Obsesi Seorang Zulfian, Mengembangkan Ilmu Suara

Penulis: Darmansyah

Selasa, 9 Juli 2013 | 11:11 WIB

Dibaca: 0 kali

Said Muchsin, wartawan senior Aceh, yang kini menetap di Jakarta, menulis sesuatu yang langka tentang seorang ilmuwan yang mengembangkan ilmu suara. Ia mewawancarai sang ilmuwan, Zulfian, juga asal Aceh, yang memilih “spesialisasi” langka di dunia akademik dan “enjoy” dengan apa yang menjadi pilihannya. Inilah tulisannya yang dibagi dalam dua bagian.

PADA suatu acara perjamuan pesta pernikahan anak laki dari Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Rektor Institut Pertanian Bogor di Balai Sudirman Jakarta, saya berkenalan dengan Ir. Zulfian, Lektor Kepala Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, pada minggu 23 Juni 2013 Lalu. Suara dalam gedung Balai Sudirman itu terasa tidak cukup nyaman. Suara-suara pengunjung yang berbicara agak bergaung. Tentu saja karena banyak orang yang berbicara. Ketika ada dering handphone dari Muhammad Yus, mantan Ketua DPRD Aceh, saya tak bisa mendegar karena kegaduhan suara dalam gedung. Lalu saya SMS saja bila saya berada dalam ruangan yang ramai.

Suasananya santai, dan meriah. Hidangan makanan beragam, dari mi aceh, sate padang dan rendangnya, hingga makanan-makanan khas dari Jawa Tengah. Irama musik dari grup penyanyi jazz mengalun pelan. Gesekan biola dari seorang dara belia serta tiupan klarinet lelaki muda ditingkahi petikan gitar yang mengiringi penyanyi berpuan muda. Ia membawakan sejumlah lagu dendang ranah Minang, Melayu dan Indonesia, membuat pengunjung nyaman dalam ruangan yang cukup luas itu.

Saya perkirakan ada lima ratus orang undangan lebih yang hadir di malam itu. Adik saya Said Marsul SE, MBA memperkenalkan saya pada Ir. Zulfian yang Lektor Kepala Unsyiah. Saat saya mengomentari suara dalam gedung megah ini, Zulfian menyambut sambung komentar saya, betapa pentingya penataan suatu gedung dengan suara.

Zulfian yang lahir di Banda Aceh, 9 Desember 1951, merupakan alumni Fakultas Tehnik jurusan Fisika Tehnik pada Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia satu angkatan dengan Ir. Azwar Abubakar (Menteri Penertiban Aparatur Nergara ), Ir. Mawardi Nurdin Walikota Banda Aceh dan Endang Muzakir anak Muzakir Walad yang mantan Gubernur Aceh. Zulfian kemudia mengajar di Fakultas Tehnik dan Pertanian Universitas Syiah Kuala (1990-2003).

Ia lalu mengambil S-2 di Inggris dalam bidang tehnik suara. Alumni tehnik ilmu suara Ini amat langka di Indonesia. Dia merupakan alumni pertama dari Indonesia dalam teknologi suara. Sekembali dari Inggris, dia kembali mengajar di Unsyiah hingga kini. Dari tangannya banyak lahir para doktor dan profesor.

Ada dua universitas yang cukup handal dalam ilmu teknik suara ini di Eropa. Di University of Southampton, Inggris merupakan yang terbaik di dunia. Sedangkan di DTU (Denmark Tehnikel University) merupakan yang terbaik di Eropa. “Anak saya tak bisa masuk ke University ini karena persyaratannya sangat ketat. Nilai rata-rata NEM harus 9 ke atas”, ujar Zulfian.

Tidak cukup waktu bicara di ruangan yang lagi ramai dengan suara pengunjung, saya minta waktu ke rumahnya pada hari Rabu 26 Juni 2013. Selama ini kita mengen ali suara dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Bahkan jadi suatu kebanggan bila bisa meniru suara-suara orang-orang penting untuk dijadikan lawakan di atas panggung. Atau meniru suara-suara hewan, lalu pernah ada kontes suara hewan yang pernah diselenggarakan Walikota Baharudin Yahya di tahun 1990-an lalu. Padahal, pengetahuan tentang suara sangat luas dan mendalam.

Kini bahkan di Inggris , Swedia, Amerika Serikat, Jepang, suara menjadi cabang ilmu pengetahuan untuk mendeteksi berbagai kejadian alam dan seisi kandungannya , baik di darat, laut, dalam bumi, maupun di langit.

Pada mahluk hewan di darat, contohnya, kelelawar memiliki sistem pantaun suara yang mampu melacak keberadaan buah-buahan santapannya dalam jarak yang sangat jauh. Kelelawar di dalam gua yang dingin memiliki gelombang ultrasonic yanhg mampu melacak keberadaa makanannnya yang jauh hingga 200 km dari gua. Ikan lumba-lumba memancarkan gelombang suara dalam bentuk gelembung suara.

Bentuk gelembung yang berada di atas moncongnya itu tampak berputar bagai satelit. Gelembung suara itu mampu melacak keberadaan makananannya walau jauh darinya. Hal yang sama dilakukan oleh ikan paus. Pada ikan dolphin mengindentifikasi keberadaan suatu objek dengan membuat jaringan bunyi. Gelembung (buble) yang berbentuk spiral itu mampu menangkap mangsa hanya dengan memperdengarkan suaranya. Inti dari teknik suara ini sama seperti ilmu bahasa, yaitu ada subjek-objek-prediket. Ketiga komponen ini saling berkaitan satu sama lainnya.

Teknologi suara itu kini dikembangkan di lautan untuk menangkap ikan. Tak perlu lagi menggunakan jaring untuk menangkap ikan. Cukup dengan peralatan akustik saja, ikan-ikan akan berkumpul untuk ditangkapi dengan mudah.

Dengan suara bisa dideteksi kandungan minyak bumi dan gas alam baik di daratan maupun di lautan. Satelit memiliki keterbatasn jangkauan, tapi suara mampu medeteksi jauh lebih dalam lagi. Bahkan suara mampu mendeteksi keberadaan meteor yang bisa mengancam kehidupan di bumi. NASA di Amerika Serikat dalam siarannya dua Minggu lalu meminta bantuan ilmuwan dari berbagai displin ilmu pengetahuan untuk melacak keberadaan benda langit selebar empat meter persegi yang mengarah ke bumi, tapi kemudian luput dari pantauan satelit. Gesekan meteor dengan lapisdan-lapisan ozon itu tentu saja menimbulkan suara. Nah, kebaradaannya bisa dilacak dengan ilmu suara melalui peralatan teknologi tinggi.

Para arsitek bangunan yang amat piawai pun banyak yang tidak mendalami perancangan tata ruang dengan suara. Bangunan-bangunan masjid yang dibangun dengan arsitektur Timur Tengah yang tandus dengan padang pasir, pasti berbeda dengan arsitektur tropis dan sub tropis. Iklimi tropis Indonesia mewacanakan bangunan masjid yang spesifik dengan alam Indonesia. Tapi ketika arsitektur Timur Tengah itu diadopsi dalam berbagai bentuk bangunan masjid di Indonesia, terutama juga Aceh, maka peranan suara tidak lagi merata terdengar pada semua sudut ruangan. Di tengah-tengah ruangan suara khatib solat Jumat terdengar jelas. Tapi di sudut kanan belakang dan depan sudah tak jelas suara khatibnya. Suara bising dari luar masjid menerobos masuk ke dalam masjid.

Masjid Istiqlal yang megah di Jakarta tak luput dari suara bising, suara khatib tak jelas. Di luar negeri, Masjid Putra Jaya di Kuala Lumpur juga mengalami hal yang sama. Distribusi suara ke semua ruangan tidak merata. Harusnya distribusi suara itu merata terdengar di semua ruangan, baik di depan maupun di belakang. Sebaliknya di Masjid Sofia di Istambul, Turki, gema suaranya cukup bagus. Jadi para ilmuwan masa lampau sudah memperhitungkan aspek-aspek bunyi dalam ruangan. Sayang bila para arsitek zaman kemajuan dalam era tekologi nano abad ke- 21 malah kalah unggul dengan nenek moyangnya.

Kelalaian dan kekeliruan mengabaikan suara sebagai karunia alam dari Ilahi ini berdampak negatif bagi mahluk hidup. Suara itu memiliki kontur rendah, datar, tinggi. Suara azan misalnya, nada panggilnya harus pas. Kontur bunyi azan harus sesuai dengan kuping pendengarnya. Bila pas, panggilan salat itu menjadi amat berguna dan bernilai dalam ibadah. Tapi bila salah, panggilan azan itu malahan bisa dianggap mengganggu pendengarnya.

Pengeras suara masjid, bila dilaksanakan dengan bijaksana bisa bernilai dakwah. Tapi bila suara itu jadi sebuah gangguang bagi pendengarnya, bukankah ini menjadi negatif bagi syiar agama?

Perlu dicamkan, kecepatan suara untuk percakapan adalah 50 detik, sedangkan untuk musik 80 detik. Index transmisi suara itu bertumpu pada dua bagian yaitu objektif respon dan subjektif respon. Yang sulit diukur adalah subjektif respon. Pengukurannya dengan mapping, untuk bisa mengetahui soundnya. Untuk mengukur mapping objektif yaitu dengan mengukur sound distribusi, waktu dengar, serta kecepatan transmisinya. Kemudian yang juga perlu dipahami adalah nilai ambang batas kebisingan bagi manusia adalah 85 decibel (db). Di atas itu sudah jadi gangguan bagi kuping.

Sedangkan untuk mengukur kriteria subjektif respon adalah pada keakraban, kelegaan, kehangatan, kejelasan, kesilauan akustik, kecerahan, kecampuran, tekstur. Untuk mengukur kriteria objektif respon yaitu dengan melihat isi latar belakangnya, waktu dengar, distribusi tingkat tekanan suara, tingkat kekerasan suara, melihat cacat akustik speech sound (echo). Ada alat ukur yang namanya infra sound yang mencakup bagian spektrum akustik di bawah 20 Hz hingga di bawah 0,03 Hz yang mampu menggambarkan suatu peristiwa fenomenal global yang menyebar pada ribuan kilometer. Infra sound bermanfaat untuk mengetahui peristiwa alam seperti angin topan, meteror yang jatuh ke bumi, kapal terbang supersonic yang terbang

sangat tinggi, peluncuran roket, tsunami, nukkir bawah tanah dan bawah laut yang bisa berdampak tsunami.
Infra sound ini juga bisa dimiliki sejumlah kecil manusia seperti para nabi, manusia indigo, dan paranormal. Mereka mengetahui bakal ada bencana alam atau lainnya.

Komentar