“Hacker” Mengamuk, “Kerjain” Internet Eropa

Penulis: Darmansyah

Kamis, 28 Maret 2013 | 14:44 WIB

Dibaca: 0 kali

Para “hacker” mengamuk dan “mengerjain” internet di kawasan  Eropa  lewat sebuah serangan yang mereka namakan dengan   distributed denial of service (DDoS). Serangan ini  mereka klaim sebagai serbuan terbesar dalam sejarah keberadaan internet.

Biasanya, untuk melancarkan serangan DDoS, si penyerang memanfaatkan server atau botnet untuk mengirimkan traffic palsu kepada target dengan harapan dapat membuat server target menjadi offline atau mati.
Menurut kantor berita Inggris “BBC News,” yang disiarkan beberapa waktu lalu,  kecepatan internet di dunia, khususnya di belahan benua Eropa,  telah mengalami pelambatan.

Pelambatan ini, menurut “BBC News”  tidak disebabkan oleh rusaknya infrastruktur atau ada kabel bawah laut yang terkena jangkar kapal, seperti yang menimpa jaringan internet salah satu operator Indonesia beberapa waktu yang lalu, tetapi karena serangan terncana dari para “hacker.”
Peretas, begitu para “hacker” dinamakan di Indonesia,  diduga memanfaatkan masalah di Domain Name System (DNS) untuk memborbardir server korban dengan traffic internet dari seluruh dunia. Skala serangan ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah karena mampu mencapai 300 GB per detiknya.
Serangan DDoS ini diarahkan ke sebuah perusahaan keamanan jaringan bernama Spamhaus. Perusahaan yang bermarkas di kota Geneva (Swiss) dan London (Inggris) tersebut selama ini bekerja membuat daftar hitam (blacklist) situs-situs web yang dianggap berbahaya.
Daftar hitam tersebut nantinya akan dijual ke berbagai perusahaan penyedia layanan internet (ISP) yang biasanya menggunakan daftar ini sebagai acuan untuk memblokir situs-situs web yang dianggap berbahaya.
Seperti dikutip dari Mashable, Kamis (28/3/2013), daftar hitam itu diperkirakan “bertanggung jawab” terhadap pemblokiran 80 persen spam e-mail di seluruh dunia. Spamhaus sendiri dikabarkan menjadi korban serangan DDoS setelah menambahkan Cyberbunker, sebuah penyelengara internet asal Belanda, dalam daftar hitamnya.
Cyberbunker adalah sebuah layanan penyimpanan data yang mengizinkan penggunanya untuk menyimpan semua data, kecuali pornografi anak dan hal-hal yang berkaitan dengan teroris.
Sepertinya, pihak-pihak di balik Cyberbunker atau bersimpati dengannya murka atas tindakan pemblokiran tersebut, kemudian mereka pun melakukan serangan balasan dendam. Meski Cyberbunker sebenarnya tidak dituduh bertanggung jawab atas serangan ini, seorang yang mengaku sebagai juru bicara Cyberbunker, Sven Olaf Kamphuis, memberikan sebuah pernyataan yang membuat perusahaan tersebut menjadi tertuduh.
Kepada BBC, Kamphuis menyatakan, Spamhaus tidak seharusnya dapat menentukan “apa yang boleh dan tidak di internet”. Steve Linford, kepala eksekutif Spamhaus, kepada BBC, mengatakan, skala serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya.”Kita dalam serangan cyber selama lebih dari seminggu,” katanya.
“Tetapi, mereka tidak bisa meruntuhkan kami. Teknisi kami melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk menangkal serangan.” Linford mengatakan pasukan polisi internet dari lima negara kini tengah menyelidiki serangan cyber ini.

Walau pun mampu mencegah dengan cepat  perluasan serangan atas pelumpuhan seluruh jaringan di Eropa, para pemakain internet di belahan dunia itu  sangat terkejut ketika menemukan pelambatan akses mereka.  Jutaan klaim disampaikan sebagai protes atas kejadian ini. Namun protes ini mengalami “error.”

Para operator internet Eropa memberitahu “BBC News.” Kasus pelambatan ini sudah bisa ditangani dan kini jaringan internet di Eropa sudah pulih kembali.

Komentar