Sulitnya Google Mengukuh Jati Dirinya

Penulis: Darmansyah

Senin, 14 September 2015 | 11:28 WIB

Dibaca: 0 kali

Google mengalami kesulitan untuk menentukan identitas atau jati dirinya setelah secara periodik mengganti diri logo dan struktur perusahaan.

Google terus dibayangi oleh kehendak untuk melakukan perubahan untuk menemukan nuansa bagaimana seharusnya mereka menetapkan identitas permanen.

Salah satu ketidakpercayaan diri Google tercermin dari pergantian losgonya yang kini menjadi warna-warni dan karakter huruf yang berbeda.

Logo anyar tersebut mendapat banyak kritik. Dari mulai dicemooh terlalu kekanak-kanakan hingga dianggap kehilangan identitas.

Beberapa waktu lalu, Google mengatakan saat ini muncul perangkat serta cara untuk berinteraksi dan berkomunikasi yang baru seperti dari pakaian, teknologi suara, dan perangkat pintar di dunia di sekitar kita.

Mengutip Mashable, banyak yang mengkritik bahwa alasan perubahan logo tersebut sebagai tanda perusahaan masih meraba-raba identitas alias jati diri yang kemudian dikaitkan dengan perombakan struktur di dalamnya, yaitu lahirnya perusahaan induk Alphabet.

Google biasa menjadi payung dalam segala hal. Munculnya Alphabet membuat peran perusahaan lebih ‘sempit’.

Identitasnya telah berubah. Seiring berjalannya waktu, branding perusahaan juga perlu berubah,” ujar analis Jan Dawson dari Jackdaw Research.

Namun berdasarkan sumber terdekat yang tak ingin disebutkan namanya, perubahan logo Google tak ada kaitannya dengan kemunculan Alphabet. Justru, perubahan logo tersebut menjadi petunjuk baru bagi raksasa teknologi ini dalam melihat masa depan.

Google mengklaim ada ratusan karyawan bekerja untuk menciptakan pendekatan desain yang lebih sederhana yang bisa berfungsi dengan baik pada perangkat berbasis iOS, Android, ataupun jam tangan pintar.

Dengan kata lain, perubahan logo perusahaan ini sebagai bentuk evolusi identitas yang bergerak dari ‘dunia’ yang hanya fokus di desktop saja pada tujuh belas tahun silam, menuju ‘dunia’ multi layar dan multi-device.

“Google sebagai perusahaan global, menyadari bahwa kami tak hanya mendesain untuk layar-layar kuat nan besar, tapi juga untuk ponsel seharga sertatus dollar. Ini adalah alasan valid untuk perubahan logo,” ujar mantan eksekutif perusahaan, Wesley Chan beberapa waktu lalu.

Salah seorang desainer Google, Ruth Kedar juga sempat mengungkapkan, setelah dibentuknya Alphabet, ia memang berharap ada perubahan yang berarti dari sisi desain, mengingat perusahaan telah mengubah banyak lini produk teknologi.

Hanya selang sebulan setelah rekonstruksi besar-besaran, Google mengubah logonya yang menggunakan tipografi Sans-Serif dengan penuh warna.

Pichai sebagai CEO baru Google, dilaporkan selama ini bekerja sesuai arahan dan jauh dari politik perusahaan. Ia dianggap bagus dalam mengelola brand.

Google sempat meluncurkan logo barunya, sejak diperkenalkan di tahun tujuh belas tahun lalu. Tapi perubahan ini menjadi perubahan yang paling besar dan signifikan satu tahun kemudian, saat Google pertama menggunakan empat warna dalam susunan hurufnya.

Sejak itu, logo Google cenderung datar-datar saja, dan saat ini memberikan bentuk yang berbeda dari sebelumnya.

Alphabet diprediksi akan menjadi perusahaan besar, jauh di atas Google. Dan ternyata ada filosofi menarik di balik nama perusahaan tersebut.

“G untuk Google, dan Google bukan perusahaan konvensional,” tulis Larry Page, salah satu pendiri Google yang kini menjabat sebagai CEO di Alphabet Inc.

Selain Page, petinggi Google lain yang bergabung ke Alphabet adalah Sergey Brin yang akan menjabat sebagi President. Selain itu ada juga Eric Schmidt sebagai Chaiman, Ruth Porat sebagai CFO dan David Drummond sebagai penasihat perusahaan.

Para pendiri Google, yang juga mendirikan Alphabet, punya ambisi jauh lebih besar saat mereka membuat Google yang awalnya hanya sebagai mesin pencari konten di Internet.

“Bagi saya dan Sergey, Alphabet adalah kehidupan baru bagi Google,” tulisnya.

Dalam blog resmi Google yang ditulis oleh Page, para pendiri Google itu juga menjelaskan alasan mereka memilih nama Alphabet, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti abjad.

“Alphabet adalah kumpulan huruf yang merepresentasikan bahasa, salah satu temuan penting dalam sejarah manusia,” kata Page.

Selain itu Alphabet juga bisa diartikan sebagai Alpha-bet (pertaruhan alfa), yakni sebuah investasi dan ide-ide besar yang akan dipertaruhkan oleh perusahaan tersebut.

“Saya tidak berniat menjadikan ini sebagai perusahaan raksasa dengan banyak produk. Intinya adalah perusahaan di bawah Alphabet harus bisa mandiri dan mengembangkan merek sendiri,” tegasnya.

Alphabet diketahui akan menangani berbagai bisnis yang dulu dipegang Google seperti laboratorium eksperimental Google X, laboratorium riset medis Calico, dan berbagai riset yang berkaitan dengan sains.

Alphabet juga akan membawahi sayap bisnis investasi Google Ventures dan Google Capital.

Sementara Google hanya akan fokus ke berbagai produk yang berkaitan langsung dengan pengguna, misalnya saja mesin pencari, iklan digital Google Ads, Google Maps, YouTube, dan Android.

Sepeninggalan Page, Google kini dipimpin oleh Sudhar Pichai yang selama ini menjabat sebagai Senior Vice President divisi Android.

Komentar