Perangkat Android Masih Jalankan OS Basi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 November 2017 | 08:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman “extreme tech,” hari ini, Kamis, 16 November, menulis dari dua  miliar perangkat Android yang beredar hingga Mei lalu,  hampir setengahnya, atau satu miliar, masih mentok menjalankan OS basi

Untuk Anda tahu, sistem operasi Android  bersifat terbuka dan bisa dengan bebas dikembangkan oleh pabrikan gadget manapun.

Oleh karena itu terjadi fragmentasi di mana versi OS yang dijalankan oleh masing-masing perangkat berbeda-beda.

Di samping itu, tak semua vendor Android memperbarui OS perangkatnya sehingga sebagian masih menjalankan sistem operasi Android versi lawas.

Tentang hal  tersebut diungkapkan melalui analisis seorang engineer hardware bernama Dan Luu.

Menggunakan basis data versi OS dari populasi perangkat Android secara keseluruhan yang rutin dirilis tiap bulan lewat situs Android Developer, Luu menghitung berapa banyak perangkat Android yang masih menjalankan OS tua.

Sekitar semiliar perangkat Android itu, menurut Luu, terancam bakal terperangkap selamanya menjalankan OS basi.

“Berdasarkan model update Android, kita bisa memperkirakan bahwa sebanyak 0 persen dari mereka akan diperbarui ke sistem operasi Android modern,” tulisnya.

OS tua atau basi menjadi masalah karena kemungkinan tidak memiliki patch sekuriti yang up-to-date sehingga lebih rawan terkena serangan cyber atau program berbahaya, di samping tak dibekali fitur-fitur terkini untuk para developer aplikasi.

Luu turut mencatat bahwa kecepatan adopsi versi-versi Android terbaru belakangan mengalami penurunan. Adopsi Android Nougat, misalnya, lebih lambat daripada Android Marshmallow tahun sebelumnya.

Begitu pula dengan Android Oreo yang baru berjalan di nol tiga persen perangkat Android, sejak pertama dirilis pada akhir Agustus lalu hingga awal  November

Sebab pasti di balik menurunnya kecepatan adopsi versi Android baru tidak diketahui. Luu berspekulasi ada tiga kemungkinan, yakni pertumbuhan Android yang melambat, angka upgrade perangkat yang menurun, atau jumlah perangkat yang menerima update OS semakin sedikit.

Google selaku pemilik Android telah melakukan langkah-langkah untuk menekan fragmentasi Android, misalnya dengan menggelar Project Treble untuk perangkat-perangkat Android  Oreo.

Dengan menerapkan konsep modular system image, perangkat-perangkat Android Oreo lebih mudah dibuatkan update dan lebih efisien biaya pula.

Namun, pada akhirnya penyaluran update Android tetap bergantung pada kesediaan vendor yang bersangkutan.

Selain itu ada kabar baru yang menggembirakan. Android versi Oreo yang masih dalam pengembangan memiliki fitur baru yang digadang-gadang mampu memperpanjang usia baterai samrtphone.

Fitur tersebut diberi nama wakelock detector.

Wakelock detector merupakan aplikasi penghemat baterai yang akan mengidentifikasi dan memantau aplikasi untuk mencegah smartphone berada dalam mode deep sleep.

Fitur ini akan memilih aplikasi yang menguras daya baterai dengan cara mencegah perangkat beralih ke mode deep sleep.

Selama mode deep sleep, aplikasi yang sedang berjalan di background, seperti media sosial, jaringan WiFi, atau data seluler, akan dinon-aktifkan sementara.

Kemudian, aplikasi yang bekerja di latar belakang tersebut akan diaktifkan kembali saat ponsel dibuka agar tetap sinkron, khususnya aplikasi yang membutuhkan notifikasi atau pemberitahuan.

Selain memperitahu pengguna tentang aplikasi apa saja yang boros daya, Wakelock detector juga menyertakan alasan mengapa aplikasi tersebut menggunakan banyak sekali daya baterai.

Contohnya adalah aplikasi berbasis lokasi yang dapat menelusuri lokasi pengguna berulang kali. Aplikasi seperti ini akan menguras daya sangat cepat.

Seperti ditulis  Phone Arena,  Wakelock detector dapat ditemukan di menu informasi baterai yang berada di Setting atau pengaturan.

Di mana nantinya wrongdoing app atau aplikasi yang kerjanya mencurigakan seperti menguras banyak baterai akan mudah diidentifikasi dengan peringatan ikon baterai bewarna merah.

Dengan fitur Wakelock detector, pengguna bisa memutuskan apakah ingin menutup secara paksa aplikasi atau ‘melumpuhkan’ layanan pendukung yang sedang digunakan, seperti GPS yang didukung oleh aplikasi berbasis lokasi.

Selama ini, hampir sebagian besar pengguna Android mengakali penghematan daya baterai dengan menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk mendeteksi wrongdoing app.

Dengan layanan fitur baru dari Android ini, diharapkan masa depan sistem operasi Android menjadi lebih baik.

Komentar