Kasus Software Bajakan Marejalela di Cina

Penulis: Darmansyah

Kamis, 1 November 2018 | 10:10 WIB

Dibaca: 1 kali

Kasus software bajakan muncul lagi

Kali ini, diberitakan, sebanyak enam puluh enam persen perangkat lunak yang dipasang di China, sementara enam puluh dua persen pengguna PC Rusia juga menggunakan software bajakan.

Angka ini masih lebih baik dari Indonesia yang delapan puluh tiga pengguna PC-nya menggunakan software bajakan, seperti diungkap oleh laporan BSA Global Software Survey tahun ini8.

Dengan pengguna software bajakan sebesar ini, China dan Rusia sempat mengalami serangan ransomware yang menyerang sekitar 40 ribu institusi di negara itu pada tahun lalu.

Kasus lainnya adalah karena mereka tidak melakukan pembaruan software dan tambalan keamanan sistem operasi yang disediakan.

Siapa yang menjadi korban? Mulai dari Universitas Tsinghua, stasiun pengisian bahan bakar PetroChina, China Telecom, Hainan Airlines, bahkan sempat membuat ATM-ATM milik Bank of China mati.

Berdasarkan laporan F-Secure, sebagian besar yang terkena imbasnya karena mereka menggunakan software bajakan dan mereka tidak melakukan pembaruan.

Alasannya, mereka khawatir jika melakukan pembaruan, software bajakan itu tak lagi bisa berfungsi.

Sementara di Rusia sebanyak enam puluh dua persen software bajakan juga sempat membuat kocar-kacir perusahaan di negara itu di tahun yang sama.

Malware yang menyerang pun jenisnya ransomware, yaitu malware yang menginfeksi dan mengunci komputer korban dan meminta tebusan.

Pengguna diiming-imingi bahwa komputer mereka bisa dipakai lagi jika tebusan dipenuhi. Padahal, belum tentu si pengirim ransomware juga bisa membukanya.

Di Rusia, serangan ransomware masif ini menyerang mulai dari Kementerian Kesehatan Rusia, Perusahaan Perkeretaapian, Kementerian Dalam Negeri, kepolisian, hingga perusahaan telekomunikasi Megafon.

Mark Galeotti, peneliti senior di Institut Hubungan Internasional di Praha menyebut bahwa sebagian besar infeksi malware di Rusia lantaran infrastruktur di negara itu menggunakan perangkat lunak yang usang dan perangkat lunak bajakan yang tidak pernah diperbarui.

Sebenarnya, serangan ransomware yang heboh tahun lalu itu juga sempat menyerang Indonesia.

Di tahun yang sama, Ransomware WannaCry sempat melumpuhkan sistem antrean rumah sakit, menyerang sektor perkebunan, manufaktur, dan perbankan, seperti disebutkan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Sedikit berbeda dengan dua negara sebelumnya yang menyalahkan software bajakan, di Indonesia disebutkan infeksi malware dari tautan berbahayalah yang disebut menjadi penyebab,

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan bahwa dari pantauan tim Kominfo, sistem operasi lawas yang dituding menjadi penyebab serangan ini terjadi.

Tapi, pakar TI Alfons Tanujaya juga mengatakan bahwa malware juga bisa menyerang pengguna Windows versi anyar jika pengguna tidak memasang tambalan (patch) keamanan versi terbaru dari software atau sistem operasi.

Untuk itu, BSA menyerukan terutama bagi perusahaan dan institusi agar memerhatikan pentingnya penggunaan software yang aman dan selalu memperbarui software dan sistem operasi yang mereka pakai.

Mereka juga menganjurkan penggunaan sistem manajemen aset perangkat lunak

Komentar