Instagram Aman untuk Ruang Ekspresi?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 10 Maret 2017 | 12:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Media sosial mungkin tidak tampak sebagai ruang aman untuk mengekspresikan masalah emosional sensitive, namun begitu  Instagram dianggap telah menjadi tempat aman bagi penggunanya.

Mereka bisa mengirim secara terbuka soal depresi dan menerima umpan balik berupa respons empati dari pengguna lain.

Instagram dapat menjadi media yang sangat membantu bagi orang-orang yang berjuang dengan penyakit mental (depresi), menurut peneliti sebagaimana dikutip dari Real Simple,

Mereka sering ragu-ragu berbicara soal depresi dan pengalaman menyakitkan.

Fokus utama platform gambar pada Instagram memberikan pengguna cara unik untuk mengekspresikan perasaan yang mungkin sulit dimasukkan ke dalam kata-kata.

Studi terbaru ini yang dilakukan para peneliti di Drexel University, Philadelphia, Amerika Serikat meneliti sampel dari delapan ratus postingan Instagram, yang diambil dari lebih sembilan puluh lima ribu foto bertagar depression selama sebulan.

Melalui foto dapat terlihat, apakah orang-orang yang hanya mengekspresikan emosi atau mencari interaksi sosial, kekhawatiran soal penampilan, masalah hubungan, penyakit, atau gangguan makan.

Secara keseluruhan, empat puluh satu persen dari postingan Instagram tersebut menimbulkan komentar yang mengekspresikan dukungan sosial positif.

Orang-orang yang menceritakan kisah-kisah pribadi atau memberikan rincian soal penderitaan, bukan hanya menyiratkan, mereka memiliki masalah.

Mereka juga tampaknya menerima tanggapan lebih yang mendukung postingan komentar seperti, “Saya tahu bagaimana rasanya,” atau “Anda kuat dan cantik.”

Ketika pengguna memposting tentang perilaku seperti merugikan diri mereka sendiri atau berjuang dengan gangguan makan, komentar positif yang menawarkan dukungan melebihi jumlah postingan negatif.

Hal ini agak mengejutkan karena jenis postingan juga bisa membuat pengguna menjadi target intimidasi dan komentar yang menyakitkan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan peneliti Andrea Forte dan Nazanin Andalibi, seorang kandidat doktor di Drexel menunjukkan, jaringan sosial Reddit adalah platform lain tempat orang cenderung mengungkapkan informasi sensitif dan mencari dukungan mengatasi depresi yang dialaminya.

Reddit dan Instragam memungkinkan baik bagi orang yang punya profil anonim. Orang mungkin merasa lebih nyaman memposting konten tanpa nama asli mereka.

Penelitian mengenai Instagram yang disajikan minggu lalu pada Association for Computing Machinery International Conference on Computer-Supported Cooperative Work and Social Computin belum dipublikasikan dalam jurnal peer-reviewed (peninjauan kembali).

Jika beberapa penelitian menunjukkan, penggunaan media sosial bisa dihubungkan dengan perasaan isolasi, ketidakbahagiaan, dan depresi.

Tapi penelitian pada Instagram sekiranya memaparkan betapa positif media sosial memengaruhi orang berjuang dengan rasa depresi atau penyakit yang diidapnya.

Musim gugur yang lalu, Instagram memperkenalkan alat pencegahan bunuh diri yang memungkinkan pengguna menandai konten mereka pikir mungkin menunjukkan, seseorang sedang mempertimbangkan membahayakan diri mereka sendiri

Selain itu,  keseringan menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, hingga Path rupanya bisa membuat pengguna makin merasa kesepian.

Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh beberapa psikolog Amerika Serikat diketahui ketika seseorang memakai media sosial selama dua jam per hari, maka ia berpotensi mengalami isolasi sosial.

Seperti ditulisi BBC, , terlalu lama melihat kehidupan orang lain yang dianggap ideal di media sosial bisa menyebabkan perasaan iri.

Kendati begitu, penting untuk diingat bahwa apa yang dilihat di media sosial bukanlah alasan utama seseorang merasa buruk, tetapi jadi salah satu faktor pemicu.

Sederhananya, terlalu lama bermain media sosial mungkin bisa meningkatkan emosi yang sebelumnya sudah dirasakan pengguna.

“Kami belum tahu mana yang pertama dirasakan pengguna. Apakah penggunaan media sosial atau isolasi sosial yang dirasakan,” ujar Profesor Pediatrik di Universitas Pittsburgh Elizabeth Miller.

Ia menambahkan, sangat mungkin bagi orang dewasa yang merasa terisolasi sosial kemudian mulai bermain media sosial.

“Bisa juga, gara-gara peningkatan penggunaan media sosial berlebih menimbulkan perasaan terisolasi dari dunia nyata,” tutur Miller.

Selain itu, hasil studi tersebut juga menyebutkan, makin lama seseorang online di media sosial, makin sedikit waktu mereka berinteraksi di dunia nyata.

Terlebih, penggunaan media sosial juga bisa meningkatkan perasaan ekslusi sosial. Misalnya saja saat seseorang melihat foto pesta digelar oleh beberapa teman. Namun karena tak diundang ia jadi merasa terekslusi.

Prosesor bidang kedokteran di Universitas Pitssburgh Brian Primack mengatakan, hal ini adalah masalah yang cukup penting untuk dipelajari.

“Penting mempelajari masalah kesehatan mental dan isolasi sosial yang terjadi pada orang dewasa,” kata dia.

Primack mengatakan, media sosial mungkin memberi peluang untuk mengisi kekosongan sosial. Namun bukan berarti menggunakan media sosial adalah sebuah solusi terbaik.

Komentar