close
Nuga Tekno

Kurangi Pakai Medsos Bisa Halau Kesepian

Media sosial  menjadi salah satu aplikasi populer yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, terlebih pada kaum milenial. Selain sebagai wadah informasi, medsos juga menjadi ajang eksistensi diri.

Namun, di balik itu semua ada dampak media sosial yang ternyata terbukti buruk untuk kesehatan mental. Penelitian terbaru yang dilakukan pada November tahun lalu di Amerika Serikat membuktikan bahwa penggunaan aplikasi media sosial tertentu bisa meningkatkan depresi dan juga kesepian.

Mengapa bisa begitu?

Untuk melihat dampak media sosial pada kesehatan mental, Melisa G Hunt., direktur pelatihan klinis pada Fakultas Psikologi di University of Pennsylvania, Amerika Serikat beserta timnya melakukan penelitian pada mahasiswa.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa di University of Pennsylvania yang menggunakan tiga aplikasi media sosial yang paling populer di kalangan mahasiswa, yaitu Facebook, Instagram, dan Snapchat.

Peneliti kemudian memberikan angket untuk melihat kondisi suasana hati seperti kegelisahan, depresi, kesepian, dan rasa takut kehilangan.

Selain itu, peneliti juga memberikan paket data pada tiap mahasiswa untuk melihat kebiasaan tiap orang dalam menggunakan media sosial sehari-hari.

Selanjutnya, peneliti menempatkan setiap peserta ke dalam dua kelompok secara acak. Tim peneliti meminta para mahasiswa di  kelompok pertama untuk terus menggunakan media sosial seperti biasa.

Sementara mahasiswa di kelompok kedua diminta untuk membatasi penggunaan media sosialnya, yaitu hanya sekitar  sepuluh menit per harinya.

Setelah diteliti lebih dari tiga minggu, para peneliti kemudian menyimpulkan hasil yang cukup mengejutkan. Kelompok mahasiswa yang mengurangi penggunaan media sosial lebih terbebas dari perasaan depresi dan kesepian dibanding sebelumnya.

Bahkan, efek ini terasa sangat nyata pada orang-orang yang memang sedang tertekan atau mengalami depresi.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa main media sosial terlalu sering dapat membuat rasa kesepian semakin berat. Mengurangi intensitasnya akan membuat rasa kesepian terusir dengan sendirinya.

Namun, penelitian ini hanya menyelidiki penggunaan tiga aplikasi saja sehingga belum bisa disimpulkan secara pasti apakah ini berlaku untuk semua jenis media sosial.

Menurut Melisa Hunt, Anda tidak perlu benar-benar berhenti menggunakan media sosial. Namun, yang perlu dilakukan adalah membatasinya.

Media sosial bisa berdampak negatif jika dimainkan terlalu sering. Anda pasti sadar, di media sosial orang cenderung pamer dan melebih-lebihkan keadaan sesungguhnya.

Akibatnya, Anda terus membandingkan diri dengan orang lain dan selalu merasa kurang. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini membuat Anda cenderung mudah stres, merasa kesepian, bahkan depresi.

Selain itu, media sosial tak hanya mendekatkan yang jauh tetapi juga menjauhkan yang dekat. Coba Anda perhatikan, saat berkumpul bersama teman apakah Anda fokus mengobrol atau justru fokus mengambil angle foto yang tepat untuk diunggah ke sosial media?

Untuk itu, Hunt menyarankan Anda untuk menggunakan media sosial hanya sekitar tiga puluh menit per harinya. Selama itu, jiwa Anda bisa tetap lebih tenang dan bahagia tanpa ketinggalan informasi terbaru.  Dengan begitu, Anda pun terhindar dari dampak media sosial yang merugikan bagi kesehatan mental.

Sementara itu survei oleh Global Web Index  menunjukkan rata-rata orang menghabiskan waktu dua jam setiap harinya hanya untuk membuka media sosial. Padahal, terlalu banyak menggunakan media sosial tak baik untuk kesehatan.

Jadi sebaiknya berapa lama waktu main media sosial yang masih wajar dalam sehari?

Survei lain yang diselenggarakan oleh Retrevo menguak bahwa  sebelas dari peserta penelitian mengaku tak bisa menahan diri untuk membuka media sosial setiap dua jam. Angka ini tentu tidak begitu mengejutkan, melihat kebiasaan orang-orang zaman sekarang yang tak bisa lepas dari ponselnya masing-masing.

Menurut sejumlah penelitian, terlalu sering menggunakan media sosial berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.

Salah satunya adalah penelitian dari University of Pittsburgh. Penelitian ini membuktikan bahwa orang yang terlampau aktif menggunakan media sosial setiap hari memiliki risiko depresi hingga tiga kali lebih besar dibandingkan mereka yang jarang pakai media sosial.

Penelitian lain oleh Case Western Reserve School of Medicine juga mengaitkan kecanduan media sosial dengan perilaku sembrono, khususnya pada remaja.

Menurut penelitian tersebut, remaja yang ketagihan media sosial tiga setengah  kali lebih mungkin melakukan hal-hal berisiko tanpa pikir panjang. Misalnya merokok, minum alkohol, dan berhubungan seks.

Menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab berarti membatasi penggunaannya supaya tidak menganggu aktivitas Anda sehari-hari. Anda juga harus pandai-pandai menyaring informasi agar terhindar dari risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Para ahli sendiri belum menentukan berapa lama tepatnya seseorang boleh main media sosial dalam sehari. Pasalnya, setiap orang memiliki kondisi psikologis dan reaksi emosional yang berbeda-beda terhadap isi media sosial.

Namun, Anda memang tidak disarankan untuk menghabiskan waktu hingga dua jam sehari untuk menggunakan media sosial.

Seorang psikoterapis dari California School of Professional Psychology, Philip Cushman, menganjurkan supaya Anda membatasi penggunaan media sosial setengah jam hingga satu jam per hari.

Nanti bila Anda sudah terbiasa lepas dari media sosial, Anda bisa membatasinya lebih ketat lagi, yaitu hanya ketika Anda punya waktu luang.

Ingat, bukan berarti Anda dilarang menggunakan media sosial sama sekali. Media sosial juga bisa kok, memberikan berbagai manfaat seperti menjaga tali silaturahmi.

Maka, kunci dari penggunaan media sosial yang wajar adalah keseimbangan. Maksudnya, jangan sampai media sosial jadi mengganggu produktivitas dan pergaulan Anda sehari-hari.

Anda lah yang mampu mengendalikan kebiasaan buka media sosial, bukan smartphone Anda. Jadi bukan berarti kalau ada notifikasi yang masuk, Anda harus segera buka dan balas saat itu juga. Apalagi kalau isinya bukan hal yang mendesak

Tags : slide