“Perang” Baru WhatsApp Melawan Hoaks

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Januari 2018 | 08:39 WIB

Dibaca: 0 kali

WhatsApp kembali dengan “perang” baru melawan “hoaks” yang seringkali menjadi viral setelah dibagikan berkali-kali lewat media sosial ataupun layanan perpesanan.

Untuk menangkal pesan berantai ini, WhatsApp akan datang dengan  fitur yang memberitahu pengguna bahwa pesan itu telah dibagikan berkali-kali.

Notifikasi ini akan muncul untuk pesan yang sudah dibagikan lebih dari 25 kali dengan fitur ‘forward‘.

Pemberitahuan yang bertuliskan “Forwarded Many Times” atau telah diteruskan berkali-kali akan muncul di bawah pesan yang diteruskan itu. Saat ini, notifikasi tersebut hanya muncul pada pesan yang terkirim.

WhatsApp menyarankan untuk mencegah pesan ini muncul saat pengguna ingin mengirimkan pesan ke banyak orang, bisa menggunakan opsi Broadcast List.

Dengan fitur ini, hanya orang-orang yang memiliki nomor pengguna dalam kontak mereka yang akan menerima pesan tersebut.

Dengan kata lain, fitur ini tak bisa disalahgunakan untuk mengirim pesan kepada orang yang tak menyimpan nomor pengirim pesan.

Saat ini, WhatsApp tidak memblokir pesan yang diteruskan lebih dari 25 kali. Lantaran masih dalam pengembangan, masih belum jelas bagaimana WhatsApp akan menerapkan fitur ini nantinya.

Meski demikian, penyebar hoaks mungkin akan segera menemukan cara untuk mengakali hal ini. Tapi setidaknya fitur ini akan memperlambat kerja mereka.

Kepada WhatsAppen, juru bicara WhatsApp menyebut bahwa perusahaan itu tengah mengawasi penyebaran spam di platformnya dengan ketat dan akan mengambil langkah pencegahan.

Jika Anda mendapat pesan sampah (spam) yang dikirim ke banyak orang sekaligus, ada baiknya Anda melaporkan nomor tersebut.

WhatsApp sendiri sebenarnya punya perangkat untuk mendeteksi spam secara otomatis.

Tapi, laporan aktif dari pengguna akan lebih efektif untuk mengatasi penyebar spam.

Sehari sebelumnya WhatsApp juga telah memberi tahu tentang  kehadiran fitur ‘mention’ di grup  yang memang sudah beberapa lama ini digunakan.

Fitur mention sendiri digunakan saat seseorang hendak menyebut akun pengguna lainnya di grup WhatsApp.

Tapi fitur itu terasa kurang berguna karena pengguna tak mendapat notifikasi khusus ketika mendapat ‘mention’. Saat diklik, mention itupun hanya menampilkan detil kontak orang tersebut .

Kini, WhatsApp tengah menguji fitur baru yang akan memberikan notifikasi khusus ketika seseorang di ‘mention’ di dalam grup.

Tapi, karena masih dalam tahap beta, fitur ini masih belum bisa digunakan oleh seluruh pengguna.

Seperti halnya fitur yang baru diuji lainnya, fitur notifikasi ini juga baru tersedia bagi pengguna yang masuk ke dalam penguna Beta WhatsApp.

Berdasarkan informasi dari WhatsApp Beta Info, notifikasi ini nantinya akan muncul saat kita membuka grup. Tombol dengan logo “@” ditampilkan di atas tombol perekam suara.

Logo ini lantas akan memunculkan angka yang merupakan notifikasi soal berapa banyak ‘mention’ yang ditujukan kepada pemilik akun di dalam grup tersebut.

Saat notifikasi ini diklik, maka pengguna akan dibawa ke ‘mention’ pertama. Jika tombol ini terus diklik, maka akan muncul mention-mention berikutnya.

Notifikasi ini masih dilakukan di dalam grup dan tidak mendorong notifikasi (push notification) keluar aplikasi seperti ketika pengguna mendapat pesan masuk.

Dengan adanya fitur ini, tentu akan memudahkan pengguna menyusuri pesan yang ditujukan kepadanya di dalam grup.

Apalagi jika anggota grup itu aktif ‘ngobrol’ dan pengguna malas untuk memanjatinya satu persatu.

Meski demikian, masih belum jelas kapan fitur ini akan dikeluarkan untuk seluruh pengguna WhatsApp, demikian diberitakan UberGizmo.

Whatsapp bisa memasukkan anggota baru ke dalam grup obrolan tanpa sepengetahuan admin grup. Hal ini dikemukakan oleh sekelompok periset kriptografi dari Ruhr University Bochum di Jerman.

Hal ini bisa dilakukan karena server bisa ikut campur terhadap pengaturan grup di aplikasi berkirim pesan populer tersebut. Hal ini dapat terjadi pada berbagai layanan perpesanan yang menggunakan sistem enkripsi ujung-ke-ujung.

Sehingga, siapapun yang menguasai server tersebut, bisa dengan mudah  menyusupkan orang lain ke dalam grup secara diam-diam. Penyusup pun bisa membaca semua percakapan yang sedang terjadi.

Sehingga, menurut Paul Rösler, salah satu peneliti dari Ruhr University Bochum, sistem enkripsi WhatsApp jadi tak ada gunanya jika seseorang bisa menyusupkan orang lain ke dalam grup tanpa sepengetahuan admin.

“Kerahasiaan grup obrolan jadi rusak saat anggota baru yang tidak dikenal memiliki akses terhadap seluruh pesan baru dalam grup obrolan dan membacanya,” jelas Paul, seperti dikutip Wired.

Tapi, sejauh ini tak bisa mengakses pesan yang sudah terjadi sebelum ia masuk ke grup. Hasil penelitian ini diumumkan dalam konferensi keamanan Real World Crypto di Zurich, Swiss.

Meski undangan masuk ke dalam grup hanya bisa dilakukan oleh admin, namun Whatsapp tidak memiliki mekanisme otentikasi terhadap undangan yang terkirim. Sehingga, pemegang server bisa meniru undangan tersebut.

Meski demikian, menjadi pemegang kendali server WhatsApp bukan hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebab, yang memiliki akses pemegang server Whatsapp dikontrol oleh staf, pemerintah yang bisa meminta akses ke dalam server secara legal, serta hacker kelas kakap.

Meski demikian, Chief Security Officer Facebook, Alex Stamos menolak penelitian tersebut. Facebook sebagai perusahaan induk WhatsApp menyatakan ada banyak cara untuk melakukan verifikasi terhadap anggota grup obrolan.

Ia juga berpendapat bahwa seluruh anggota grup dapat melihat siapapun yang tergabung dalam grup, sehingga mereka akan mendapat pemberitahuan saat ada ‘penyusup’ yang masuk ke grup, seperti diberitakan The Verge.

Kerentanan ini juga mengancam aplikasi berkirim pesan lain yang menggunakan sistem enkripsi ujung-ke-ujung serupa Whatsapp, yaitu Signal dan Threema.

Komentar