Twitter Punya Pesaing Bernama Mastodon

Penulis: Darmansyah

Jumat, 7 April 2017 | 15:06 WIB

Dibaca: 1 kali

Twitter kini punya pesaing “kuat.”

Namanya “Mastodon.”

Dan bagi mereka yang kecewa dengan layanan  Twitter boleh saja beralih ke Mastodon.

Untuk Anda tahu pula, jejaring sosial ini muncul dari hasil kekecewaan terhadap Twitter.

Adalah Euegene Rochko yang merasa timeline Twitter kini sudah berbeda.

Timeline dengan algoritma baru mirip Facebook ini menampilkan posting berdasar kepopuleran.

Rochko pun mendesain ulang Twitter dengan menciptakan algoritma sendiri, lalu diberi nama Mastodon.

Seperti ditulisi The Verge,  hari ini, Jumat, 07 April, Mastodon adalah Twtter versi open-source yang identik dengan beberapa perbedaan.

Pertama, postingan bisa mencapai lima ratus karakter. Twitter sendiri membatasi postingan penggunanya hanya seratus empat puluh karakter.

Kedua, pengguna Mastodon bisa membuat posting tertentu menjadi private.

Nama Mastodon diambil dari nama band metal yang ia sukai. Temannya membuat logo berupa gajah purba yang imut sedang memegang smartphone dan tersenyum.

Rochko mulai membuat back-end Mastodon setahun yang lalu, setelah Twitter merilis algoritma baru yang tak lagi menampilkan posting berdasar urutan waktu.

Alih-alih membuat layanan yang menyatukan, Rochko membuatnya lebih seperti layanan e-mail atau RSS, yakni sistem distribusi yang memungkinkan orang-orang mengirim pesan publik ke siapa saja yang mereka ikuti di layanan.

Siapa saja bisa membuat server dan menjadi host, Mastodon bekerja di background untuk saling menghubungkannya.

Sebenarnya, Mastodon telah dikenalkan oleh Rochko sejak enam bulan lalu.

Dalam enam bulan pertama itu, sudah ada dua puluh empat ribu pengguna Mastodon.

Namun minggu lalu, jumlah pengguna Mastodon naik drastis.

Penyebabnya, Twitter baru saja meluncurkan update yang mengubah cara menampilkan balasan tweet. Netizen pun berbondong-bondong berlaih ke Mastodon.

Dalam semalam, jumlah pengguna baru Mastodon mencapai ribuan.

Menurut mesin penghitung yang dipasang di situs Mastodon, dalam empat puluh delapan  jam, jaringan Mastodon tumbuh tujuh puluh lima persen, menjadi empat puluh satu ribuan pengguna.

Jumlah pengguna sebanyak itu telah membuat nyaris 1 juta posting, menyebabkan beberapa fungsi di layanan Mastodon menjadi macet selama beberapa jam.

Beberapa hari lalu, Rochko memutuskan untuk menutup pendaftaran pengguna baru, hingga kualitas layanan Mastodon bisa dijamin bagi pengguna yang sudah mendaftar.

Untuk mendanai proyeknya, Rochko membuat akun di platform Patreon, yang saat ini memberikan bayaran sekitar seribu dollar AS per bulan kepadanya.

“Saya membuatnya bukan untuk menjadi kaya, namun karena ini langkah yang benar, saya cuma memikirkan biaya nge-kos dan asuransi saja,” kata Rochko.

Rochko bukan orang pertama yang berusaha membuat alternatif Twitter.

Lima tahun silam, programer bernama Dalton Caldwell mengumumkan App.net, kloningan twitter yang dihasilkan dari urun dana, yang memberi layanan gratis dan berbayar untuk fitur tertentu.

Walau berhasil mengumpulkan dana lima ratus ribu dollar AS, namun aplikasi ini mandek dan statusnya dalam “maintenance mode” sejak tiga tahun lalu, hingga akhirnya dimatikan pada Januari tahun ini

Mastodon, App.net, dan kloningan Twitter lainnya menjadi bukti bahwa bila Twitter tidak bisa membuat layanan yang tepat dan sesuai keinginan pengguna, maka banyak developer lain yang akan membuat versi mereka sendiri.

Lantas muncul pertanyaan, apakah Twitter mulai ditinggalkan?

Pertanyaan itu buru-buru oleh pengelola Twitter , tidak.

Sepanjang tahun lalu saja ada empat miliar kicauan yang dihimpun Twitter

. Bahkan, beberapa konsultan dan perusahaan pihak ketiga kerap menyebut Twitter tumbuh pesat.

Siapa bilang Twitter ditinggalkan?

Diklaim sebanyak tujuh puluh enam  persen millenials  yang menggunakan Twitter aktif di layanan berlogo burung tersebut..

Twitter tak akan ditinggalkan karena layanan mikroblog tersebut tak punya pesaing. Ia pun mengklaim massa Twitter sudah solid dan memiliki jati diri yang mapan.

Twitter nggak punya kompetitor karena Twitter bukan sekadar media sosial. Perannya lebih ke menghimpun perbincangan yang sedang ramai agar pengguna bisa bertukar informasi.

Tiap peristiwa penting yang terjadi real-time bisa ditemukan pertama kali di Twitter.

Media sosial yang ada saat ini punya peran dan fungsinya masing-masing.

Misalnya Instagram untuk berbagi foto, Facebook untuk saling mengetahui update hidup teman-teman yang jauh, atau Snapchat untuk berbagi penggalan video kehidupan sehari-hari.

Komentar