Pernah Tahu Apa Itu “Cyber Troops?”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 31 Maret 2016 | 15:14 WIB

Dibaca: 60 kali

Anda tahu apa itu “cyber troops?”

Bahasa kerennya adalah pengerahan pasukan dunia maya

Tahu untuk apa?

Menggiring opini.

Caranya?

Menyerbu dunia maya dengan lewati opini-opini yang menguntungkan.

Strategi itu juga banyak dipakai, terutama dalam memenangkan isu-isu serta bisa juga dipakai untuk “perang” meraih jabatan lewat pemilu, dan sebagainya

Aksi ini sering dituduh sebagai kejahatan di dunia.

Siapa yang menjalan aksi “cyber troops” ini.

Jangan membayangkan sebuah pasukan berbadan kekar dan bersenjatakan peralatan perang. Mereka yang menjalankan “cyber troops” ini adalah sekelompok orang biasa dan hanya duduk manis di depan komputer.

Namun jangan salah, mereka juga memiliki fungsi dan tugas yang hampir sama, meski aspek yang mereka jalani sangatlah jauh berbeda.

Jika tentara umumnya dilatih untuk menahan serangan fisik, maka mereka adalah pasukan yang dibina untuk menjaga ataupun melindungi ancaman serangan kaum peretas.

orea Selatan pernah mengalami kejahatan cyber ini yang menyebabkan selama pekan aktivitas mereka seakan terhenti.

Anda bisa bayangkan jika tidak ada internet, mati listrik dan semuanya berhenti, mulai dari transaksi keuangan, transportasi dan lain-lain.”

Hal tersebut, tentu sangatlah merugikan banyak pihak, maka perlulah dibentuk badan yang boleh dibilang sebagai pintu utama perlindungan atas kejahatan cyber.

Dalam dunia IT selalu ada celah untuk bisa diretas oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Namun, kata-kata ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ sepertinya bisa mewakili, ketimbang tidak melakukan apa-apa.

Sebenarnya, aksi pasukan cyber itu bisa dikenali.

Sebagai contoh “bodoh” biasanya bahasanya berulang, dengan akun-akun yang anonim atau psuedonim.

Akun anonim adalah akun “sampingan” milik seseorang baik yang terdapat di media sosial, maupun situs lainnya yang memungkinkan sang pemilik menyusupkan opini.

Pada kolom profile, sang pemilik akan menyamarkan identitas aslinya.

Sementara itu, akun psuedonim adalah akun yang kurang lebih sama, namun pada kolom profile sang pemilik akan mengisinya dengan data-data yang sama sekali bertentangan dengan pemiliknya

Kalau anonim, misal nama dia Joni, jadinya J aja. Kalau psuedonim namanya diganti jadi Bbblah.

Akun “sampingan” atau yang juga akrab disebut sebagai “klonengan” di sejumlah forum itu, berguna agar si pemilik dapat menyusupkan opini beberapa kali di laman situs yang sama, dengan akun berbeda.

Pelaku berharap masyarakat melihat opini tersebut, sebagai opini yang dilontarkan oleh orang yang berbeda.

Di media berbasis daring, terdapat kolom komentar di setiap berita yang disajikan.

Kolom tersebut adalah salah satu sasaran pasukan cyber untuk dibanjiri dengan komentar.

“Mereka biasanya mengemas pernyataan yang seragam, dan berulang-ulang

Strategi tersebut gampang diendus pada sejumlah pernyataan salah satu tokoh yang tengah dirudung masalah.
Memanfaatkan pasukan cyber untuk menjaga citranya.

Untuk urusan pemilihan pejabat, pasukan cyber juga bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan elektabikitas salah seorang kandidat, melalui kampanye hitam atau black campaign.

Bila aksi tersebut terendus, justru dampaknya akan negatif.

Karena para pengguna mayoritasnya adalah mereka yang rasional, yang sangat menghargai orisinalitas.

Seharusnya biar saja masyarakat komentar apa adanya, jangan memobilisasi komentar-komentar itu.

Komentar