WhatsApp Bersihkan Jutaan Akun Perbulan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 Februari 2019 | 14:03 WIB

Dibaca: 1 kali

WhatsApp membersihkan dua juta akun per bulan dari platformnya. Langkah ini dilakukan untuk menghentikan penyebaran berita bohong atau hoaks jelang pesta demokrasi di berbagai negara.

Anak perusahaan Facebook ini mengandalkan machine learning dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) untuk melakukan aksi bersih-bersih pesan berantai.

Sistem ini akan mendeteksi keanehan dan mendepak pengguna yang mengirimkan pesan massal dan membuat banyak akun untuk menyebarkan pesan.

Disamping itu, sistem WhatsApp juga akan mendeteksi kemunculan akun palsu yang digunakan untuk menyebarkan pesan berantai. WhatsApp juga akan menyaring dan menandai akun-akun yang dianggap mencurigakan.

Juru bicara WhatsApp, Carl Woog mengatakan sistem AI mereka berhasil menutup tujuh puluh lima persen dari dua juta akun palsu yang bukan berasal dari laporan pengguna.

“Terlepas dari tujuan penyebaran pesan berantai, pengiriman secara otomatis dan massal melanggar peraturan layanan kami. Salah satu prioritas kami adalah mencegah dan menghentikan penyalahgunaan semacam itu,” ungkap Woog seperti dilansir Venture Beat.

Anak perusahaan Facebook ini menjelaskan ada beberapa faktor yang dikategorikan sebagai tindakan yang mencurigakan mulai dari alamat IP pengguna, negara asal yang dilihat dari nomor ponsel apakah merujuk pada lokasi yang sama, umur akun, penggunaan akun untuk mengirim dan menerima pesan sejak dibuat.

Matt Jones, software engineer WhatsApp mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi berbagai cara saat pengguna mengalahgunakan platform.

Salah satunya dengan menggunakan perangkat khusus yang membuat mereka bisa membuat beberapa akun di satu perangkat ang sama.

“Kami juga menemukan ada perangkat khusus yang bisa menggunakan puluhan kartu SIM untuk mengakses WhatsApp,” ucap Jones.

Upaya WhatsApp menghalau penyebaran hoaks dan informasi palsu sebelumnya juga dilakukan dengan membatasi batas maksimal lima kali penerusan pesan (forward message).

Selain itu, WhatsApp juga  menggulirkan pembaruan keamanan bagi pengguna iPhone bisa menggunakan TouchID.

Sementara untuk pengguna iPhone X dan versi teranyar bisa memilih menggunakan TouchID atau FaceID.

Untuk mengaktifkannya, pengguna bisa mengaksesnya melalui pengaturan – privasi – screen lock – aktifkan TouchID atau FaceID.

Pengguna bisa mengkostumisasi penguncian aplikasi dalam waktu satu menit, 15 menit, hingga satu jam.

Keamanan biometrik ini bisa didapatkan setelah pengguna iPhone memperbarui aplikasi WhatsApp

Anak perusahaan Facebook ini menjanjikan kemunculan fitur serupa untuk perangkat Android dalam waktu dekat.

Kemunculan fitur keamanan biometrik ini muncul usai Mark Zuckerberg mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan WhatsApp, Facebook Messenger dan Instagram. Zuck mengatakan rencana tersebut paling cepat diwujudkan pada tahun depan mendatang.

Sebelumnya WhatsApp membatasi penerusan pesan (forward message) maksimal ke lima pengguna atau grup

Fitur tersebut baru tersedia untuk pengguna Android yang memperbarui WhatsApp .

Fitur serupa belum tersedia untuk pengguna iOS dan WhatsApp Web. Pembaruan aplikasi belum tersedia sehingga pengguna masih bisa meneruskan pesan hingga dua puluh kali.

Penerapan pembatasan pesan sejatinya mulai diberlakukan pada pekan lalu namun tertunda dengan alasan yang tak dijelaskan.

WhatsApp sebelumnya memutuskan untuk menentukan batas maksimal penerusan pesan maksimal lima pengguna. Keputusan tersebut dibuat berdasarkan hasil pembatasan penerusan pesan yang sudah dilakukan di India sejak pertengahan tahun  lalu.

Pembatasan pesan ini diharapkan bisa mengurangi dua puluh lima persen peredaran informasi hoaks.

Sebelumnya, Word Global Influencer dari empat negara telah melakukan pembahasan dengan pihak WhatsApp untuk mewujudkan langkah penyebaran hoaks. Keempat negara ini adalah Brasil, India, Meksiko dan Indonesia.

Kebijakan WhatsApp untuk membatasi penerusan pesan ini pertama kali diberlakukan di India akibat dampak negatif yang sangat parah. Bahkan penyebaran hoaks ini memakan korban jiwa.

Seorang pria bernama Mohammad Azam pada Juli enam tahun lalu tewas dihakimi dua ribu orang karena rumor hoaks bahwa dia mengincar anak-anak.

Menurut kepolisian setempat Azam hanya menawarkan cokelat untuk anak-anak di daerah tersebut. Rumor penculikan anak membuat tindak kekerasan dan pembunuhan itu terjadi.

Tindakan ini masih terus terjadi dua minggu lalu, tak lama setelah WhatsApp meluncurkan beberapa fitur pencegah hoaks.

Komentar