Ketika Facebook Jadi Korban Penipuan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 2 Mei 2017 | 08:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Penipuan cyber model phising, terjadi saat pelakunya menyamar sebagai pihak resmi yang berkepentingan, biasanya rawan menimpa pengguna internet awam.

Namun, raksasa teknologi sekaliber Facebook dan Google pun ternyata bisa dikibuli dengan cara ini.

Kejadiannya bermula pada empat tahun silam, ketika seorang pria Lithuania bernama Evaldas Rimasauskas memalsukan e-mail berisikan invoice dari perusahaan manufaktur elektronik bernama Quanta Computer di Taiwan, lengkap dengan stempel perusahaan dan lain-lain.

Lewat e-mail yang dikirimkan ke staf Facebook dan Google dia meminta pembayaran atas barang dan jasa yang dibeli dari Quanta.

Kedua ikon Silicon Valley tersebut terjebak mengirim uang yang kemudian disalurkan oleh Rimasauskas ke sejumlah bank di beberapa negara berbeda di Eropa.

Hal ini berlangsung selama dua tahun

Sepanjang periode itu, Rimasauskas diperkirakan berhasil mencuri dana sebesar seratus juta dollar AS atau lebih dari satu koma tiga  triliun dari kedua perusahaan.

Seorang juru bicara Facebook menyatakan pihaknya telah berhasil mengembalikan sejumlah besar dana yang dibawa lari Rimasauskas, demikian juga dengan Google.

“Kami mendeteksi penipuan terhadap tim manajemen vendor kami dan langsung memberitahu pihak yang berwenang. Kami mengambil kembali dananya dan merasa senang masalah ini telah selesai,” ujar juru bicara Google, sebagaimana ditulisi CNBC, Selasa, 02 Mai.

Rimasauskas sendiri kini sudah ditangkap dan sedang berada di Lithuania, menunggu ekstradisi untuk diadili di Amerika Serikat.

Dia membantah tuduhan telah melakukan kejahatan phising atas Facebook dan Google.

Selain itu Facebook, Instagram, dan tiga layanan internet lain sempat

Penyebab pasti tumbangnya layanan-layanan tersebut masih belum diketahui pasti, tetapi kelompok peretas Lizard Squad mengklaim bertanggung jawab.

Serangan terhadap Facebook dan Instagram yang diduga didalangi peretas “kadal” ini kemungkinan menggunakan metode DDoS .

Selain kelima layanan di atas, Lizard Squad juga mengaku telah menumbangkan MySpace.

Nama Lizard Squad sebelumnya mencuat ke permukaan setelah kelompok hacker anonim itu menumbangkan situs milik Sony dan Microsoft.

Setelahnya, beberapa hari lalu, Lizard Squad mengaku telah mengganti laman depan situs maskapai MalaysiaAirlines.com.

Apabila klaim kali ini benar adanya, maka Facebook bersama Instagram, AIM, Tinder, Hipchat, dan MySpace merupakan korban terbaru grup peretas berlambang kadal tersebut.

Berita palsu’ di internet menjadi topik pemberitaan dalam beberapa pekan terakhir – terutama sejak pemilihan presiden di Amerika Serikat, dan juga di Indonesia baru-baru ini terkait dugaan penistaan agama.

Berita-berita palsu ini muncul utamanya di Facebook, Google, dan Twitter – yang masing-masing platform memiliki sistem tersendiri yang memungkinkan pengguna melaporkan berita palsu. Satu platform lebih bagus dibanding yang lain, sementara beberapa bahkan tak memiliki sistem itu.

Sebelum Anda melaporkan berita palsu itu, Anda harus terlebih dahulu bertanya pada diri Anda: apakah saya yakin berita ini palsu atau hoax?

Apakah berita itu sudah dilaporkan juga oleh sumber berita yang lain? Apakah bukti-buktinya meyakinkan?

Jika Anda yakin, inilah bagaimana cara melaporkan berita palsu itu di media sosial. Kita ambil contoh sebuah unggahan tentang pemilu Amerika Serikat.

Jika Anda tidak yakin dengan berita ini, klik tanda panah ke bawah yang ada di sebelah kanan atas  dan pilih “report post” atau jika Anda dalam pengaturan berbahasa Indonesia, Anda bisa pilih ‘laporkan kiriman’.

Setelah itu Anda akan ditanya, “Apa yang terjadi?”

Di sini, Anda diminta memilih alasan mengapa Anda melaporkan unggahan itu. Jawaban terbaik, adalah yang kedua yaitu, “menurut saya ini tidak seharusnya ada di Facebook.”

Jelaskan lebih rinci dalam jendela selanjutnya. Pilihlah opsi, “ini adalah kabar berita salah” atau dalam bahasa Inggris pilihlah, “It’s a false news story.”

Satu hal lagi, kami merekomendasikan Anda melakukan semua opsi ini. Blokir, sembunyikan semua unggahan dari akun tersebut, dan berbagai opsi lainnya.

Jika Anda melihat berita yang mencurigakan di Facebook dan WhatsApp, ke mana biasanya Anda melakukan pengecekan?

Ya, kebanyakan orang menjawab Google!

Kepala eksekutif Google Sundar Pichai mengatakan ‘berita palsu’ tidak boleh didistribusikan, dan kami setuju.

Bayangkan apa yang kami rasakan ketika mencari berita tentang ‘pengunjuk rasa bayaran’ atau ‘paid protesters’ di Google… dan menemukan salah satu tautannya.

Ini adalah situs yang sama yang berpura-pura menjadi ABC News, yang kami tampilkan di atas.

Jika Anda ingin memberi tahu Google, Anda harus pergi ke paling bawah laman dan mengklik ‘feedback’.

Jangan lupa melakukan ‘screenshot’ dan mereka bahkan meminta Anda menunjukan mana kalimat-kalimat yang tidak benar.

Twitter cukup aktif mengatasi ujaran kebencian dan ancaman dalam situs mikro-blog mereka, tapi alat untuk melaporakan ‘berita palsu’ tampaknya terbatas.

Anda harus mengklik simbol tiga titik di bawah kanan dan pilih ‘report tweet’ atau ‘laporkan kicauan’.

Melihat opsinya, memang tak ada yang cocok. Menyebutnya sebagai spam tidak cocok.

Berita palsu memang berbahaya, tetapi tampak tak tepat untuk memilih opsi ketiga.

Jadi kami menyarankan Anda untuk mengklik opsi pertama atau opsi saya tidak tertarik.

Klik simbol tiga titik di kanan atas tiap unggahan di Instagram dan klik ‘report’ atau ‘laporkan’ kemudian pilih ‘Ini tidak pantas’ atau ‘inappropriate’.

Tidak ada opsi yang langsung menyatakan ‘ini berita palsu’. Jadi lebih baik pilih untuk melaporkannya sebagai ‘spam’.

Komentar