Instagram “Rumah” Hijrahnya Anak Muda

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Februari 2016 | 08:44 WIB

Dibaca: 0 kali

Instagram makin riuh di usianya yang belum sampai lima tahun, dengan empat ratus juta pengguna, yang sebagian besarnya terdiri dari remaja bekas “pencinta” Facebook yang “mabuk” dengan media sosial berbagi foto itu

Capaian angka tersebut merupakan jawaban dari protes remaja yang tak ingin tetap berada di Facebook yang ribet dan penuh “dekadensi” politik, ekonomi dan sosial yang gaduh.

Pada awal kehadirannya, empat tahun lalu, lebih dari seratus juta remaja langsung menjadi pengguna aktif Instagram yang sangat menjanjikan untuk berbagai foto dengan teks yang sederhana.

Selama setahun terakhir ini saja, Instagram telah menambah perbendaharaan penggunanya sebanyak serratus juta.

Para anggota baru Instagram sebagian besar berasal dari Eropa dan Asia. Lebih spesifik lagi kebanyakan anggota barunya berasal dari Indonesia, Jepang serta Brazil.

Capaian tersebut juga mengindikasikan dominasi Facebook dalam dunia media sosial –mereka membeli Instagram sejak April 2012 lalu.

Untuk Anda tahu, kini Instagram makin didominasi kalangan remaja Mereka menjadikan jejaring sosial itu sebagai rumah baru.

Mereka bisa berbagi konten visual tanpa embel-embel teks panjang lebar.

Tak banyak ruang membahas kisruh politik, berkampanye, atau menuangkan pikiran-pikiran serius nan ruwet.

Instagram seakan lebih merestui penggunanya memamerkan foto atau video perjalanan, hobi, dan keseharian lainnya yang lekat dengan kreativitas dan jiwa muda.

Tapi lagi-lagi ada yang mengusik “kemudaan” Instagram. Belakangan platform tersebut mulai disesaki iklan. Kalangan orang tua pun pelan-pelan turut mengeksiskan diri.

Meski demikian, toh Instagram tak serta-merta ditinggalkan, untuk tak menyebut pelan-pelan ditinggalkan.

Masih banyak anak muda yang betah menjajalnya.

Tak jarang pula yang kemudian mengembangkan bisnis dengan menggunakan strategi pemasaran via Instagram.

Alarm tanda bahaya lebih tepat ditujukan pada Twitter. Secara umum, platform tersebut memang menunjukkan penurunan penetrasi.

Indonesia yang basis pengguna Twitter-nya terhitung melimpah pun terkena dampak. Dalam dua tahun terakhir pengguna Twitter di Indonesia menurun sepuluh persen hingga tinggal sepertiga dari total pengguna internet.

Menurut analisis Profesor Felicity Duncan dari Cabrini College, AS, anak muda cenderung aktif di media sosial yang mengedepankan penyebaran konten secara intim – Facebook Messenger atau Snapchat -, ketimbang penyebaran konten secara massal – Facebook dan Twitter -.

Hal itu pertama kali ia sadari saat menganalisis kebiasaan mahasiswa didikannya. Ketika menunggu kelas, kata Duncan, para mahasiswa menjajal smartphone bukan untuk mengecek Facebook, Twitter, atau Instagram.

“Mereka melihat berita terbaru dari sahabat-sahabat mereka lewat Snapchat Stories, chatting di Messenger, atau mengecek group chatting di layanan lainnya,” ia menuliskan di Quartz

Jika para mahasiswa punya waktu lebih senggang, ia melanjutkan, barulah mereka mengecek Instagram untuk tahu postingan terbaru dari brand-brand yang mereka ikuti.

Intinya, secara garis besar, kebutuhan media sosial bagi remaja telah bergeser. Opsi mereka lebih ke intimasi, bukan penyiaran massal.

Sebenarnya, presentasi paling banyak masih diraup Facebook.

Sebanyak delapan puluh dua persen remaja mengaku memiliki Facebook. Tapi, “memiliki” tak berbanding lurus dengan “aktif menggunakan”.

Berdasarkan diskusi dan pengamatan Duncan terhadap delapan puluh persen mahasiswa AS, ada tiga alasan utama mereka meninggalkan Facebook dan Twitter.
Pertama, platform tersebut dianggap bernuansa tua.
Akibatnya, anak muda merasa canggung ketika orang tua, bibi, paman, atau bahkan nenek mereka meminta berteman di Facebook. Ada perasaan tak bebas berekspresi, malu, dan kikuk.

Kedua, konten di Facebook dan Twitter akan tetap ada dalam waktu lama, bahkan bisa abadi. Ingatkah bagaimana memalukannya postingan Anda lima tahun atau tujuh tahun lalu?

Ada foto-foto yang dulunya Anda anggap keren, lalu sekarang Anda berbalik mengutuk foto-foto itu.

Sayangnya, terlalu banyak foto yang telah di-tag ke akun Anda, pun foto-foto yang pernah secara sadar Anda bagi. Perlu waktu untuk menghapusnya satu-satu atau menyembunyikannya.

Sementara di Snapchat, anak muda sengaja membagi hal-hal konyol untuk jadi bahan guyonan. Toh dalam dua puluh empat jam konten itu akan hilang otomatis.

Ketiga, perusahaan cenderung mengecek media sosial sebelum menerima lamaran kerja seseorang. Atas dasar itulah para remaja tak menghapus akun Facebook dan Twitter mereka.

Lebih tepatnya, media sosial tersebut hanya dijadikan topeng pencitraan: tak perlu sering-sering diperbarui dan hanya digunakan membagi hal-hal yang sifatnya tak personal.

“Mereka sangat hati-hati mengkurasi konten pada profil publik Facebook atau LinkedIn,” kata Duncan.

Ekspresi yang sesungguhnya tak ditunjukkan lagi lewat Facebook dan Twitter.

Hakikat media sosial yang sebenarnya disalurkan anak muda lewat Snapchat atau layanan-layanan sejenis.

Fenomena pergeseran ini punya implikasi beragam. Paling signifikan bagi pengiklan dan orang tua.

Komentar