Heboh Skandal Pencurian Data Facebook

Penulis: Darmansyah

Kamis, 22 Maret 2018 | 08:36 WIB

Dibaca: 2 kali

Facebook siap menghadapi skandal pencurian data yang menghebohkan jagat raya tekhnologi  sejak lima hari lalu..

Kesipan Facebook ini diungkapkan langsung oleh CEO-nya, Mark Zuckerberg.

Seperti diberitakan, Facebook sejak Jumat lalu dihempas kabar dugaan penyalahgunaan data lima puluh penggunanya oleh lembaga konsultan publik yang bermarkas di London, Cambridge Analytica.

Informasi pengguna Facebook tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun  lalu.

Seperti ditulis media terkenal “cnn”, Zuckeberg berjanji bakal mengambil serangkaian langkah untuk melindung data dan memperbaiki kepercayaan antara jejaring sosial dan penggunanya.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi data Anda dan jika kami tidak bisa, maka kami zdak pantas untuk melayani Anda,” tulis Zuckeberg dalam unggahan di Facebook.

Ia mengaku telah memahami apa yang terjadi dan memastikan hal tersebut tak bakal terulang lagi.

Untuk itu, Facebook akan mengambil langkah-langkah untuk lebih membatasi akses pengembang ke data pengguna, termasuk secara otomatis menghapus akses untuk aplikasi apa pun tang belum dibuka pengguna setidaknya dalam tiga bulan.

Facebook juga akan mengumumkan alat yang akan membantu pengguna mencabut izin aplikasi untuk mengakses data mereka.

Alat ini akan muncuk di bagian atas laman news feed Facebook pada bulan berikutnya.

Facebook sebelumnya, mengatakan data nasabah yang disalahgunakan itu,awalnya dikumpulkan oleh seorang profesor untuk tujuan akademis sesuai dengan aturannya.

Informasi itu kemudian dipindahkan ke pihak ketiga, termasuk Cambridge Analytica, yang melanggar kebijakan Facebook.

Skandal tersebut membuat Facebook kehilangan lima puluh  miliar dolar  akibat anjloknya harga saham di awal pekan ini, seiring dorongan politisi Amerika Serikat dan Inggris yang memintanya untuk memberikan kesaksian.

“Facebook akan bekerja sama dengan regulator melakukan investigasi terkait masalah Cambridge Analytica,” ungkapnya.

Penyalahgunaan data lima puluh juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica atau CA menjadi salah satu kasus penyalahgunaan data terbesar yang terjadi saat ini.

Dilansir dari The New York Times, CA mengumpulkan data dari mulai identitas pengguna, jaringan pertemanan hingga ‘like’ pengguna di Facebook.

Idenya adalah untuk memetakan kepribadian berdasarkan apa yang orang suka di Facebook, dan kemudian menggunakan informasi tersebut. untuk menargetkan audiens dengan iklan digital.

The New York Times menuliskan periset dari CA pada empat tahun lalu meminta pengguna untuk melakukan survei kepribadian.

Tak hanya itu, pengguna pun diminta untuk mendownload aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.

Pada saat itu, aktivitas tersebut yang diizinkan Facebook. Namun, saat ini sudah dilarang. Sebelumnya, teknik serupa telah dikembangkan oleh Pusat Psikometrik Universitas Cambridge.

Pusat tersebut menolak untuk bekerja sama dengan CA. Sayangnya, ada salah satu profesor yang bersedia.

Aleksandr Kogan, profesor Rusia-Amerika bersedia bekerjasama dan membangun aplikasi sendiri pada Juni empat tahun silam.

Sejak saat itu, dia mengumpulkan data untuk CA.

Dilansir dari CNET, aplikasi tersebut bernama “thisisyourdigitallife”.

Ahli Data Christopher Wylie mengungkapkan Kogan memberikan lebih dari lima puluh  juta profil mentah ke Cambridge Analytica.

“Hanya sekitar dua ratus tujuh puluh ribu pengguna. (mereka yang berpartisipasi dalam survei) telah menyetujui untuk mendapatkan data mereka yang dipanen, meskipun mereka semua diberitahu bahwa itu digunakan untuk penggunaan akademis,” ujarnya kepada The New York Times.

Sementara dari Facebook mengatakan tidak ada kata sandi atau “potongan informasi sensitif” telah diambil, meskipun informasi tentang lokasi pengguna tersedia untuk Cambridge.

Lebih lanjut, Facebook mengungkapkan yang dilakukan CA bukan pelanggaran data.

Namun, perusahaan raksasa internet ini melarang data semacam ini dijual atau ditransfer.

Hal tersebut yang dilakukan Kogan, kepada perusahaan konsultan politik.

Sementara itu, pendiri WhatsApp, Brian mencuitkan bahwa ini saat yang tepat untuk menghapus akun Facebook.

Momentumm krisis yang tengah melanda perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini turut memengaruhi nilai saham perusahaan.

Pemerintah AS menduga Facebook melakukan pelanggaran kesepakatan terkait keamanan data pengguna.

Disamping itu, pemerintah Inggris juga dikabarkan akan menempuh langkah serupa. Zuckerberg dilaporkan akan menempuh jalur investigasi pemilahan hoaks dan berita palsu.

CA diketahui mengumpulkan data mulai dari identitas pengguna, jaringan pertemanan, hingga jumlah ‘like’ pengguna Facebook.

Data-data ini disebut untuk memetakan kepribadian berdasarkan apa yang orang sukai untuk menarget audiens dengan iklan digital.

 The New York Times menuliskan periset dari CA  meminta pengguna untuk melakukan survei kepribadian.

Tak hanya itu, pengguna pun diminta untuk mendownload aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.

Pada saat itu, aktivitas tersebut yang diizinkan Facebook. Namun, saat ini sudah dilarang. Sebelumnya, teknik serupa telah dikembangkan oleh Pusat Psikometrik Universitas Cambridge.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Facebook belum mengeluarkan pernyataan baik berupa sanggahan ataupun mengakui ada pembobolan tersebut.

Keberadaan Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg pun hingga kini masih menjadi teka-teki untuk menjawab krisis yang dihadapi perusahaan.

Komentar