Telegram Hadir Lagi di Toko Aplikasi iOS

Penulis: Darmansyah

Selasa, 6 Februari 2018 | 09:24 WIB

Dibaca: 0 kali

Aplikasi Telegram sempat bikin heboh kala menghilang dari  toko aplikasi iOS

Untuk itu  CEO Telegram Pavel Durov mengatakan bahwa ada konten tak seharusnya di dalam aplikasi percakapan tersebut.

Tak hanya Telegram saja, aplikasi yang baru saja diluncurkan perusahaan di Android Durov yaitu Telegram X juga ikut diblokir.

Telegram X yang memiliki desain lebih bagus dari aplikasi resminya saat ini sedang dalam status beta di iOS.

“Kami diperingatkan Apple bahwa konten tak seharusnya tersedia untuk pengguna di aplikasi dan mereka telah diturunkan dari App Store.

Setelah kami mendapatkan perlindungan untuk kedua aplikasi, aplikasi akan kembali tersedia di App Store,” kicau Durov melalui Twitter kemarin.

Diperkirakan, Telegram telah melanggar pedoman Apple yang mengharuskan setiap aplikasi untuk memiliki sistem penyaringan dan pemblokiran. Aplikasi juga harus punya standar operasional ketika konten yang menyinggung harus dihapus dengan cepat.

Kendati demikian, saat ini Telegram sudah kembali dapat diakses di toko aplikasi Apple. Durov dalam cuitannya juga menerangkan bahwa lebih dari seratus ribu orang mengunduh Telegram.

Telegram sendiri telah dikritik oleh beberapa pemerintah termasuk Indonesia karena menggunakan enkripsi end-to-end yang melindungi komunikasi antar pengguna.

Beberapa lembaga penegak hukum telah mengeluhkan teknik pengacakan data ini sehingga sulit untuk menyelidiki beberapa kasus yang kompleks.

Di sisi lain, aplikasi asal Rusia itu mendapatkan ketenarannya karena sistem enkripsi dari ujung ke ujung tersebut.

Kebanyakan rivalnya tidak menggunakan sistem yang sama, atau baru mengadopsi sistem itu belakangan ini.

Durov yang membangun aplikasi ini juga mencitpkan jaringan sosial terbesar VKontakte. Motivasi awalnya meluncurkan

Telegram adalah “untuk membangun sarana komunikasi yang tidak dapat diakses oleh badan keamanan Rusia.”

Di Indonesia, Telegram mendapat ‘pengampunan’ dari Kementerian Komunikasi dan Informatika setelah sebelum diblokir pada Juli tahun lalu karena banyak digunakan oleh grup teroris dan penganut radikalisme.

Aplikasi itu juga sempat mendapat teguran kembali pada Oktober tahun lalu karena banyak stiker dewasa bertebaran bebas di platformnya.

Sementara itu, Iran telah membuka kembali akses bagi warganya menggunakan aplikasi pesan Telegram yang beberapa waktu lalu sempat diblokir akibat krisis politik di ‘Negeri Para Mullah’ tersebut.

Jurnalis AFP berhasil mengakses aplikasi Telegram dan pemerintah secara resmi juga telah mengumumkan pencabutan blokir terhadap Telegram.

“Informasi mengenai berakhirnya penutupan Telegram itu benar,” kata juru bicara Kementerian Telekomunikasi Iran kepada AFP.

Telegram merupakan salah satu aplikasi media sosial yang sangat populer di Iran dengan jumlah pengguna tercatat sekitar dua puluh lima juta orang.

Pemerintah sempat memblokir penggunaan aplikasi tersebut saat krisis politik yang ditandai aksi demo besar-besaran terhadap pemerintah terjadi di Iran selama lima hari.

Kantor berita ISNA menulis pemblokiran Telegram telah dicabut sepenuhnya

Selain sempat menutup Telegram, pemerintah juga menutup Instagram.

Selain itu, pemerintah memblokir sejumlah aplikasi VPN yang selama ini digunakan warga Iran untuk menyiasati sejumlah media sosial seperti facebook, Twitter, dan YouTube yang telah lama diblokir.

Itu dilakukan setelah pemerintah Iran menuduh kalangan kontra revolusi dan kelompok asing memicu kerusuhan melalui propaganda di sosial media.

Rouhani mengatakan saat krisis politik terjadi, penutupan itu dibutuhkan namun tidak dilakukan permanen.

Dia lantas menuduh lawannya dari kelompok konservatif telah memanfaatkan krisis politik Iran untuk mendesak diberlakukannya sensor yang semakin luas.

“Mereka ingin memanfaatkan situasi untuk menutup sosial media untuk selamanya. Mereka mungkin bisa tertidur pulas, tapi tidak bagi masyarakat. Sekitar  seratus ribu orang kehilangan pekerjaannya,” kata Rouhani  merujuk keluhan dari para pebisnis yang merugi akibat penutupan media sosial.

Komentar