Playboy Juga Menghapus Akun Facebook

Penulis: Darmansyah

Kamis, 29 Maret 2018 | 08:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Setelah SpaceX dan Tesla menghapus aplikasi Facebook di laman pencariannya, hari ini, Kamis, 29 Maret, seperti ditulis “techno,” giliran majalah pria dewasa Playboy yang menghapus akun resminya di jejaring sosial tersebut.

Majalah dewasa kenamaan itu resmi melenyapkan akunnya di Facebook  sejak Rabu malam malam yang diumumkan melalui rilis.

Keputusan Playboy ini meninggalkan dua puluh  lima juta akun pengikut setia mereka di Facebook.

“Kabar terbaru mengenai dugaan penyalahgunaan data pengguna Facebook memantapkan keputusan kami berhenti beraktivitas di sana untuk saat ini,” tulis Playboy.

Chief Creative Officer Playboy, Cooper Hefner melalui akun pribadi Twitter miliknya berkata nilai dan pedoman konten bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka pegang.

“Kami telah berusaha menyampaikan suara kami di platform yang menurut kami kerap represif secara seksual,” tulis Hefner.

Aksi korporasi meninggalkan Facebook terjadi setelah insiden Cambridge Analytica terkuak dimulai oleh Elon Musk.

Keputusan Musk untuk menghapus laman resmi SpaceX dan Tesla mudah saja ia buat. Bahkan keputusan itu diambil karena mendapat tantangan dari netizen di Twitter.

Kendati Playboy dan Elon Musk ‘pamer’ sikap tegas meninggalkan Facebook, mereka sejatinya belum sepenuhnya melepaskan diri dari produk-produk yang dioperasikan oleh Mark Zuckerberg itu.

Sampai saat ini Playboy dan perusahaan-perusahaan milik Elon Musk masih memiliki akun di Instagram, yang merupakan anak perusahaan Facebook.

Sebelum Playboy menghapus akun Facebook di laman pencariannya, pemerintah Jerman juga akan membatasi gerak Facebook di negaranya.

Skandal penyalahgunaan data pengguna yang dilakukan Facebook mendorong pemerintah Jerman bersikap lebih tegas.

Menteri Kehakiman Jerman, Katarina Barley mengatakan pihaknya akan memperketat regulasi dan ancaman hukuman bagi Facebook.

Langkah tersebut ditempuh setelah pemerintah melakukan pertemuan dengan perwakilan Facebook. Menurutnya, pihak Facebook dalam pertemuan itu mengakui adanya pelanggaran privasi data pengguna di platform mereka.

“Facebook mengakui pelanggaran dan ekses di masa lalu dan akan memberi jaminan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi,” ungkapnya seperti dilaporkan Reuters.

Namun menurutnya janji saja tidak cukup, sehingga pemerintah mengambil langkah lebih tegas. “Di masa depan, kita harus mengatur perusahaan seperti Facebook dengan lebih ketat,” imbuhnya.

Menurutnya pihak Facebook mengungkap sekitar satu persen dari tiga ratus  ribu data pengguna yang dihimpun Cambridge Analytica berasal dari Eropa.

Pihak Facebook sendiri tidak merinci berapa banyak diantara satu persen tersebut yang berbasis di Jerman.

Sebelum pemerintah mengambil sikap, hasil surveri terbaru majalah Jerman Focus menyebut hampir separuh pengguna Facebook disana mempertimbangkan untuk menutup akun mereka.

Selain Facebook, sekitar empat puluh sembilan persen peserta survei abarnya juga berencana menutup akun media sosial seperti Instagram dan Twitter.

Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini sebelumnya menjanjikan akan mengontak seluruh pengguna yang datanya disalahgunakan oleh Cambridge Analytica.

Selain Jerman, pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dikabarkan juga akan meminta kesaksian CEO Mark Zuckerberg atas skandal pencurian lima puluh juta data pengguna Facebook sejak empat tahun lalu  untuk kepentingan Pilpres AS.

Sementara itu, atas skandal Facebook itu,  Tim Cook, boss Apple,  mendorong perlunya regulasi yang disusun dengan cermat untuk mengatur soal penggunaan data pribadi.

Hal ini diungkap Cook saat berbicara di forum tahunan China Development Forum di Beijing.

“Saya kira situasi ini sangat menakutkan dan menjadi sangat besar sehingga mungkin diperlukan regulasi yang dipersiapkan dengan cermat,” jelasnya saat ditanya apakah penggunaan data pribadi perlu dibatasi terkait dengan insiden Facebook.

“Kemampuan bagi siapapun untuk mengetahui apa yang sudah diramban selama tahunan, siapa kontak Anda, dan kontak mereka, apa yang kamu suka dan tidak dan tiap detil hidup Anda, menurut pandangan saya tidak seharusnya ada.”

Cook juga menyebut kekhawatirannya bahwa sudah bertahun-tahun orang di banyak negara telah menyerahkan data pribadi mereka tanpa menyadari apa yang mereka lakukan.

Mereka juga mungkin tak sadar ada pihak yang tengah membangun profil pengguna.

Cook juga menyebut, mereka yang tak sadar datanya dikoleksi ini sangat mungkin akan tersinggung ketika sesuatu terjadi.

“Kebetulan, prediksi ini telah jadi kenyataan lebih dari sekali,” tandasnya.

Apple sendiri memiliki model bisnis yang berbeda dari Facebook dan Google.

Keduanya mengandalkan pendapatan dari iklan, sementara Apple tak memiliki bisnis iklan yang mendasar. Meski ia tetap mendapat pendapatan iklan dari pencarian di App Store, seperti ditulis Business Insider.

Alih-alih mendapat uang dari iklan, Apple menghasilkan pendapatan dari penjualan perangkat keras premium, baik smartphone hingga komputer desktop.

Sejarah untuk menjaga privasi Apple telah digaungkan Steve Jobs sejak delapan tahun silam.

Belakangan Apple mempromosikan keamanan privasi pengguna dengan menyebut, “di Apple, kami percaya privasi adalah hak azasi manusia yang mendasar.”

Dilaporkan Yahoo Finance, saham FB turun sebesar sepuluh persen dalam seminggu terakhir membuat perdebatan antara perusahaan teknologi dan firma pengumpul data mengenai perlu atau tidaknya regulasi mengenai kebijakan privasi di buat.

Komentar