggah konten eksplisit per  Desember ini

Beberapa pekan lalu Twitter kembali menghapus jutaan akun yang dianggap mencurigakan Upaya tersebut dilakukan karena beberapa akun yang dianggap mencurigakan muncul kembali sejak pembersihan besarnya pada Juli lalu.

Dilansir dari Reuters, saat ini Twitter dikabarkan tengah mengalami tekanan dalam menekan jumlah pengguna palsu. Hal tersebut menyebabkan aliran dana dari investor dan pengiklan sedikit terhambat.

Selain itu, banyaknya pengguna palsu juga membuat perusahaan milik Jack Dorsey ini berada dalam pengawasan Kongres AS.

Twitter mengungkapkan pihaknya kembali melakukan aksi bersih-bersih ini tanpa mengumumkannya terlebih dahulu.

Menurut perusahaan pengukuran sosial Social Blade, penyanyi asal Amerika Katy Perry turut terkena imbas sehingga harus kehilangan 861 ribu pengikutnya setelah aksi bersih-bersih Twitter kemarin.

Sebagai salah satu upaya untuk memastikan akurasi jumlah pengguna, Twitter tidak akan menghitung akun yang dikunci sebagai pengikut. Hal ini menyebabkan setidaknya tujuh selebritis harus kehilangan dua juta pengikut.

Twitter dikabarkan juga mengalami penurunan jumlah pengikuti, pada Juli lalu tercatat ada tujuh koma delapan juta pengikut. Jumlahya sempat naik kembali sebanyak 2,36 juta pada pertengahan Oktober.

Tak hanya itu, Social Puncher juga mengatakan bahwa beberapa pengguna dikabarkan telah mengalami penurunan jumlah pengikut di awal Oktober, sebelum jumlahnya kembali normal beberapa hari kemudian.

Perusahaan menengarai akun yang dikunci dimiliki oleh penipu untuk menjual para pengikutnya.

Kasus akun palsu ini tidak hanya bertujuan untuk menjual jumlah pengikut kepada para pengguna Twitter. Baru-baru ini juga telah beredar kasus penipuan atau scamming yang berhasil meraup keuntungan hingga milyaran juta

Selain itu Twitter kini membuat tombol pelaporan jika pengguna melihat atau menduga sebuah cuitan berasal dari akun adalah akun bot, akun palsu, atau akun yang menyamar sebagai orang lain.

Fitur anyar ini diumumkan  lewat akun resmi @TwitterSafety. Fitur ini sengaja dibuat untuk mengurangi spam dan penyebaran informasi yang salah di platformnya

Fitur ini sudah tersedia di layanan web dan mobile Twitter dan sudah bisa digunakan juga oleh pengguna Indoensia. Fitur ini hanya berlaku untuk pengguna yang bukan akun terverifikasi yang memiliki centang biru di Twitter.

Cara untuk melaporkan akun yang dicurigai sebagai akun palsu atau bot adalah dengan memilih menu laporkan atau report pada menu drop down di sebuah cuitan. Lantas akan muncul pilihan “it’s suspicious or spam

Setelah mengklik pilihan tersebut, pengguna juga bisa memberi laporan jika menduga bahwa akun yang mengeluarkan cuitan adalah akun palsu.

Pilihan pelaporan ini bisa digunakan jika pengguna melihat akun yang mencuitkan tautan berbahaya, akun palsu yang meniru orang lain, atau menggunakan fungsi reply (membalas) untuk mengirimkan spam, atau akun yang isi cuitannya tidak berkaitan dengan tagar yang digunakan, misalnya.

Sebab, dua trik terakhir ini sering digunakan oleh spammer untuk membuat tagar mereka populer atau membuat cuitan mereka terangkat oleh algoritma topik populer Twitter.

Spammer juga sering membalas cuitan dari akun orang yang populer untuk mempromosikan konten mereka. Spammer juga sering memberikan tautan yang mengarahkan pengguna ke situs phising, mengunduh malware, atau konten berbahaya lain yang bisa menginfeksi komputer atau ponsel pengguna, seperti dilansir TechCrunch.

Fitur ini akan membantu Twitter mendeteksi akun-akun yang diperkirakan dengan pelaporan yang lebih rinci terhadap adalah akun palsu dan bot.

Tapi belum jelas tindakan apa yang akan dilakukan Twitter terhadap pelaporan yang diajukan pengguna kepada tim keamanan Twitter. Tidak juga disebutkan apakah dengan mendaftarkan sebuah akun sebagai akun palsu akan akan meningkatkan pemblokiran atas akun itu.

Permasalahan lainnya, adalah kemungkinan adanya serangan terkoordinasi yang melaporan akun asli sebagai akun palsu agar akun tersebut diblokir Twitter.

Namun, menurut juru bicara Twitter, “pelaporan baru ini akan memungkinkan kami mengumpulkan informasi lebih detail sehingga kami dapat mengidentifikasi dan menghapus spam dengan lebih efektif. Dengan detail lebih lanjut untuk ditinjau, akan menambahkan upaya kami untuk melakukan proses peninjauan.”

Dengan fitur baru ini menandakan keseriusan Twitter untuk mengatasi spam, bot, dan masalah akun palsu di platformnya. Harapannya Twitter bisa lebih proaktif melakukan pemblokiran akun palsu, seperti ditulis The Verge.

Juli lalu, Twitter menyebut bahwa perusahaannya telah menghapus  tujuh puluh juta akun yang melanggar kebijakan tentang perilaku jahat dan spam.

Tindakan keras Twitter untuk menghalau bot dari layanannya telah membuat Twitter kian kehilangan pengguna dari kuartal ke kuartal. Hal ini tercatat dalam laporan pendapatan terbaru mereka.

Pemblokiran bot ini bisa jadi berdampak buruk bagi bisnis Twitter dalam jangka pendek, tapi akan berdampak baik untuk reputasi dan tujuan jangka panjang perusahaan itu agar layanan media sosialnya bebas dari bot.

Komentar