Google Plus Dimatisurikan Sepuluh Bulan

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 Oktober 2018 | 09:31 WIB

Dibaca: 1 kali

Nama Google+  dan Anda harus membacanya dengan Google Plus  kembali menjadi perbincangan publik setelah ditemukan ada kebocoran ratusan ribu data pribadi penggunannya.

Dan untuk Anda tahu juga Google Plus akan mati suri selama sepuluh bulan

Alphabet Inc, induk perusahaan Google akan menutup layanan jejaring sosial Google+ karena dugaan kebocoran data pengguna. Namun, penutupan itu tidak bersifat permanen.

Google+ hanya menutup aplikasi selama sepuluh bulan hingga Agustus tahun depan. Dilansir dari Reuters, Google gagal memperketat kebijakan pembagian data setelah mengumumkan data profil pribadi dari setidaknya lima ratus ribu pengguna bocor ke pihak pengembang eksternal.

Masalah ini ditemukan pada Maret lalu sebagai bagian dari tinjauan tentang bagaimana Google berbagi data dengan aplikasi lain.

Google mengatakan dalam posting blog resminya tidak ada pengembang yang mengeksploitasi kerentanan atau data yang disalahgunakan.

Google telah mendeteksi bug ini sejak Maret lalu dan memilih untuk tidak melaporkannya karena takut akan pengawasan dari regulator.

Dilansir dari The Verge, Google takut untuk melaporkan bug ini mengingat masalah kebocoran data yang sedang dialami Facebook.

Padahal bug ini mengekspos informasi akun Google+ seperti nama, alamat email, pekerjaaan, jenis kelamin dan usia. Data itu tetap terekspos meskpiun pengaturan privasi telah disetel “private” bukan “public”.

Smith dalam keterangan resmi memberikan alasan mengapa tidak mengungkap langsung bug pada saat ditemukan.

“Setiap tahun, kami mengirim jutaan pemberitahuan kepada pengguna tentang bug dan masalah privasi dan keamanan. Kapan pun data pengguna mungkin terpengaruh, kami melampaui persyaratan hukum kami dan menerapkan beberapa kriteria yang difokuskan kepada pengguna kami untuk menentukan pemberian pemberitahuan.

“Privacy & Data Protection Office kami meninjau masalah ini, melihat jenis data yang terlibat, apakah kami dapat mengidentifikasi pengguna dengan akurat, apakah ada bukti penyalahgunaan, dan apakah ada tindakan yang dapat diambil oleh pengembang atau pengguna sebagai respon. Tak satu pun dari hal ini yang terpenuhi,” tulis Smith dalam blog resmi.

Sebelum temuan ini, Google Plus sendiri masih kalah dibandingkan layanan lain serupa.

Sekadar informasi, Google+ dikembangkan untuk merambah pasar media sosial. Diluncurkan pertama kali pada tujuh tahun lalu, layanan ini dimaksudkan dapat bersaing dengan Facebook atau Twitter.

Namun, layanan ini ternyata tidak berkembang jauh. Secara teknis, jumlah pengguna Google+ sebenarnya tidak kalah dari jejaring sosial lain, bahkan salah satu yang terbesar.

Alasannya, Google memberlakukan sistem ‘satu akun untuk semua layanan’. Dengan kata lain, pemilik akun Gmail otomatis memiliki akun di layanan lain, seperti Google Drive, Google Play Store, termasuk Google+.

Kendati demikian, tidak banyak pemilik akun Google yang aktif di layanan ini. Dikutip dari Business Insider,  masalah Google+ ini sebenarnya sudah lama diprediksi.

Menurut mantan pegawai Google, layanan ini dianggap masih sulit dipakai oleh para pengguna. Sumber lain menyebut layanan ini terlambat hadir di perangkat mobile, sehingga tidak pernah dilirik oleh pengguna.

Alasan lain adalah tidak sepenuhnya internal Google mendukung produk ini. Terlebih, setelah sosok penting di balik Google+, Vic Gundotra, mundur pada empat tahun silam.

Google+ sendiri kini dilaporkan akan segera ditutup. Keputusan ini diambil usai ada celah keamanan yang membuat pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google+.

Sekadar informasi, Google dikabarkan akan menutup layanan media sosialnya, Google+. Alasannya tak lain karena perusahaan baru saja mengungkap kalau Google+ kebocoran ratusan ribu data pribadi penggunanya.

Dilansir Reuters pada Selasa (9/10/2018), penyebab kebocoran data pengguna ditengarai berasal dari sebuah bug API di dalam platform, yang bisa memberikan akses kepada pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google+.

Google sendiri mengklaim kalau sampai detik ini belum ada pengembang yang berani untuk mengakses data pengguna dari bug tersebut.

Dalam blog resmi terbaru Google, perusahaan mengungkap berapa banyak data pengguna yang bocor.

Ada sekitar lima ratus ribuakun pengguna yang datanya bocor, sedangkan ada 438 aplikasi pihak ketiga yang kemungkinan bisa saja mengakses data pribadi pengguna dari bug tersebut.

Adapun data yang bocor meliputi nama pengguna, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin.

“Kami belum menemukan bukti kalau ada pengembang yang sudah sadar akan bug ini, atau menyalahgunakan API. Kami juga belum menemukan ada satu data pun yang disalahgunakan,”ujar VP Engineering Google Ben Smith.

Google sendiri mengakui kalau bug tersebut sebetulnya sudah ditambal sejak Maret lalu.

Tidak dapat dipastikan apakah Google+ bakal ‘hidup’ kembali atau benar-benar dimatikan secara permanen.

Alih-alih demikian, Google nantinya dikabarkan bakal merombak izin akun untuk memungkinkan pengguna memilih data yang ingin dibagikan kepada aplikasi pihak ketiga.

Tak cuma itu, Google juga akan membatasi kemampuan aplikasi pihak ketiga untuk bisa mengakses data penggunanya.

Komentar