Microsoft Punya “Browser” Kebal Malware

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Mei 2017 | 07:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Microsoft datang dengan program hebat melawan malware yang  menginfeksi komputer pengguna.

Menurut laman situs “engadget,” hari ini, Jumat, 12 Mei, Microsoft sedang berupaya mengembangkan sebuah browser yang mampu menangkal serangan malware dengan nama  Windows Defender Application Guard.

Cara kerjanya, Application Guard memisahkan diri dari lingkungan sistem operasi komputer dengan membuat dan berjalan di atas virtual PC .

Dengan begini, browser terisolasi dari komponen lain seperti storage, aplikasi lain, dan Windows 10 sehingga tidak bisa didompleng oleh Malware untuk menginfeksi komputer.

Browser lain sebenarnya ada pula yang menawarkan opsi sandboxing.

Namun, Microsoft mengatakan bahwa Application Guard memiliki keunikan berupa kontainer hardware yang benar-benar mampu mencegah penyusupan malware.

Ada beberapa kekurangan dari teknik menjalankan Edge di virtual machine, seperti performa yang cenderung lebih lamban. Semua data dan cookie pun tidak akan tersimpan usai pengguna selesai berselancar di internet dan menutup browser.

Untuk saat ini peramban Edge versi “aman” dengan Application Guard baru tersedia di Windows 10 versi Insider Preview for Enterprises keluaran terbaru.

Selain Application Guard, Windows 10 Insider Preivew ikut menyertakan PDF reader untuk Microsoft Edge dam setting asisten digital Cortana yang terintegrasi.

Sementara itu, Opera juga telah menyiapkan  browser internet baru untuk komputer desktop dan laptop.

Produk peramban itu mereka namakan Neon, dan disebut-sebut sebagai produk masa depan oleh Opera.

“Browser yang kita gunakan sekarang ini berasal dari milenium yang silam, masa ketika internet masih penuh dengan dokumen dan halaman,” tutur Krystian Kolondra, Head of Opera Browser.

“Melalui Opera Neon, kami ingin menampilkan visi kami tentang masa depan internet,” imbuhnya.

Secara desain, Neon memang berbeda dari peramban yang ada selama ini. Ia memang tampak lebih mengedepankan segi desain.

Saat aplikasi tersebut dibuka, pengguna bakal langsung berhadapan dengan gambar wallpaper komputer saat itu. Dengan cara ini, pengguna seakan tidak meninggalkan desktop sama sekali.

Di atas gambar wallpaper tersebut, seperti ditulis  Mashable,  pengguna bakal melihat berbagai bubble sebagai jalan pintas ke situs-situs populer.

Bubble lain akan menggantikan tab pada umumnya dan diletakkan di sebuah vertical bar di bagian kanan layar.

Di bagian kiri layar, Opera juga meletakkan berbagai jalan pintas lain. Bar tersebut berisikan pemutar video, galeri gambar, dan download manager.

Neon sendiri saat ini merupakan produk eksperimen dari Opera. Keberadaan dari produk tersebut juga tidak akan menggantikan browser Opera yang ada saat ini.

Fitur-fitur penting dari browser Opera yang ada sekarang, seperti pemblokir iklan ad-blocker dan VPN, dikatakan tidak akan hadir di Neon.

Langkah Opera  in langsungi mendapat cibiran dari  Microsof.

Microsoft mengklaim bahwa peramban Edge buatannya lebih hemat baterai dibandingkan browser lain di pasaran.

Tentu saja sindiran Microsoft itu tak diterima Opera.

Opera menyerang balik dengan hasil uji sendiri

Perusahaan browser yang berbasis di Oslo, Norwegia ini mengedepankan fitur battery saver yang diperkenalkan bulan lalu.

Menurut Opera, saat fitur ini diaktifkan, maka peramban yang bersangkutan bakal jauh lebih irit baterai dibandingkan browser lain.

“Seperti tim engineering lain, kami suka saat ada yang mengajak bertengkar,” ujar Direktur Pengembangan Software Opera Blazej Kazmierczak, soal klaim Microsoft mengenai iritnya penggunaan data Edge.

Kata-kata Opera coba dibuktikan lewat sebuah pengujian otomatis yang menyimulasikan kunjungan ke situs-situs web populer.

Hasilnya, dengan ad blocking dan battery saver diaktifkan, Opera mengklaim versi developer reelease terbaru (39.0.2248.0) dari peramban buatannya mampu membuat perangkat bertahan 22 persen lebih lama dari Edge dan 35 persen lebih lama dri Google Chrome.

Metodologi pengujian Opera dijelaskan secara detil dalam sebuah posting blog. Perusahaan ini menantang Microsoft agar melakukan hal serupa.

“Kalau Microsoft ingin membuktikan perambannya lebih baik (dalam hal apapun), maka Microsoft harus transparan soal metodologi sehingga bisa direplikasi oleh yang lain,” kata Kazmierczak.

Program Manager Kyle Plug telah menjawab tudingan Opera dengan balik menuduh Opera telah berlaku tidak adil dengan mengaktifkan fitur ad blocker pada browser buatannya, sehingga konten yang ditampilkan tidak sama dengan peramban lain dalam pengujian.

Meski masih bertengkar, ada satu hal yang disepakati Opera dan Microsoft, yakni Chrome merupakan yang paling boros daya di antara semua peramban. Kini agaknya giliran Google yang ditunggu melontar serangan.

Komentar