Tangkapan Liar Hoax di Layar WhatsApp

Penulis: Darmansyah

Selasa, 31 Januari 2017 | 08:29 WIB

Dibaca: 0 kali

Tangkapan layar atau screen capture obrolan WhatsApp tak selalu bisa dipercaya kebenarannya.

Bisa jadi tangkapan layar itu merupakan hoax belaka.

Obrolan di WhatsApp bisa dipalsukan dengan sangat mudah menggunakan aplikasi bernama WhatsFake.

Aplikasi ini memungkinkan siapa pun bisa membuat obrolan yang isinya disesuaikan dengan keinginannya.

Buat kamu yang belum tahu, aplikasi WhatsFake ini bisa diunduh secara gratis baik di Google Play Store maupun App Store.

Cara menggunakan aplikasi ini juga mudah. tinggal membuka aplikasi, menuliskan nama kontak yang diinginkan secara manual, mengunggah foto kontak tersebut, dan mengatur sejumlah hal lainnya.

Misalnya, status online, last seen, dan lain-lain.

Untuk diketahui, mulanya aplikasi seperti WhatsFake ini hadir hanya untuk untuk lucu-lucuan, bahkan bisa dikatakan sebagai hiburan bagi mereka yang tidak memiliki teman mengobrol atau untuk memperlihatkan seolah-olah sedang sibuk dengan pasangannya.

Meski begitu, maraknya tangkapan layar yang dibuat dari aplikasi WhatsFake bisa jadi sangat berbahaya, jika disalahgunakan, tak terkecuali untuk kepentingan politik.

Oleh karena itu, keberadaan WhatsFake ini harusnya membuat semua orang jadi makin waspada akan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Dengan kata lain, jika menerima tangkapan layar berisi obrolan WhatsApp tak jelas, jangan langsung percaya.

Lebih baik kamu melakukan klarifikasi langsung ke orang yang namanya disebut di obrolan itu.

Sementara iitu Facebook meluncurkan “Journalism Project”

Proyek ini merupakan upaya untuk mempererat hubungan Facebook dengan organisasi berita.

Menurut catatan Reuters,  proyek baru itu meluncur kurang dari sepekan setelah Facebook merekrut mantan reporter CNN, Campbell Brown, untuk memimpin tim kerja sama berita.

Sebagai bagian dari proyek baru, Facebook akan fokus membuat format storytelling yang ada saat ini menjadi lebih baik, seperti Live, 360, dan Instant Articles.

Facebook juga akan menguji coba sebuah fitur menggunakan Instant Articles, agar para pembaca bisa melihat sejumlah cerita sekaligus sebagai sebuah paket.

Perusahaan juga akan menggandeng pihak ketiga untuk mempromosikan “melek berita” dan membantu pengguna memutuskan sumber berita terpercaya, serta terus berusaha meredam informasi palsu

Seperti diketahui, Facebook beberapa waktu belakangan dikritik karena banyaknya hoax di layanan tersebut.

Raksasa media sosial itu dinilai kurang maksimal memberantas hoax selama periode kampanye Presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

“Kami sangat peduli, mengenai upaya untuk memastikan bahwa ekosistem berita dan jurnalistik bisa berkembang pesat,” kata Director of Product Facebook, Fidji Simo.

Hembusan sebuah isu atau berita bohong (hoax) kerap dimulai dari media sosial. Facebook merupakan salah satu media sosial yang sering dimanfaatkan untuk menyebarluaskan berita bohong.

Menanggapi kondisi tersebut, pihak Facebook akhirnya mengambil langkah serius untuk memberantas peredaran berita-berita hoax di layanan mereka.

Sebuah fitur yang dapat digunakan pengguna untuk menandai sebuah berita hoax pun dihadirkan.

fitur baru tersebut berupa sebuah opsi yang dapat digunakan pengguna untuk menandai sebuah artikel atau bentuk posting lainnya yang mengandung berita hoax atau dan sengaja dibuat untuk menipu.

Selain mengandalkan partisipasi pengguna, Facebook juga akan menggunakan penghitungan algoritma untuk menentukan layak atau tidaknya sebuah postingan muncul di laman mereka.

Fungsi Facebook sendiri kini telah bergeser menjadi media sosial yang memuat banyak berita.

Namun sayang, banyak pihak yang sengajamem-posting atau memberikan tautan link berisi kabar hoax untuk menipu publik.

Bahkan sejumlah isu sensitif seperti berita-berita perpolitikan kerap diselewengkan oleh para pengguna Facebook yang tak bertanggung jawab

Jerman tampaknya sangat tak senang dengan maraknya berita palsu alias hoax yang beredar di Facebook.

Hal ini membuat politisi di negara tersebut mempertimbangkan untuk menerapkan denda pada jejaring sosial asal Amerika Serikat itu

Business Insider  dalam sebuah wawancara Der Spiegel dengan  tokoh partai  SPD,  Thomas Opperman,  mengatakan, jejaring sosial itu mesti menghadapi sanksi jika tak berhasil men-tackle berita hoax yang muncul di platformnya.

Facebook sendiri telah mendapatkan kritik cukup parah selama beberapa minggu terakhir terkait dengan berita hoax yang tersebar di lamannya.

Kritikus berpendapat, Facebook membantu penyebaran berita hoax yang terus dibagikan secara berantai.

Gara-gara berita hoax yang beredar di jejaring sosial itu pula, tak sedikit yang berspekulasi bahwa persebaran berita palsu itu memainkan peranan penting dalam memenangkan Donald Trump.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mulanya meremehkan masalah hoax ini dan mengatakan, cukup gila jika hoax di Facebook dianggap dapat mempengaruhi hasil pilpres.

Meski begitu, Zuck selanjutnya berjanji untuk membuat filter guna memeriksa kebenaran suatu informasi yang ada di Facebook.

Sementara itu, Oppermann berupaya agar Facebook menerima ganjaran jika informasi hoax tidak segera disingkirkan. “Jadi, setelah adanya pemeriksaan mendalam dan Facebook tak berhasil menghapus informasi palsu dalam 24 jam, perusahaan harus didenda sebesar EUR 500.000,” katanya.

Bukan hanya itu, pemerintah Jerman juga berencana memperkenalkan sebuah pengukuran baru.

“Kami sudah melakukan perbincangan. Kini dalam koalisi, kami akan mengambil tindakan mulai awal tahun depan,” kata Kauder.

Ia menambahkan, pihaknya berencana untuk menerapkan pinalti dengan jumlah tinggi yang akan mempengaruhi perusahaan sebesar Facebook jika tak menjalankan kewajibannya.

Aturan tersebut akan diterapkan jika Facebook tak berhasil mengatasi baik berita hoax maupun ucapan kebencian.

Tak hanya itu, Facebook diminta untuk membuat sebuah kantor aktif di Jerman untuk membantu menghilangkan berita hoax itu.

Komentar