Serangan Siber Didominasi Ramnsomware

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 Agustus 2018 | 09:10 WIB

Dibaca: 1 kali

Awas ransomware!

Serangan siber yang sempat melumpuhkan sejumlah layanan pemerintahan dan swasta di awal tahun lalu membuat banyak pihak khawatir.

Saat ini motif dan sumber serangan siber kian beragam.

Menurut studi Identity Theft Resource Center kejahatan siber dengan total kehilangan data sangat besar di seluruh kategori. Dari semua kasus kejahatan siber, Yudhi mengatakan ransomware masih menjadi tren yang akan terus terjadi.

Sejak enam tahun lalu hingga sekarang ransomware masih menjadi tren, karena pembuat virus bisa mendapatkan uang tebusan yang dibayarkan korban. Penyebarannya juga kerap disamarkan lewat surel atau data dokumen tertentu yang di dalamnya terselip virus.

Besarnya data yang hilang menunjukkan rentannya pertahanan korporasi terhadap serangan melalui jaringan.

Indonesia jadi salah satu negara yang masih menganggap keamanan data sebagai hal yang tidak terlalu penting.

Padahal, sejumlah bidang sangat berpotensi jadi sasaran serangan siber jika tak melakukan proteksi berlapis terhadap keamanan data.

Urgensi keamanan data di Indonesia di bidang perbankan dan perusahaan yang memiliki formula khusus, misalnya pabrik, institusi dan lembaga yang menyimpan data publik.

Hanya saja keamanan data masih dianggap tidak terlalu penting, padahal potensi kerugiannya besar.

Suatu perusahaan dianggap butuh keamanan data jika sistem kerja mulai kompleks. Misalnya satu perusahaan mulai buka cabang di beberapa lokasi, otomatis data yang tersimpan kian rentan terhadap serangan siber

Potensi kebocoran data bukan hanya dari luar korporasi, namun juga ada faktor dari dalam seperti ada faktor ketidaksengajaan karyawan.

Kasus zaman sekarang masih ada karena human error, seperti ada kesalahan SDM yang berpotensi membuat celah keluar.

Sementara itu, Facebook beberapa waktu lalu kembali memutus akses pengguna terhadap ratusan ribu aplikasi dalam platformnya.

MVP of Product Partnerships Facebook Ime Archibong menjelaskan dalam blog resmi Facebook, perusahaan telah memutus akses API untuk ratusan ribu aplikasi yang belum melewati tinjauan.

“Tujuan kami dengan semua perubahan ini adalah untuk memastikan bahwa kami lebih melindungi informasi Facebook orang-orang,” papar Archibong dalam blog resmi Facebook.

Dilansir dari Mashable, raksasa media sosial ini lebih hati-hati terhadap pihak ketiga yang terkoneksi dengan Facebook. Aksi waspada ini terjadi setelah insiden Cambridge Analytica.

Pengembang dengan aplikasi yang ada di Facebook memiliki batas waktu hingga 1 Agustus untuk menyerahkan data untuk ditinjau.

Proses peninjauan yang diperbarui mengharuskan pengembang untuk memverifikasi bisnis mereka jika aplikasi mereka memerlukan izin API tertentu.

Pengembang membangun aplikasi untuk bisnis lain juga perlu menandatangani kontrak baru dan menyetujui pembatasan tentang bagaimana data akan digunakan.

“Di mana kami memerlukan informasi lebih lanjut, pengembang akan memiliki waktu terbatas untuk merespons. Jika kami tidak mendengar kembali dalam jangka waktu tersebut, kami akan menghapus akses aplikasi ke API yang memerlukan persetujuan,” tambah pos tersebut.

Pengembang tidak akan kehilangan akses API mereka saat sedang ditinjau, asalkan sesuai dengan kebijakan perusahaan.

Twitter juga baru-baru ini mengumumkan pembatasan baru tentang bagaimana pengembang dapat menggunakan API-nya dalam upaya untuk mengurangi tweet spam dan penyalahgunaan.

Komentar