Malware Android Datang Tiap Empat Menit

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 September 2015 | 12:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda percaya betapa dahsyatnya serangan malware di gadget? Jika dirata-ratakan, ada satu malware baru untuk setiap Android yang tercipta untuk waktu empat detik.

Tahu juga kenapa begitu? Nah, untuk Anda camkan, populasi pengguna ponsel Android berbanding lurus dengan tumbuhnya malware yang menyerang sistem operasi tersebut.

Laboratorium virus G Data menemukan sekitar lebih setengah juta malware Android baru, dan ini meningkat dua puluh tujuh persen dibandingkan kuartal pertama di tahun 2015.

Rekor baru juga tercipta dimana pada pertengahan tahun 2015, angka satu juta sampel malware Android baru terlampaui untuk pertama kalinya dalam sejarah

Angka ini menyamai jumlah total malware android di sepanjang tahun 2013. Dibandingkan dengan pertengahan tahun 2014, terjadi peningkatan sampel malware baru dua puluh lima persen.

Pakar sekuriti G Data memperkirakan lebih dari dua juta malware baru Android akan muncul di tahun 2015, rekor baru.

Hal ini berarti jumlah malware Android baru berlipat dua hanya dalam waktu dua tahun.

Hingga kini Android masih mendominasi, baik soal pengguna maupun soal populasi program jahat yang semakin bertambah.

Menurut direktur bisnis konsumen dari Trend Micro, Terrence Tang, Android diincar memang karena memiliki terbesar. Jauh di atas sistem operasi ponsel lainnya.

Malware yang menyerang pengguna Android juga bisa datang dengan berbagai cara. Bisa lewat pesan instan, sebuah situs yang sudah disusupi, bahkan toko aplikasi seperti Google Playstore.

“Di Play Store, kita bisa unduh berbagai macam aplikasi. Kebanyakan gratis sifatnya. Ini seperti bumerang,” ujar Tang.

Di Play Store, banyak aplikasi yang bisa diunduh secara gratis. Tapi hati-hati, hal ini juga bisa menjadi kerugian bagi penggunanya.

“Pada kenyataannya, App Store milik Apple agaknya lebih aman ketimbang Playstore. Apple memiliki cara sendiri mengenai penyediaan aplikasi-aplikasinya,” tambah Tang.

Apple memiliki sejumlah kebijakan yang diterapkan pada App Store. Pengesahan aplikasi yang akan ditawarkan pada pengguna harus melewati proses yang cukup panjang. Dengan kata lain, Apple lebih jeli dalam urusan seleksi aplikasi.

“Tidak bermaksud untuk membandingkan, tapi Playstore memang agak rentan sehingga pengguna dapat memiliki banyak aplikasi yang mana mereka sendiri tidak tahu apakah itu dijangkit virus atau tidak,” Tang berpendapat.

“Pengguna seakan-akan tidak memiliki waktu untuk membeli software pengamanan, entah karena mereka enggan karena akan menghabiskan kapasitas memori ponsel,” ungkap Tang.

Produsen antivirus Avast mengklaim telah menemukan malware penggangu yang selama ini bersembunyi di toko aplikasi Google. Program jahat itu sudah menginfeksi jutaan perangkat Android.

Google memang sudah coba melakukan berbagai cara untuk melindungi toko aplikasi mereka dari program jahat, namun tetap saja para penjahat cyber tidak kehilangan akal.

Peneliti dari Avast Software menemukan beberapa aplikasi yang ternyata di dalamnya mengandung sederet kode program jahat. Hebatnya, program ini akan aktif setelah beberapa hari terpasang pada ponsel atau tablet Android.

Game tersebut bernama Durak dan beberapa game soal pengujian IQ yang sudah diunduh jutaan kali. Durak disebut salah satu program yang paling jahat dan canggih.

Saat pengguna memasang Durak, aplikasi tersebut akan meminta izin seperti aplikasi lainnya. Semua proses normal, dan setelah terpasang pun tak ada tanda-tanda aneh.

“Hal akan berubah setelah anda melakukan restart dan menunggu beberapa hari. Setelah sepekan, anda mungkin mulai merasa ada yang salah dengan gadget yang dipakai,” Filip Chytry, peneliti dari Avast melalui blog perusahaan tersebut.

Tanda pertama adalah, saat gadget terkunci maka bakal ada iklan yang mengatakan bahwa data dalam ponsel sedang terancam. Pengguna pun kemudian diarahkan untuk melakukan pencegahan.

Tapi bukannya solusi yang didapat, pengguna yang terkecoh justru tanpa sadar akan mengirimkan SMS premium ke nomer yang sudah ditentukan pembuat aplikasi tersebut. Pulsa ponsel pun langsung terpotong.

Temuan ini kemudian dilaporkan Avast kepada Google. Dan dalam waktu singkat, semua aplikasi yang terdeksi memiliki program tersebut langsugn dihapus dari Google Play Store.

Kaspersky Lab dan B2B International baru saja melakukan survei untuk mengetahui ancaman dunia maya mana yang paling ditakuti.

Peretasan rekening dan malware yang dirancang untuk mencuri password serta informasi rahasia merupakan kekhawatiran terbesar, di mana kedua ancaman ini memiliki jumlah yang kira-kira sama.

Ancaman yang dirancang untuk mencuri kredensial juga merupakan jenis ancaman yang ditakuti beupa phishing dan malware yang dapat mencuri password.

Hal-hal seperti ini menunjukan bahwa ancaman online yang paling dikenal dan paling mengkhawatirkan para pengguna adalah pencurian identitas digital mereka.

Ancaman yang paling kecil pengguna khawatirkan adalah serangan DDoS dan aksi spionase global.

Kemungkinan karena jenis serangan cyber seperti ini lebih menargetkan perusahaan dan jarang mengancam pengguna biasa.

Tidak mengherankan, serangan DDoS dan aksi spionase adalah ancaman yang pengguna paling kurang kenali dengan baik, sebanyak 29 persen dan 27 responden, masing-masing, belum pernah mendengar tentang serangan ini.

Ini terjadi di masa ketika program jahat baru yang dapat mengenkripsi file di komputer dan meminta tebusan pembayaran untuk kunci dekripsi sedang ramai dan semakin sering bermunculan.

Adware dan aplikasi berbahaya yang diciptakan untuk mengakses webcam berada di posisi teratas ancaman yang pengguna ketahui tetapi tidak menimbulkan adanya kekhawatiran.

Namun, program ini malah lebih berbahaya daripada kelihatannya, penjahat dunia maya dapat menonton pengguna atau mendengar informasi rahasia melalui webcam, atau menggunakan klip video untuk memeras korban-korban mereka, sementara modul iklan dapat dimanfaatkan untuk menanamkan program yang bahkan lebih berbahaya.

Pada intinya, survei menunjukkan bahwa pengguna masih meremehkan banyak ancaman cyber. Menariknya, 54 persen responden mencatat peningkatan yang signifikan dalam jumlah ancaman online, tetapi hanya dua puluh tiga persen dari responden yang percaya bahwa diri mereka bisa menjadi target serangan cyber.

“Orang-orang merasa khawatir tentang keamanan rekening online mereka, meskipun pada kenyataannya hanya beberapa dari mereka yang berpikir bahwa mereka akan menjadi sasaran serangan cyber,” kata Elena Kharchenko, Head of Consumer Product Management, Kaspersky Lab.

“Dan di situ mereka salah. Penyerang sering mengandalkan unsur kejutan, tepat ketika pengguna tidak mengharapkannya. Itu sebabnya Kaspersky Lab menganjurkan pengguna internet untuk memperluas pengetahuan mereka tentang ancaman internet saat ini,” tambah Kharchenko

Komentar