Langit Malam dengan “Bulan Merah Darah”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Oktober 2014 | 09:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Malam tadi, Rabu, 08 Oktober 2014, gerhana bulan total, dengan warna “merah darah,” atau dikenal dengan “moon blood,” menjadi ketakjuban manusia atas “perangai” alam sebagai bagian dari “sunatullah.” Dan penduduk Bumi, terutama di nusantara Indonesia bisa menyaksikannya dengan sempurna, setengah sempurna dan tidak sempurna.

Di beberapa bagian wilayah Indonesia gerhana bulan merah darah dinikmati sebagai tontonan atas “keajaiban” alam. Selain menikmatinya, banyak pula yang melaksanakan shalat gerhana atau pun mengulang tradisi dengan memukul kaleng atau tong-tong untuk mengusir kegelapan dan bulan bersinar lagi.

Apakah gerhana bulan selalu merah darah? Jawabannya tidak. Gerhana bulan bisa juga berwarna kebiruan. Tapi masyarakat dunia, sejak zaman purba, lebih mengenal gerhana bulan merah darah.

Gerhana bulan yang berwarna kebiruan pernah teramati beberapa tahun lalu.Bulan yang berwarna kebiruan itu teramati oleh astronom. Cahaya biru tampak mengumpul pada satu titik di piringan bulan.

Gerhana biru ini pernah diobservasi oleh peneliti bernama Richard Keen.

Nah, kembali ke bulan merah darah. Untuk diketahui warna merah pada gerhana bulan dipengaruhi oleh pembiasan atmosfer Bumi. Sementara itu, warna kebiruan muncul jika ada zat atau partikel lain yang “mengganggu” pembiasan itu.

Salah satu sebab bulan berwarna biru adalah adanya partikel debu vulkanik yang ukurannya lebih besar dari gelombang warna merah. Warna kebiruan saat gerhana disebabkan oleh partikel debu vulkanik. Dan itu pernah terjadi pada saatt letusan Pinatubo.

Seusai Krakatau meletus pada tahun 1883, bulan juga terus-menerus berwarna kebiruan, bukan hanya saat gerhana. Gerhana berwarna kebiruan ini adalah bukti bahwa bulan biru tidak cuma kiasan, tetapi benar-benar ada.

Bulan biru alias blue moon sebelumnya dimaknai sebagai purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang sama.

Banyak pendapat yang berkisar tentang bulan biru dan bulan merah darah. Warna merah pada bulan yang sedang mengalami proses gerhana bisa jugamenjadi indikator kualitas udara di suatu kota. Semakin kotor polusi di tempat kita, maka semakin ‘indah’ warna gerhana.

Warna merah ditimbulkan karena polusi terdiri dari gas dan debu yang mempunyai sifat dan ciri khas memerahkan cahaya . Peristiwa tersebut serupa dengan ketika terbenamnya matahari dan ketika terjadi letusan gunung berapi. Abu dari gunung berapi itu menutup langit dan akan “memerahkan” matahari.

Gerhana bulan total yang termasuk langka—disebut gerhana bulan tetrad—menghiasi langit Indonesia pada Rabu petang pada pukul 15.15.33 WIB hingga 20.33.43 WIB.

Peristiwa gerhana bulan total tersebut bisa disaksikan oleh semua pengamat di wilayah Indonesia. Namun, di wilayah Jakarta, tahapan gerhana dapat dilihat mulai saat bulan terbit di ufuk timur sekitar pukul 17.42.48 WIB.

Gerhana bulan total berlangsung selama 58 menit dan 50 detik, dengan awal gerhana bulan total terjadi pada 17.25.10, sedangkan akhir gerhana total pada 18.24.00 WIB.

Namun, hingga pukul 18.30 WIB, langit Jakarta tertutup awan sehingga menyulitkan pengamatan terhadap gerhana bulan.

Pada kesempatan tersebut, Planetarium dan Observatorium Jakarta menyiapkan sejumlah teleskop bagi siswa dan guru yang berkeinginan untuk melihat langsung peristiwa gerhana bulan tersebut.

Menurut peta gerhana bulan total dari Planetarium dan Observatorium Jakarta, gerhana bulan dapat diamati juga di wilayah Asia Timur, Australia, Lautan Pasifik, dan sebagian wilayah Amerika.

Salah satu keistimewaan gerhana bulan pada Rabu 8 Oktober 2014 adalah gerhana bulan tersebut merupakan bagian dari untaian empat gerhana bulan total yang berurutan.

Dua gerhana bulan total berlangsung pada 2014; 15 April dan 8 Oktober, sementara dua gerhana bulan lainnya akan berlangsung pada 2015; 4 April dan 28 September.

Untaian empat gerhana bulan total yang berlangsung secara berurutan disebut gerhana bulan tetrad.
Gerhana bulan tetrad tergolong langka karena dalam seribu tahun pada milenium ketiga hanya terdapat 32 kali fenomena tersebut.

Komentar