Betulkah Mesin Pencari Google Rasis?

Penulis: Darmansyah

Kamis, 14 April 2016 | 09:17 WIB

Dibaca: 0 kali

Surat kabar sangat berpengaruh di Inggris, “the guardian,” Kamis, 14 April, menulduh bahwa mesin pencari milik Google memang dirancang rasis.

Tuduhan di tulisan “the guardian” ini berasal dari kasus Bonnie Kamona yang terkejut saat coba mencari gambar di Google dengan kata kunci “unprofessional hairstyles at work” alias “gaya rambut yang tidak profesional di tempat kerja”.

Mahasiswi MBA asal Bostwana itu menemukan bahwa gambar di hasil googling-nya didominasi wanita berkulit hitam.

Hasil sebaliknya diperoleh ketika dia mengetik kata kunci “model rambut professional,” dan ternyata duia menemukan perempuan kulit putih yang tampil elegant dan wah..

Kamona lantas mengunggah screenshot hasil “image search” tersebut ke Twitter, minggu lalu, di mana ia memperoleh banyak tanggapan.

Setelah mencoba sendiri, sebagian orang menyimpulkan bahwa algoritma pencarian Google telah bersikap rasis.

“Hitam versus putih. Ini bukan ilmu rumit. Mereka rasis,” tuding seorang pengguna Twitter dengan nada marah. Sang pengguna bernama Khalil Ramah, juga berkulit hitam asal Nigeria.

Pernyataan Khalil itu banyak yang mengamini.

Hasil pencarian dengan kata kunci yang sama di mesin pencari Bing ternyata menunjukkan hasil sedikit lebih berimbang antara wanita kulit hitam dan putih.

Benarkah mesin pencari Google rasis layaknya manusia?

The Guardian, berpendapat bahwa Google Image Search pada dasarnya hanya mencari gambar berdasarkan kata kunci dan menyajikan hasilnya ke pengguna.

Kalau kata kunci kebetulan banyak terkait dengan wanita kulit hitam, maka itulah yang ditampilkan tanpa maksud tersembunyi apapun.

Gambar yang disajikan Google dari kata kunci “unprofessional hairstyles at work” pun banyak yang berasal dari blog dan artikel yang isinya justru membela gaya rambut tertentu, seperti cornrow dan dreadlock.

Hanya sehari setelah Kamona mengunggah kicauannya, kata kunci “unprofessional haristyles at work” kini menampilkan aneka screenshot soal kasus terkait.

Dalam sebuah pernyataan, Google membela diri dengan menyebut bahwa search engine hanya mencerminkan konten-konten yang memang tersedia di web.

“Ini bukan hanya terjadi di mesin pencari kami. Yahoo dan Bing menunjukkan hasil pencarian serupa,” ujar Google.

Lebih jauh, raksasa internet itu mengatakan bahwa memang ada bias di masyarakat terkait beberapa hal seperti model rambut tadi.

Bias tersebut banyak mengemuka di media, termasuk di dunia online, sehingga tertangkap oleh mesin pencari Google yang kemudian dikira rasis.

Seperti apa? The Guardian mencontohkan hasil pencarian kata kunci “man” dan “woman” yang sebagian besar menampilkan pria dan wanita kulit putih berusia muda.

Hal-hal seperti konsep budaya mengenai kecantikan, gender, dan ras yang kebarat-baratan dan serba kulit putih ternyata masih mendominasi internet.

Menurut Google, apabila memang bias itu yang paling mengemuka di internet dan paling banyak dicari oleh pengguna, maka itu pula yang akan ditampilkan mesin pencari.

Google dituduh sebagai mesin pencari dengan predikat rasis akibat algoritmanya seringkali kacau balau dan membuat munculnya prasangka burukketika seorang mahasiswi bernama Rosalia mempublikasikan “keganjilan” dari hasil telusuran Google Imagesnya.

Rosalia yang sedang mencari kata kunci “unprofessional hairstyles for work” disodorklan tampil gambar para wanita berkulit hitam dengan gaya rambut yang beragam, namun mayoritas keriting.

Dan ketika ia mengganti kata kunci dengan “professional hairstyles for work”, yang muncul adalah gambar-gambar wanita berkulit putih dengan rambut lurus.

Hal yang paling kentara dari dua macam hasil penelusuran tersebut adalah gaya rambut yang berbeda serta warna kulit.

Melalui akun Twitternya, ia mempublikasikan screenshot dua hasil pencarian tersebut.

Kicauan Rosalia itu langsung mendapat reaksi dari netizen Twitter. Ada sepuluh ribu rettweet yang menggebrak.

Ini bukan kali pertama algoritma Google menimbulkan prasangka rasisme terhadap pengguna.

Setahun lalu, pengguna bernama Jacky Alciné marah besar karena menemukan foto dirinya bersama sang kekasih berada di dalam kategori foto berlabel “Gorillas”.

Untuk Anda tahu, keduanya memang warga berkulit hitam.

Aplikasi Google Photos memang memiliki algoritma pintar yang secara otomatis mengatur dan memberi tag foto para pengguna sesuai objek pada foto itu.

Kemudian pada Mei di tahun yang sama, Google sempat meminta maaf karena telah rasis di dalam Google Maps yang menampilkan hasil pencarian Gedung Putih sebagai ‘rumah’ Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dengan kata cercaan “nigger”.

Pimpinan eksekutif Google Eric Schmidt mengatakan, fitur Google Images hadir pada dua ribu.
Fitur itu hadir karena adanya permintaan tinggi dari para user.

Mengutip The Guardian, Schmidt memberi contoh, saat Jennifer Lopez tampil memukau dengan gaun hijau Versace pada perhelatan Grammy Awards beberapa tahun silam, orang-orang tentu ini melihat foto-fotonya.

Tidak ada yang Googling untuk membaca beritanya tentu saja, kata Schmidt.

Kini Google Images bisa dikatakan penggunaannya “tidak bertele-tele”, atau ia menyajikan galeri foto secara instan dan relevan sebagai respon dari tiap kata atau frase yang dimasukan oleh pengguna.

Selama ini para netizen selalu membayangkan bahwa mesin peramban sebagai ‘makhluk’ netral dan patuh terhadap kemauan pengguna sesuai logika, serta kaya akan informasi.

Dalam kasus pencarian model rambut tersebut, Google Images tampaknya mengambil banyak gambar wanita berkulit hitam yang kebetulan gaya rambutnya “unprofessional” dari artikel blog dan media sosial Pinterest.

Banyak di antaranya berdiskusi dan protes soal sikap rasisme terhadap rambut mereka yang cenderung keriting ketimbang lurus.

Berdasarkan publikasi Hampton University, banyak yang merasa tertekan karena tuntutan tempat kerja yang mengharuskan rambut mereka berpenampilan lurus.

Algoritma Google pada akhirnya pun menampilkan apa yang selama ini dibicarakan mengenai “unprofessional hair”, bukan untuk membuat ‘putusan’ mengenai model rambut dan warna kulit tertentu yang berujung pada prasangka rasisme.

Google Images selama ini bekerja sesuai respon dari apa yang orang-orang ingin lihat.

Fitur ini dianggap belum memutuskan (dan dirancang) untuk menampilkan apa yang orang-orang perlu lihat..

Sementara itu, Google dalam rilis lainnya menjelaskan bahwa Kiddle, bukanlah mesin pencari milik mereka

Memang, kala membuka pertama kali, Kiddle hadir dengan warna-warni yang ceria, ikon robot, dan tampilan yang mirip dengan mesin pencari Google.

Seperti juga ditulis situs Inquisitr, sejatinya Kiddle ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Google.

Sayangnya, belum ada informasi lebih lanjut mengenai siapa pemilik dari Kiddle.

Berdasarkan data dari Whois.net, alamat website kiddle.co terdaftar melalui GoDaddy.com, sebuah perusahaan pendaftaran domain dan web hosting.

Whois.net juga mencatat bahwa domain kiddle.co sudah terdaftar sejak dua tahun silam.
Pada halaman kebijakan privasi, Kiddle memang mengakui bahwa mereka menggunakan Google sebagai mesin untuk mencari kata kunci yang dimasukkan oleh pengguna.

Namun bukan berarti Kiddle adalah bagian dari Google, hanya sekadar menggunakan mesin pencarinya saja.

“Kiddle ditenagai oleh Google custom search dan memanfaatkan cookies dari Google untuk menyajikan hasil pencarian.”

“Anda bisa mengunjungi halaman kebijakan privasi Google jika Anda tidak setuju dengan ketentuan Google cookies,” sebuah pernyataan Kiddle pada halaman kebijakan privasi.

Sesuai namanya, Kiddle dirancang untuk anak-anak agar bisa “berselancar” di internet dengan konten yang aman.

Walaupun mesin pencari ini belum sepenuhnya terbebas dari konten dewasa.

Komentar