Twitter “Dituduh” Penyebar Konten Negatif

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 Desember 2017 | 09:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Twitter mulai menjawab tudingan banyak pihak tentang perannya sebagai penyebar konten negative.

“Kami ingin menjelaskan tuduhan sebagai platform yang paling banyak menyebar konten negative,” tulis blog Twitter hari ini, Kamis, 07 Desember.

Jumlah konten negatif di Twitter yang dilaporkan lebih besar ketimbang laporan serupa untuk platform lain, semacam Facebook, Instagram, YouTube, dan WhatsApp.

Adapun konten negatif yang dimaksud berhubungan dengan pornografi, radikalisme, terorisme, SARA, penipuan online, perjudian, hingga soal keamanan internet.

Lantas, bagaimana tanggapan Twitter?

Twitter mengatakan telah menjalin komunikasi yang intensif dengan  dengan banyak pihak soal konten-konten yang berpotensi melanggar aturan.

Kendati begitu, ia menyebutkan pihaknya tak bisa serta-merta mengambil tindakan atas laporan yang masuk

“Laporan yang masuk  itu akurasinya seperti apa? Bisa saja saya melaporkan orang A karena saya nggak suka. Jadi harus dilihat dulu konteksnya,” tulis blog Twitter

Twitter memiliki aturan dan ketentuan yang berlaku untuk mengidentifikasi konten-konten seperti apa yang dianggap tak layak.

Jika ada laporan dari pengguna di negara mana pun, maka akan dikaji oleh tim khusus di Twitter Inc. sebagai perusahaan pusat.

Twitter Indonesia tidak bisa bertindak apa-apa. Yang menentukan adalah tim reviewer di Twitter Inc..

Lembaga penegak hukum sejatinya punya akses langsung ke tim reviewer di Twitter Inc. melalui formulir khusus yang dinamai “Law Enforcement Reporting”.

Kalau lapor  yang ambil tindakan, kami bisa tanggapi laporan pengguna yang masuk ke Twitter.

Dingatkan kembali bahwa konten-konten negatif yang ada di Twitter berasal dari pengguna yang literasi digitalnya masih kurang.

Twitter sebagai wadah, mengklaim sudah berupaya mengedukasi masyarakat dengan berbagai cara.

Kuncinya adalah literasi. Kami berupaya sebisa mungkin untuk meningkatkan literasi dengan edukasi.

Bekerja sama dengan NGO, lembaga publik, dan kelompok-kelompok tertentu untuk mengedukasi masyarakat, nggak hanya soal Twitter tapi penggunaan internet keseluruhan.

Twitter akan meningkatkan program-program literasi digital untuk tahun depan. Ia pun menyambut dengan terbuka jika

Mengajak kerja sama mengedukasi masyarakat melalui program-program pemerintah.

Menurut data yang dihimpun, Twitter-lah yang paling berkontribusi terhadap penyebaran konten pornografi di internet Indonesia.

Selama tahun lalu saja, tak kurang dari tiga ribuan laporan soal konten pornografi berasal dari Twitter.

Lantas, dari Januari hingga September ada lima ratus ribuan laporan yang masuk ke Kominfo terkait dengan Twitter.

Laporan paling banyak diterima pada Agustus .

Setelah Twitter, gabungan Facebook dan Instagram menduduki posisi kedua sebagai platform yang paling banyak dilaporkan terkait konten pornografi\

Peringkat ketiga ditempati YouTube dan Google.

Di Twitter sudah ada juga fitur flagging. Di sana tidak boleh ada nudity. Masyarakat bisa laporkan.

Konten-konten negatif ini tumbuh setiap hari. Kami mencari dan masyarakat juga melaporkan. Sama-sama berupaya

Komentar