Status Negatif Medsos Adalah Racun

Penulis: Darmansyah

Jumat, 10 Maret 2017 | 11:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Situs media sosial “pencourage” membuka “borok” pengguna sosial dengan mengungkapkan sekitar duapertiga dari mereka adalah “tukang” memanipulasi realitas ketika mengirim info atau berbagi foto secara online

Jumlah “tukang” manupulasi itu mencapai dua pertiga dari pengguna.

Sisanya, yakni sepertiganya, merasa harus berbohong.

Memilih untuk tidak menampilkan foto di hari Anda memiliki jerawat rakasa, adalah satu hal.

Tapi, terus-menerus berbohong untuk membuat hidup Anda nampak lebih menarik, adalah hal lain.

Penipuan itu dapat mengakibatkan perasaan malu, paranoia dan kesedihan, begitu simpulan dari survei Pencourage.

“Anda dapat mengubah fakta-fakta kehidupan Anda sampai pada titik yang mungkin Anda tidak lagi mengenali pengalaman nyata diri sendiri,” Richard Sherry, Ph.D., memperingatkan.

Sherry adalah seorang psikolog klinis yang sedang menyelidiki apa yang disebut sebagai “amnesia digital“.

Pada dasarnya, semakin Anda memutar kenyataan di sosial media, semakin otak Anda berjuang untuk memisahkan fakta dari fiksi, jelas Sherry.

Dia mengatakan, kamuflase pengguna sosial media akan membuat merasa tidak tenang dengan identitas mereka, yang pada gilirannya dapat menciptakan perasaan cemas dan tertekan.

“Setelah kebenaran terdistorsi, saya pikir ini bisa melukai harga diri dan dapat membuat orang merasa terputus dari diri mereka sendiri,” ujar Sherry.

Semakin Anda berpikir bahwa media sosial sebagai kompetisi atau tempat di mana Anda “harus melawan” teman sendiri, semakin besar kemungkinan Anda untuk mengalami konsekuensi-konsekuensi kesehatan mental negatif.

Sebuah studi tentang Twitter dari Michigan State University menemukan, membaca info palsu di tweet orang lain dapat benar-benar mengacaukan memori Anda sendiri.

“Anda bisa lebih memertahankan memori tentang informasi yang tidak akurat daripada informasi yang aktual,” kata penulis penelitian, Kimberly Fenn, Ph.D.

Laporan lain, kali ini dari Jerman, mengenai banyaknya waktu yang dihabiskan orang-orang untuk memeriksa profil Facebook orang lain dapat memunculkan emosi negatif seperti kesepian, frustrasi dan iri hati.

Melihat semua hal keren dari teman maya Anda, dapat membuat hidup Anda sendiri tampak lumpuh oleh perbandingan, simpul penelitian dari Michigan University.

Penelitian itu hanyalah satu dari sekian banyak penelitian mengenai dampak negatif media sosial.

Sebaliknya, penelitian lain yang juga dilakukan di Jerman, menemukan bahwa orang-orang yang secara aktif memperbarui profil mereka dan berinteraksi dengan teman-teman dunia maya (bukan yang dengan pasif memata-matai profil orang lain), cenderung mengalami emosi yang positif.

Sebuah studi serupa dari Cornell University menemukan, Facebook benar-benar dapat mengangkat harga diri Anda.

Sekali lagi, kuncinya adalah pembatasan waktu dan selektif memilih konten Anda sendiri.

Menurut penulis studi Cornell, ketika Anda mengedit atau selektif menampilkan diri lewat media sosial, Anda akan menampilkan yang terbaik dari diri Anda, karakteristik dan rincian kehidupan yang paling menarik, untuk dibagikan kepada dunia.

Perbedaan penting di sini, Anda tidak berbohong tapi hanya selektif. Dengan memoles profil online Anda, Anda juga sedang memompa diri sendiri untuk melihat hal-hal terbaik yang Anda miliki.

Penelitian lain mengatakan, komunitas-komunitas di media sosial, seperti komunitas ibu baru atau penderita diabetes, bisa memberikan dorongan semangat dan rasa positif.

Jika Anda menggabungkan semua penelitian yang ada, sebuah pola akan muncul; Jika Anda ingin pengalaman media sosial Anda menjadi positif, Anda benar-benar harus menjadi sosial.

Itu berarti terlibat dengan teman-teman, hanya memilih tweet yang aktual, menampilkan kebenaran mengenai profil, status dan lain sebagainya.

Di atas semua itu, kepribadian online Anda harus mencerminkan siapa Anda sebenarnya.

Status negatif di media sosial, baik yang kita tulis sendiri maupun orang lain, bisa jadi racun dalam kesehatan mental.

Misalnya, update status mengenai kekesalan terhadap orang lain, menghina atau menjelek-jelekkan seseorang.

Emotional Quotient  Trainer, Anthony Dio Martin mengatakan, jika setiap hari terus dibombardir dengan hal-hal negatif, pola pikir dan emosi seseorang pun akan menjadi negatif.

“Cara berpikirmu, memengaruhi emosimu, memengaruhi tindakanmu. Kalau kita tiap hari dibombardir hal negatif, emosi kita jadi negatif. Jadi stres lah, jengkel lah,” ujar Martin

Sebaliknya, jika kita lebih sering membaca, melihat, mendengar, atau dikelilingi hal-hal yang positif, maka pola pikir, emosi, dan suatu tindakan pun akan menjadi lebih positif dan bermanfaat.

Martin menuturkan, ketika melihat segala sesuatu dari sisi negatif, juga tak ada manfaat positif yang didapat. Akibatnya, interaksi sosial dengan orang lain bisa memburuk karena selalu berpikiran negatif pada orang lain.

“Lama-lama kita lihat dunia itu kelabu, jahat. Kita cenderung pesimis dibanding melihat kesempatan. Kita jadi tidak melihat peluang sesuatu yang positif,” kata Martin.

Melalui smartphone, pengguna media sosial seharusnya bisa memilah informasi dengan cerdas. Seraplah informasi yang lebih positif.

Komentar