Setahun, Kejahatan Cyber Naik 57 Persen

Penulis: TEMPO.CO

Selasa, 25 September 2012 | 13:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Perkembangan teknologi yang pesat telah mengubah jenis kejahatan dunia. Banyak tindakan kriminal yang tidak lagi menggunakan cara tradisional, seperti mendatangi bank untuk merampok. Kini mereka telah beralih ladang dengan menyerang piranti lunak pada komputer, telepon pintar, serta perkakas tablet.

Pada Juli 2012, Kaspersky Lab, perusahaan perlindungan IT yang bermarkas di Moskow, Rusia, meneliti serangan peretas ke perusahaan dunia. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir tingkat kejahatan IT naik drastis. Sekitar 57 persen di negara Asia Pasifik atau APAC, dan 52 persen secara global. Hasil itu ditemukan Kaspersky Lab dengan melakukan survei pada 3.300 perusahaan di 22 negara, serta 1.056 responden di sembilan negara APAC.

Menurut Chief Marketing Officer Kaspersky Lab, Alexander Erofeev, banyak perusahaan yang merasa menjadi target kejahatan cyber. Di APAC saja, sebanyak 30 persen responden merasa jadi sasaran. Sedangkan secara dunia sekitar 32 persen. Untuk APAC, negara yang sering menjadi tujuan kejahatan IT adalah Indonesia. Sebanyak 98 persen responden merasa mereka kerap mendapat serangan dari luar.

“Perusahaan kedua yang sering diserang ada di India sebanyak 97 persen responden, Cina dan Singapura sekitar 92 persen, dan Australia 90 persen,” kata Erofeev dalam paparannya di Hotel Rendezvou Hotel, Singapura, Kamis, 19 September 2012.

Dalam setahun terakhir, sekiranya ada 5.500 virus baru setiap harinya yang menyebar lewat surat elektronik dan sosial media. Hal itu terlihat dari jumlah virus pada 2011 yang berkisar 70 ribu per hari dan naik ke 125 ribu tiap hari pada 2012.

Karena serangan itu, banyak perusahaan yang kehilangan data bisnis mereka. Misalnya India yang data perusahaannya hilang hingga 66 persen, Indonesia 54 persen, Cina 41 persen, Singapura 29 persen, dan Australia 24 persen. “Serbuan peretas itu memaksa perusahaan untuk menyiapkan perlindungan yang canggih bagi perangkat lunak mereka,” ujar Erofeev.

Komentar