Ide “Gila” Samsung Hadirkan Pnsel Lipat

Penulis: Darmansyah

Jumat, 3 Juni 2016 | 09:07 WIB

Dibaca: 0 kali

Samsung membuat lompatan besar  dengan  ide  cemerlang untuk bisa segera menghadirkan  ponsel yang bisa dilipat.

“Samsung meninggalkan ide  futuristic dan datang dengan  paten terbaru  lewat bentuk ponsel mirip  Galaxy tapi bisa dilipat,” tulis “ubergizmo,” Jumat, 03 Juni 2016.

Karena  merupakan ponsel lipat, paten itu menggambarkan adanya sebuah engsel patau lapisan layar yang fleksibel di bagian tengah. Layar ponsel pun patah menjadi dua bagian.

Saat dilipat, sebagaimana ditulis “ubergizmo,”  layar ponsel terbelah dua, saling bertemu, dan tidak ada layar tambahan lain di bagian luar.

Sebelum munculnya paten ini, Samsung pernah membuat ponsel bernama Galaxy Round dengan layar yang fleksibel. Namun layar ponsel tersebut tak bisa dilipat; hanya berbentuk cekung mirip LG G Flex.

Layar lipat di dalam paten Samsung kali ini pun punya potensi terwujud atau justru tidak terwujud sama sekali. Pengajuan sebuah paten memang memberi indikasi terhadap teknologi baru yang sedang digarap, tapi tak lantas berarti teknologi tersebut benar-benar siap dirilis ke konsumen.

Hanya saja perlu dicatat, paten kali ini menampilkan salah satu bentuk ponsel lipat yang paling realistis. Tidak seluruhnya berbentuk layar, dan tidak berbentuk seperti selembar kertas futuristik yang bisa menampilkan berbagai menu.

Sejauh ini, belum ada paten layar lipat yang benar-benar berhasil diwujudkan menjadi sebuah gadget untuk konsumer, baik dari Samsung maupun produsen lain.

Samsung memang terkenal dengan ide-ide gilanya.

Belum lama ini  Samsung  ingin menumpas interaksi  antarmuka perangkat smartwatch  tanpa harus layar raksasa.

Pabrikan Korea Selatan itu sudah mendaftarkan sebuah paten inovatif.

Paten tersebut menyematkan fitur proyektor yang berfungsi memancarkan layar tambahan ke tangan pengguna, sebagaimana dilaporkan SlashGear dan dihimpun KompasTekno, Selasa (17/5/2016).

Uniknya, layar tambahan di bagian tangan tersebut bisa dioperasikan dengan jari pengguna, layaknya layar biasa.

Proyektor bakal dihubungkan dengan sebuah kamera dan sensor lainnya yang bisa mendeteksi jari pengguna. Maka, untuk beberapa keperluan, pengguna tak perlu kesulitan menavigasikan smartwatch lewat layar yang sempit.

Pengguna hanya perlu menekan tombol tertentu yang dipantulkan proyektor ke tangan. Selanjutnya, smartwatch akan mengerjakan perintah pengguna.

Konsep ini diklaim mampu meningkatkan fungsi smartwatch. Jika terealisasi, pengguna dapat mengetik pesan, membalas e-mail, dan melakukan fungsi-fungsi lainnya yang kurang lebih mirip dengan smartphone.

Selain untuk lini smartwatch, teknologi proyektor Samsung juga bisa diimplementasikan pada perangkat realitas virtual.

Namun, belum jelas kapan Samsung akan mengambil langkah konkrit untuk mewujudkan paten tersebut.

Samsung berencana membuat headset virtual reality  yang lebih canggih dari Gear VR.

Headset generasi baru itu bakal bisa dipakai tanpa harus memasangkannya dengan ponsel.

Headset yang dimaksud juga dibekali dengan sensor penentu posisi yang kini sudah dipakai oleh Oculus Rift dan HTC Vive. Ada juga fitur baru seperti pembaca isyarat tubuh dan gerakan tangan.

“Kami sedang mengerjakan perangkat VR mandiri yang bisa dipakai tanpa harus memasangkannya dengan ponsel,” terang Head of R&D for Software and Services Samsung, Injong Rhee dalam sebuah konferensi pengembang aplikasi di San Francisco.

Rhee juga memberi catatan, meski rencana pembuatan headset VR tersebut sudah mulai berjalan, mereka mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk merilisnya ke pasar. Salah satu alasannya adalah karena industri VR cenderung baru, masih dalam tahap “bayi” yang baru lahir.

Seperti ditulisi Variety,  untuk sementara waktu ini, Samsung berusaha memperkuat kinerja pasar headset Gear VR

Headset ini masih membutuhkan ponsel Samsung sebagai layar dan alat komputasinya.

“Kami berpikir bahwa tahun ini pelan-pelan sedang berubah menjadi tahunnya teknologi VR,” ujar Director of Software Development Samsung, Andrew Dickerson.

Komentar