Hoax Yang Bisa Jadi Hoax Lagi

Penulis: Darmansyah

Jumat, 27 Januari 2017 | 15:39 WIB

Dibaca: 0 kali

Satu kata,”hoax,” kini paling “pop” dan sangat “menggoda” banyak komunitas untuk membicarakannya, memaki bahkan “memuja.”

Ya. Hoax kini menjadi fenomena menarik.

Dan apakah sumber hoax bisa dilacak?

Bisa.

Dan salah satu aplikasi yang mengembang itu adalah WhatsApp.

WhatsApp akan menghadirkan fitur di mana penggunanya bisa tahu jika percakapannya di-screenshot.

Kabar bohong ini bermula ketika sebuah situs bernama “8shit” memberitakan WhatsApp mulai tanggal awal Februari mendatang bakal kedatangan fitur yang bisa membuat penggunanya tahu bila ada aktivitas screenshot yang melibatkan percakapan si pengguna.

Kabar bohong ini bahkan melibatkan CEO WhatsApp, Jan Koum.

“Setelah beberapa tahun, kami akhirnya mencapai keputusan untuk menghadirkannya. Fungsi ini sederhana, sama seperti centang biru, Anda akan memiliki opsi untuk mengaktifkannya secara default.”

“ Jika telah tercentang, Anda akan diberi notifikasi jika seseorang telah men-screenshot percakapan Anda, begitupula sebaliknya,” tutur Koum di situs tersebut.

Namun kabar tersebut ternyata hanyalah hoax belaka.

Pasalnya seperti dikutip dari Hoax-Alert, Jumat tengah hari WIB, situs “8shit” ini sendiri memang situs banyolan.

Dalam keterangannya, “8shit” mengaku bahwa situsnya hanya berisi informasi satir atau guyonan.

Meski demikian, hoax yang telah dibuat oleh “8shit” setidaknya berhasil memperdaya sebagian netizen. Tak sedikit malah yang mempertanyakan apakah isu tersebut benar atau tidak.

Memang cara mengetahui berita hoax tidak mudah

Semakin bertambah banyak pengguna internet semakin bertambah banyak juga berita dan informasi yang bisa kita peroleh.

Semakin cepat pula sebuah berita menyebar. Berita yang dikirim oleh seseorang cepat sekali sampai pada orang lain karena ada orang lain yang membagikannya dengan segera.

Benar atau tidaknya berita yang disebarkan tersebut seolah dihiraukan, yang penting terlihat update dimata orang lain kalau bisa mengirimkan informasi terbaru. Ini tentu perilaku yang tidak benar.

nformasi apapun yang kita peroleh sebaiknya diperiksa terlebih dahulu kebenarannya, jangan langsung disebarkan, karena bisa jadi berita tersebut merupakan sebuah kebohongan.

Berita hoax atau bohong sebenarnya bisa kita deteksi dengan beberapa cara, cera ini mungkin tidak seratus persen bisa mengungkap.

Namun langkah ini setidaknya perlu untuk dilakukan apabila menerima sebuah informasi dari dunia maya.

Banyak sekali berita yang tersebar di internet bernada provokatif.

Berita seperti itu tentu untuk tidak langsung dipercaya, perlu dilakukan cross check.

Kita bisa melakukan cross check menggunakan mesin pencari seperti Google, Bing dan lainnya untuk memastikan apakah berita yang Anda terima tersebut ditulis juga oleh situs berita lain, dan pastikan situs yang menuliskannya kredibel dan dikenal luas.

Sangat penting untuk melakukan pengecekan apakah berita yang dikirimkan tersebut berasal dari situs yang bermutu atau tidak.

Cek apakah situs tersebut menggunakan URL yang benar.

Sebagai contoh yang Jurnalweb.com nukil dari laman CNET,  dimana “Sebuah artikel mengklaim Presiden Barack Obama melarang lagu kebangsaan pada acara-acara olahraga AS – Palsu.

Jika Anda bertanya-tanya — berasal dari situs dengan akhiran “.com.de,” yang tidak masuk akal”.

Langkah yang ketiga yang bisa dilakukan adalah dengan mengecek foto yang ada di dalam berita tersebut. Sering kali pembuat berita palsu juga melakukan editing foto untuk memprovokasi para pembaca.

Cara yang bisa Anda lakukan ialah dengan mendownload foto tersebut atau melakukan screenshot. Lalu buka Google Image pada browser Anda lalu seret (drag) foto tersebut ke kolom pencarian Google Image

Kemudian periksa hasilnya untuk mengetahui secara lebih jelas sumber dan caption asli dari foto tersebut.

Penting untuk mengetahui siapa penulis berita tersebut, karena saat ini banyak sekali berita yang dibuat hanya agar menjadi viral di media sosial dan penulisnya kebanjiran uang karena websitenya yang dipasangi iklan tersebut dikunjungi oleh banyak orang.

Hal terakhir mungkin tidak kalah penting yaitu gunakan akal sehat Anda saat membaca berita, jangan terlalu mudah percaya, jangan mudah terpancing, dan jangan ragu untuk mengecek keaslian dan kebenaran sebuah berita yang Anda terima melalui dunia maya.

Pengguna internet ternyata dapat mencegah berita bohong atau hoax tersebar lebih luas dengan mengetahui keaslian dari suatu situs berita.

Caranya adalah dengan layanan whois di Google yang menampilkan detail informasi sebuah situs berita, serta melihat

Tentang Kami pada sebuah situs berita apakah mencantumkan redaksi lengkap atau tidak.

Kita tak bisa membendung arus informasi yang sekarang tengah membanjiri masyarakat lewat teknologi internet. Internet ibarat rimba raya, tanah tak bertuan.

Jika tak dibekali “peta” dan “buku panduan” orang bisa tersesat di dalamnya. Internet banyak memberikan manfaat, tapi juga tak sedikit madharatnya.

Tinggal bagaimana menyikapi dan mensiasatinya. Globalisasi, lebih cepat dari perkiraan, salah satunya didukung teknologi internet.

Internet semakin mudah diakses berkat teknologi smartphone. Menggenggam smartphone sama halnya dengan menggenggam dunia.

Orang bisa melompat dari satu tempat ke tempat lainnya cukup dengan sapuan jari, tanpa harus beranjak dan berpindah tempat.

Itulah dunia tanpa batas yang disebut internet

Nah, untuk mengukur seberapa besar pengaruh internet bagi masyarakat Indonesia, salah satunya, bisa diukur berdasarkan jumlah pengguna internet di negeri ini?

Senada dengan laporan DS, berdasarkan riset Google dan Trans Australia, lima puluh persen pemilik smartphone  menjadikan piranti itu sebagai peralatan telekomunikasi utama, termasuk untuk mengakses internet.

Terlebih mayoritas pengguna di negeri ini berasal dari anak muda yang kebanyakan masih pada tahap pencarian diri, terkadang labil dan mudah dipengaruhi.

Jadi, merebut dan mewarnai internet, terutama media sosial, adalah sebuah pertarungan perebutan masa depan. Jika internet dipenuhi berita hoax yang berisi fitnah, caci maki, adu domba, juga ujaran-ujaran kebencian, maka bisa dibayangkan akan lahir generasi umat manusia seperti apa.

Membendung hoax lewat jalur kekuasaan  bisa saja dilakukan, namun rawan disalahgunakan. Terutama untuk membungkam lawan-lawan politik atau menjinakkan rakyat.

Meskipun agak sedikit lamban, cara paling mudah dan aman adalah menumbuhkan kesadaran kritis di masyarakat, terutama lewat pendidikan, baik pendidikan formal, non-formal, maupun informal.

Komentar